Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rahasia Arah Tawaf Ka'bah, Ternyata Mirip Gerak Planet di Alam Semesta

Kompas.com, 9 Juni 2026, 08:54 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Jutaan umat Islam dari seluruh dunia melakukan gerakan yang sama ketika menunaikan ibadah haji dan umrah: mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali dengan arah berlawanan jarum jam.

Pemandangan ini terlihat setiap hari di Masjidil Haram. Dari atas, ribuan hingga ratusan ribu jemaah bergerak membentuk lingkaran besar yang terus berputar mengelilingi Baitullah tanpa henti.

Namun, pernahkah muncul pertanyaan di benak sebagian orang: mengapa tawaf dilakukan berlawanan arah jarum jam? Mengapa bukan searah jarum jam? Apakah ada alasan ilmiah di balik tata cara tersebut?

Pertanyaan ini sering muncul terutama ketika sejumlah penulis dan peneliti muslim mengaitkan arah tawaf dengan berbagai fenomena alam semesta, mulai dari gerakan planet, orbit bulan, hingga struktur atom.

Meski demikian, para ulama menegaskan bahwa alasan utama tawaf dilakukan dengan arah tertentu bukanlah karena teori sains, melainkan karena mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.

Adapun keselarasan dengan fenomena alam dipandang sebagai hikmah yang dapat menambah kekaguman terhadap kebesaran Allah SWT.

Lalu bagaimana sebenarnya penjelasannya?

Tawaf, Ibadah yang Sudah Ada Sejak Zaman Nabi-Nabi

Dalam buku Ensiklopedia Fikih Indonesia: Haji dan Umrah karya Ahmad Sarwat dijelaskan bahwa tawaf merupakan ibadah mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran dengan posisi Ka'bah berada di sebelah kiri jemaah.

Ibadah ini termasuk rukun haji dan umrah yang tidak boleh ditinggalkan.

Tradisi tawaf sendiri bukanlah ibadah yang baru muncul pada masa Rasulullah SAW.

Dikutip dari buku Sejarah Ibadah karya Syahruddin El Fikri, setelah Ka'bah dibangun, Nabi Adam AS diperintahkan Allah SWT untuk melakukan tawaf sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya.

Tradisi tersebut kemudian diwariskan kepada generasi para nabi berikutnya, termasuk Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS setelah keduanya menyelesaikan pembangunan Ka'bah.

Dalam kitab Bidayah wa an-Nihayah, Imam Ibnu Katsir juga menyebut sejumlah riwayat yang menjelaskan bahwa para nabi terdahulu pernah datang ke Baitullah untuk beribadah.

Karena itu, tawaf bukan sekadar ritual fisik, melainkan simbol kesinambungan ibadah tauhid sejak zaman para nabi hingga hari ini.

Baca juga: Jemaah Haji Diimbau Tak Langsung Tawaf Ifadah Usai dari Mina

Mengapa Tawaf Harus Berlawanan Arah Jarum Jam?

Secara fikih, jawabannya sederhana: karena demikianlah Rasulullah SAW melakukannya.

Dalam berbagai hadis sahih dijelaskan bahwa Nabi SAW melakukan tawaf dengan Ka'bah berada di sebelah kiri beliau.

Para sahabat kemudian mengikuti tata cara tersebut dan diwariskan kepada generasi muslim berikutnya.

Dalam ilmu usul fikih, tata cara ibadah seperti ini dikenal sebagai ibadah tauqifiyah, yaitu ibadah yang tata caranya ditentukan langsung oleh syariat dan tidak boleh diubah berdasarkan logika manusia.

Artinya, seorang muslim tidak perlu mencari alasan rasional terlebih dahulu untuk melaksanakannya. Ketika Rasulullah SAW memberikan contoh, maka itulah pedoman utama.

Karena itu, meskipun muncul berbagai penjelasan ilmiah mengenai arah tawaf, dasar pelaksanaannya tetaplah sunnah Rasulullah SAW.

Fenomena Alam yang Sering Dikaitkan dengan Arah Tawaf

Menariknya, sejumlah ilmuwan muslim dan penulis modern melihat adanya pola gerakan yang mirip antara tawaf dan berbagai sistem di alam semesta.

Dalam buku Ka'bah Rahasia Kiblat Dunia karya Muhammad Abdul Hamid Asy-Syarqawi dan Muhammad Raja'i Ath-Thahlawi disebutkan bahwa banyak benda langit bergerak dengan pola rotasi dan revolusi yang tampak serupa dengan arah tawaf.

Fenomena tersebut antara lain:

1. Bulan Mengelilingi Bumi

Bulan mengorbit bumi secara terus-menerus dalam jalur tertentu. Jika diamati dari Kutub Utara Bumi, arah pergerakan orbit bulan tampak berlawanan arah jarum jam.

Fenomena ini sering dijadikan salah satu contoh keselarasan antara gerakan benda langit dan arah tawaf.

2. Bumi Mengelilingi Matahari

Planet bumi bergerak mengelilingi matahari dalam orbit yang teratur.

Dalam perspektif astronomi, arah revolusi bumi juga tampak berlawanan arah jarum jam jika diamati dari atas Kutub Utara tata surya. Gerakan ini berlangsung tanpa henti selama miliaran tahun.

3. Planet-Planet di Tata Surya

Tidak hanya bumi, sebagian besar planet dalam tata surya bergerak mengelilingi matahari dengan arah yang sama.

Keteraturan ini menjadi salah satu bukti keteraturan hukum alam yang diciptakan Allah SWT.

4. Tata Surya Mengelilingi Pusat Galaksi

Fakta yang lebih menakjubkan adalah bahwa matahari beserta seluruh tata surya juga bergerak mengelilingi pusat Galaksi Bima Sakti.

Menurut berbagai literatur astronomi populer, satu kali putaran penuh membutuhkan waktu sekitar 225 hingga 250 juta tahun.

Gerakan raksasa ini kembali menunjukkan bahwa alam semesta dipenuhi sistem orbit dan perputaran yang sangat teratur.

Baca juga: Buku Saku Haji 2026 Gratis, Berisi Doa Lengkap dari Berangkat hingga Tawaf Wada

Benarkah Elektron Berputar seperti Tawaf?

Salah satu penjelasan yang paling sering beredar adalah bahwa elektron mengelilingi inti atom seperti jemaah yang mengelilingi Ka'bah.

Dalam buku-buku populer bertema sains Islam, analogi ini kerap digunakan untuk menggambarkan keselarasan antara mikro kosmos dan makro kosmos.

Namun para ilmuwan modern menjelaskan bahwa model atom saat ini lebih kompleks dibandingkan gambaran elektron yang berputar seperti planet mengelilingi matahari.

Dalam fisika kuantum, elektron tidak selalu bergerak dalam lintasan melingkar yang pasti, melainkan berada dalam probabilitas lokasi tertentu yang disebut orbital.

Karena itulah, analogi elektron dan tawaf sebaiknya dipahami sebagai ilustrasi sederhana, bukan penjelasan ilmiah yang sepenuhnya identik.

Mengapa Ka'bah Menjadi Pusat Pergerakan Jemaah?

Selain persoalan arah, ada makna simbolik yang sangat mendalam dalam tawaf. Selama tawaf, seluruh perhatian jemaah tertuju pada satu titik yang sama, yaitu Ka'bah.

Dalam buku Rahasia Haji dan Umrah karya Muhammad Syafii Antonio dijelaskan bahwa Ka'bah menjadi simbol persatuan umat Islam di seluruh dunia.

Berbeda suku, bangsa, bahasa, warna kulit, dan status sosial, seluruh jemaah bergerak dalam satu lingkaran yang sama.

Tidak ada jalur khusus untuk orang kaya maupun orang miskin. Tidak ada perbedaan antara pejabat dan rakyat biasa. Semua berdiri sejajar di hadapan Allah SWT.

Baca juga: Doa Shalat Sunnah Dua Rakaat Setelah Tawaf: Arab, Latin, dan Artinya

Perspektif Spiritual di Balik Putaran Tawaf

Para ulama tasawuf melihat tawaf bukan sekadar gerakan fisik mengelilingi bangunan berbentuk kubus.

Dalam buku Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali dijelaskan bahwa inti ibadah adalah menghadirkan hati untuk selalu berpusat kepada Allah SWT.

Karena itu, tawaf sering dimaknai sebagai simbol bahwa kehidupan manusia seharusnya selalu berputar mengelilingi ketaatan kepada Allah, bukan mengelilingi hawa nafsu, harta, jabatan, atau kepentingan dunia.

Sebagaimana planet memiliki pusat orbitnya, manusia juga membutuhkan pusat kehidupan yang menjadi arah tujuan.

Dalam Islam, pusat itu adalah Allah SWT.

Antara Syariat dan Sains

Para ulama mengingatkan bahwa teori-teori sains mengenai arah tawaf tidak boleh dijadikan alasan utama untuk membenarkan ibadah.

Sebab jika suatu saat teori ilmiah berubah atau berkembang, hukum tawaf tetap tidak berubah.

Dalam Islam, dasar pelaksanaan tawaf adalah dalil syariat yang bersumber dari Al-Quran, hadis, dan praktik Rasulullah SAW.

Sains hanya membantu manusia memahami sebagian kecil hikmah yang mungkin terkandung di balik sebuah ibadah.

Karena itu, ketika ditemukan keselarasan antara arah tawaf dan berbagai fenomena alam, hal tersebut dapat menjadi tambahan wawasan dan kekaguman terhadap ciptaan Allah SWT, bukan pengganti dalil agama.

Pada akhirnya, alasan utama tawaf mengelilingi Ka'bah berlawanan arah jarum jam adalah karena itulah tata cara yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Namun menariknya, sejumlah fenomena di alam semesta juga menunjukkan pola gerakan yang serupa, mulai dari orbit bulan, revolusi bumi, hingga pergerakan galaksi.

Bagi seorang muslim, keselarasan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa seluruh alam semesta bergerak dalam keteraturan yang ditetapkan Allah SWT.

Sementara manusia, melalui tawaf, diajak untuk menempatkan Allah sebagai pusat kehidupan sebagaimana Ka'bah menjadi pusat pergerakan jutaan jemaah di Tanah Suci.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar