Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Serangan Jantung Akut, Jamaah Haji Banyuwangi Wafat di Tanah Suci

Kompas.com, 9 Juni 2026, 16:30 WIB
Fitri Anggiawati,
Khairina

Tim Redaksi

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Seorang jemaah haji asal Banyuwangi, Jawa Timur bernama Syuwandi bin Saji (78), warga Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat, meninggal dunia di Tanah Suci setelah mengalami serangan jantung akut.

Jamaah yang tergabung dalam Kloter 84 tersebut mengembuskan napas terakhir pada Minggu (7/6/2026) pukul 23.55 Waktu Arab Saudi (WAS) di King Faisal Hospital, Mekkah.

Berdasarkan laporan Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI), kondisi kesehatan almarhum mulai menurun sejak 5 Juni 2026.

Saat itu, ia mengalami badan lemas, nafsu makan menurun, serta tekanan darah yang sangat rendah.

"Petugas kesehatan kemudian melakukan pemeriksaan dan observasi sebelum akhirnya merujuk almarhum ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut," kata Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, Amir Hidayat, Senin (8/6/2026).

Baca juga: Jemaah Haji Lebak Meninggal karena Jatuh di Tempat Wudhu Makkah

Hasil pemeriksaan medis menunjukkan Syuwandi mengalami ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI) atau serangan jantung akut berat akibat penyumbatan pada pembuluh darah koroner.

Selama menjalani perawatan, tim medis telah memberikan terapi trombolitik untuk melancarkan aliran darah ke jantung serta melakukan perawatan intensif di ruang ICU.

Namun, kondisi pasien terus memburuk dan berkembang menjadi syok kardiogenik, yakni kondisi ketika jantung tidak mampu memompa darah secara efektif sehingga tekanan darah turun drastis dan organ-organ tubuh kekurangan pasokan darah.

"Meski telah mendapatkan penanganan intensif, nyawa almarhum tidak dapat diselamatkan," terang Amir.

Amir menyebut, penyakit jantung dan gangguan pernapasan masih menjadi masalah kesehatan yang paling sering dialami jemaah lanjut usia maupun kelompok risiko tinggi selama pelaksanaan ibadah haji.

Hingga 8 Juni 2026, dari total 1.317 jemaah haji Banyuwangi yang tergabung dalam Kloter 82 hingga 85, sebanyak 401 orang atau sekitar 30,4 persen masuk kategori risiko tinggi dan terus mendapatkan pemantauan kesehatan dari petugas.

Dengan wafatnya Syuwandi, jumlah jemaah haji Banyuwangi yang meninggal dunia di Tanah Suci bertambah menjadi empat orang.

Baca juga: Tak Ada Riwayat Sakit, Jemaah Haji Jember Meninggal dalam Tidur di Mekkah

Selain kasus kematian, sejumlah jemaah juga sempat menjalani perawatan di fasilitas kesehatan Arab Saudi akibat gangguan pernapasan, penyakit jantung, dehidrasi, hingga kelelahan fisik setelah menjalani rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Meski demikian, secara umum kondisi kesehatan jemaah haji Banyuwangi masih terkendali.

Sebagian besar jemaah dapat menjalankan rangkaian ibadah dengan baik.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Dinas Kesehatan disebutnya terus berkoordinasi dengan Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI), Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), serta petugas kloter untuk memastikan pemantauan kesehatan jemaah, khususnya lansia dan kelompok risiko tinggi, berjalan optimal hingga seluruh jemaah kembali ke tanah air.

"Kami mengajak masyarakat Banyuwangi untuk mendoakan para jemaah yang masih berada di Tanah Suci agar senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, dan kemudahan dalam menyempurnakan ibadah hajinya," tandasnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar