Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Doa untuk Keselamatan Negeri dari Kezaliman dan Ketidakadilan

Kompas.com, 12 Juni 2026, 06:36 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Dalam sejarah peradaban manusia, bangkit dan runtuhnya sebuah bangsa sering kali berkaitan erat dengan kualitas pemimpinnya.

Ketika kekuasaan dijalankan dengan adil, masyarakat dapat hidup dalam ketenteraman, hukum ditegakkan, dan kesejahteraan lebih mudah dirasakan.

Sebaliknya, ketika kekuasaan berubah menjadi alat untuk menindas, korupsi merajalela, dan keadilan dipinggirkan, maka benih-benih kerusakan mulai tumbuh di tengah kehidupan berbangsa.

Fenomena ini bukan hanya tercatat dalam buku-buku sejarah, tetapi juga menjadi pelajaran yang berulang dalam perjalanan umat manusia.

Banyak negeri yang awalnya kuat dan makmur akhirnya mengalami kemunduran akibat kepemimpinan yang tidak amanah.

Baca juga: Ancaman bagi Pemimpin Zalim dalam Islam

Oleh karena itu, Islam memberikan perhatian besar terhadap persoalan kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak hanya bertanggung jawab di hadapan rakyat, tetapi juga akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT atas setiap kebijakan dan keputusan yang diambilnya.

Di tengah berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang dihadapi suatu bangsa, umat Islam dianjurkan untuk tidak hanya mengeluh atau mengkritik.

Ada satu ikhtiar yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu berdoa agar Allah melindungi negeri dari pemimpin yang zalim dan menganugerahkan pemimpin yang adil, amanah, serta berpihak kepada kemaslahatan rakyat.

Kepemimpinan dalam Islam Adalah Amanah Besar

Islam memandang jabatan bukan sebagai kehormatan semata, melainkan amanah yang sangat berat.

Dalam banyak hadis, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa kepemimpinan akan menjadi sebab keselamatan atau justru penyesalan pada hari kiamat.

Rasulullah SAW bersabda:

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa kepemimpinan memiliki dimensi spiritual yang sangat kuat. Seorang kepala negara, gubernur, bupati, hingga pemimpin dalam lingkup keluarga akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang diembannya.

Dalam kitab Al-Ahkam As-Sulthaniyyah karya Al-Mawardi dijelaskan bahwa tugas utama pemimpin adalah menjaga agama, menegakkan keadilan, melindungi rakyat, dan mengelola urusan publik demi kemaslahatan bersama.

Ketika fungsi-fungsi tersebut tidak dijalankan, maka lahirlah berbagai bentuk kezaliman yang dapat merugikan masyarakat luas.

Baca juga: 5 Doa Nabi Yusuf agar Wajah Bercahaya dan Dijaga dari Fitnah

Mengapa Pemimpin Zalim Menjadi Ancaman bagi Negeri?

Kezaliman tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan atau penindasan yang tampak jelas. Dalam perspektif Islam, kezaliman juga bisa berupa penyalahgunaan kekuasaan, pengabaian hak rakyat, ketidakadilan hukum, korupsi, serta kebijakan yang hanya menguntungkan kelompok tertentu.

Dalam kitab Muqaddimah, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa salah satu penyebab runtuhnya peradaban adalah ketidakadilan yang dilakukan oleh penguasa. Ketika keadilan hilang, kepercayaan masyarakat melemah, ekonomi terganggu, dan stabilitas sosial mulai rapuh.

Allah SWT juga mengingatkan dalam Al-Qur'an bahwa kezaliman akan membawa kerugian.

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ

Wa lā taḥsabannallāha ghāfilan 'ammā ya'maluẓ-ẓālimūn.

Artinya: "Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim." (QS. Ibrahim: 42)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa tidak ada kezaliman yang luput dari pengawasan Allah SWT.

Doa agar Negeri Dijauhkan dari Pemimpin yang Zalim

Salah satu doa yang dapat dipanjatkan untuk memohon perlindungan dari kepemimpinan yang buruk adalah:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ وُلَاةِ الْجَوْرِ وَسُوءِ الْأَئِمَّةِ، وَنَسْأَلُكَ وُلَاةَ عَدْلٍ رُحَمَاءَ يَهْدُونَا بِالْحَقِّ وَيَحْكُمُونَا بِالْعَدْلِ

Allahumma innā na'ūdzu bika min wulātil-jauri wa sū'il-a'immati, wa nas'aluka wulāta 'adlin ruḥamā'a yahdūnanā bil-haqqi wa yaḥkumūnanā bil-'adl.

Artinya: "Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari para penguasa yang zalim dan pemimpin yang buruk. Kami memohon kepada-Mu pemimpin yang adil dan penuh kasih sayang, yang membimbing kami dengan kebenaran dan memimpin kami dengan keadilan."

Doa ini berisi dua harapan besar sekaligus. Pertama, perlindungan dari kepemimpinan yang membawa kerusakan.

Kedua, permohonan agar Allah menghadirkan pemimpin yang mampu menegakkan keadilan dan menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat.

Baca juga: Doa Kafaratul Majelis Lengkap Arab, Latin, dan Arti serta Keutamaannya

Doa Rasulullah SAW untuk Pemimpin yang Menyulitkan Rakyat

Rasulullah SAW pernah mengajarkan doa yang sangat relevan terkait kepemimpinan.

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

Allahumma man waliya min amri ummatī syai'an fasyaqqa 'alaihim fasyquq 'alaihi, wa man waliya min amri ummatī syai'an farafaqa bihim farfuq bih.

Artinya: "Ya Allah, siapa yang mengurus urusan umatku lalu ia menyulitkan mereka, maka persulitlah urusannya. Dan siapa yang mengurus urusan umatku lalu ia berlaku lembut kepada mereka, maka perlakukanlah ia dengan kelembutan-Mu." (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap kesejahteraan rakyat. Pemimpin yang menyulitkan masyarakat mendapat peringatan keras, sementara pemimpin yang melayani dengan kasih sayang mendapat doa langsung dari Rasulullah SAW.

Memohon Pemimpin yang Adil dalam Al-Qur'an

Walaupun Al-Qur'an tidak memuat doa khusus yang menyebut pemimpin secara eksplisit, terdapat doa yang dapat dipanjatkan untuk memohon hadirnya orang-orang saleh yang membawa kebaikan bagi masyarakat.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Rabbanā hab lanā min azwājinā wa dzurriyyātinā qurrata a'yunin waj'alnā lil-muttaqīna imāmā.

Artinya: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan: 74)

Ayat ini mengandung harapan agar lahir generasi pemimpin yang bertakwa dan mampu menjadi teladan dalam masyarakat.

Baca juga: Doa Akhir Tahun 1447 H Lengkap Arab, Latin, Arti dan Waktu Membacanya

Doa Saja Tidak Cukup, Perlu Ikhtiar Bersama

Islam mengajarkan keseimbangan antara doa dan usaha. Dalam buku Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tawakal tidak berarti meninggalkan ikhtiar, tetapi menggabungkan usaha maksimal dengan ketergantungan penuh kepada Allah.

Karena itu, mendoakan negeri agar terhindar dari pemimpin zalim perlu diiringi dengan berbagai ikhtiar nyata, seperti meningkatkan pendidikan, memperkuat budaya kejujuran, mengawasi jalannya pemerintahan secara konstruktif, serta mendukung lahirnya pemimpin yang berintegritas.

Doa menjadi kekuatan spiritual, sementara ikhtiar menjadi bentuk tanggung jawab sosial.

Ketika Keadilan Menjadi Sebab Turunnya Keberkahan

Dalam banyak literatur Islam disebutkan bahwa keadilan merupakan fondasi utama tegaknya sebuah negeri. Bahkan para ulama sering mengutip sebuah hikmah yang berbunyi:

"Allah menegakkan negara yang adil meskipun tidak beriman, dan tidak menegakkan negara yang zalim meskipun beriman."

Pesan ini menunjukkan bahwa keadilan memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Ketika pemimpin berlaku adil, rakyat merasa aman. Ketika hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, kepercayaan tumbuh. Ketika kepentingan umum lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi atau kelompok, keberkahan lebih mudah hadir dalam kehidupan berbangsa.

Harapan untuk Bangsa yang Adil

Doa untuk negeri agar dijauhkan dari pemimpin yang zalim bukanlah bentuk pesimisme terhadap keadaan.

Sebaliknya, doa merupakan ekspresi harapan dan ikhtiar spiritual agar Allah SWT menjaga bangsa dari berbagai bentuk ketidakadilan.

Sebagai umat Islam, kita dianjurkan memohon kepada Allah agar diberikan pemimpin yang amanah, adil, jujur, dan mencintai rakyatnya.

Namun pada saat yang sama, kita juga dituntut untuk berperan aktif menjaga nilai-nilai keadilan dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga Allah SWT melindungi negeri ini dari kezaliman, menghadirkan pemimpin-pemimpin yang bijaksana, serta menjadikan bangsa ini senantiasa berada dalam keberkahan, kedamaian, dan kemakmuran.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar