Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fakta Malam 1 Suro dalam Islam, Benarkah Identik dengan Mitos dan Hal Mistis?

Kompas.com, 15 Juni 2026, 16:28 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Malam 1 Suro kerap dianggap sebagai malam yang sakral dan penuh nuansa mistis oleh sebagian masyarakat Jawa.

Berbagai mitos berkembang di tengah masyarakat, mulai dari anggapan sebagai malam yang membawa kesialan hingga dikaitkan dengan kemunculan makhluk gaib.

Tidak sedikit pula yang meyakini malam tersebut sebagai waktu yang kurang baik untuk melakukan aktivitas tertentu atau sebagai momentum ruwatan untuk membuang kesialan.

Baca juga: Sejarah dan Makna malam 1 Suro dalam kalender Jawa-Islam

Namun dalam ajaran Islam, malam 1 Suro atau 1 Muharram justru memiliki makna yang berbeda karena berkaitan dengan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT.

Malam 1 Suro dan Beragam Mitos yang Berkembang

Malam 1 Suro dikenal luas dalam tradisi masyarakat Jawa sebagai malam yang dianggap sakral.

Baca juga: Sejarah 1 Muharram Jadi Tahun Baru Islam, Ternyata Bukan Ditetapkan pada Masa Nabi

Berbagai kepercayaan turun-temurun menyebut malam tersebut sebagai waktu yang penuh misteri dan sering dikaitkan dengan penampakan maupun gangguan makhluk halus.

Pada masa lalu, sebagian masyarakat kejawen juga meyakini bahwa musibah dan bencana lebih mungkin terjadi pada malam 1 Suro.

Karena itu, muncul berbagai tradisi yang dipercaya dapat menghindarkan seseorang dari kesialan, termasuk ritual ruwatan.

Meski demikian, pandangan tersebut berbeda dengan pemahaman dalam Islam yang memandang Muharram sebagai bulan yang memiliki keutamaan dan kemuliaan.

Muharram Termasuk Bulan Haram dalam Islam

Dalam Islam, Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram atau bulan suci yang dimuliakan.

Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu." (QS. At Taubah: 36)

Keutamaan empat bulan haram juga dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah.

Menurut Abu Bakroh, Nabi Muhammad S.A.W bersabda, "Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi.

Artinya dalam satu tahun ada 12 bulan, diantara ada empat bulan haram (suci). Bulan tersebut adalah Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban." (HR. Bukhari) 

Menurut Al Qodhi Abu Ya'la rahimahullah, terdapat dua makna mengapa bulan tersebut disebut bulan haram.

Pertama, karena pada bulan tersebut diharamkan berbagai bentuk pembunuhan.

Kedua, karena larangan melakukan perbuatan buruk lebih ditekankan mengingat kedudukannya yang lebih mulia dibanding bulan lainnya.

Bulan Muharram Disebut Syahrullah atau Bulan Allah

Muharram juga memiliki keistimewaan lain karena disebut sebagai Syahrullah atau Bulan Allah.

Hal tersebut dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW:

"Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara salat yang paling utama setelah shalat wajib adalah salat malam." (HR. Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan besarnya keutamaan bulan Muharram dalam Islam, termasuk dianjurkannya memperbanyak amalan ibadah selama bulan tersebut.

Pandangan Islam tentang Misteri Malam 1 Suro

Dalam ajaran Islam, mencela waktu, termasuk bulan tertentu, merupakan perbuatan yang dilarang.

Anggapan bahwa suatu waktu membawa kesialan atau menjadi penyebab musibah tidak sejalan dengan ajaran Islam.

Perilaku semacam itu disebut sebagai kebiasaan orang-orang kafir jahiliyah yang menganggap waktu sebagai penyebab datangnya malapetaka.

Allah SWT berfirman:

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa (waktu)’, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al Jatsiyah [45] : 24).

Karena itu, malam 1 Suro dalam perspektif Islam bukanlah malam yang identik dengan kesialan atau berbagai mitos menakutkan.

Sebaliknya, malam yang menandai datangnya bulan Muharram tersebut merupakan bagian dari bulan suci yang dimuliakan dan menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, introspeksi diri, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul "Fakta-Fakta Tentang Malam 1 Suro dalam Islam",

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com