KOMPAS.com – Setiap kali malam 1 Muharram tiba, sebagian masyarakat Jawa menyambutnya dengan suasana yang berbeda dibanding malam-malam lainnya.
Ada yang menggelar tirakatan, doa bersama, zikir, hingga ritual budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun.
Di sisi lain, malam yang dikenal sebagai malam satu Suro ini juga identik dengan berbagai mitos dan larangan.
Sebagian masyarakat meyakini bahwa malam tersebut merupakan waktu yang sakral sehingga tidak boleh digunakan untuk mengadakan pesta, menikah, membangun rumah, bahkan ada yang memilih tidak keluar rumah sama sekali.
Kepercayaan-kepercayaan tersebut masih dapat ditemukan di berbagai daerah hingga saat ini. Meski demikian, muncul pertanyaan yang cukup penting, apakah larangan-larangan tersebut memang memiliki dasar dalam ajaran Islam, ataukah hanya bagian dari tradisi budaya yang berkembang di masyarakat?
Pertanyaan ini menarik dibahas karena malam satu Suro sesungguhnya bertepatan dengan 1 Muharram, yaitu awal tahun dalam kalender Hijriah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam.
Lantas, bagaimana sebenarnya Islam memandang berbagai larangan malam satu Suro yang selama ini dipercaya sebagian masyarakat Jawa?
Dalam tradisi Jawa, bulan Muharram dikenal dengan nama Suro. Menurut buku Misteri Bulan Suro: Perspektif Islam Jawa karya Muhammad Sholikhin, istilah Suro berasal dari kata Asyura, yaitu hari kesepuluh bulan Muharram yang memiliki nilai penting dalam sejarah Islam.
Seiring perjalanan waktu, istilah tersebut kemudian digunakan masyarakat Jawa untuk menyebut keseluruhan bulan Muharram.
Tradisi Jawa memandang bulan Suro sebagai bulan yang sakral dan penuh perenungan. Karena itulah berbagai ritual budaya, tirakatan, semedi, hingga kegiatan spiritual sering dilakukan pada malam pertama bulan tersebut.
Dalam perspektif Islam sendiri, Muharram memang termasuk salah satu dari empat bulan mulia (al-asyhur al-hurum) yang dimuliakan Allah SWT.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan." (QS At-Taubah: 36)
Karena itu, kehadiran Muharram memang memiliki makna khusus bagi umat Islam. Namun kemuliaan bulan tersebut tidak otomatis menjadikan berbagai mitos yang berkembang di masyarakat memiliki dasar syariat.
Baca juga: Kuliner Khas 1 Muharram di Indonesia, dari Tumpeng hingga Bubur Suro
Dalam buku Dialektika Islam dan Budaya Nusantara: Dari Negosiasi, Adaptasi hingga Komodifikasi karya Prof. Dr. Suprapto, M.Ag., dijelaskan bahwa budaya Jawa memiliki tradisi panjang dalam memaknai waktu-waktu tertentu sebagai momen yang sakral.
Malam satu Suro dianggap sebagai galengane taun atau "pematang tahun", yakni batas antara tahun lama dan tahun baru.
Karena dianggap sebagai waktu yang istimewa, muncul berbagai simbol, ritual, pantangan, serta larangan yang diwariskan secara turun-temurun.
Sebagian larangan tersebut pada awalnya berfungsi sebagai sarana pendidikan sosial dan spiritual.
Namun dalam perkembangannya, tidak sedikit yang kemudian dipahami sebagai sesuatu yang bersifat mistis.
Salah satu mitos yang paling dikenal adalah larangan keluar rumah pada malam satu Suro.
Sebagian masyarakat meyakini bahwa malam tersebut merupakan waktu berkeliarannya makhluk halus atau energi gaib sehingga lebih baik berada di dalam rumah.
Dalam praktiknya, banyak keluarga memilih menghabiskan malam dengan berdoa, membaca Al-Qur'an, atau melakukan tirakatan.
Meski demikian, Islam tidak pernah mengajarkan bahwa malam 1 Muharram merupakan waktu yang berbahaya sehingga umat Islam harus mengurung diri di rumah.
Para ulama menjelaskan bahwa seluruh waktu adalah ciptaan Allah SWT dan tidak ada satu hari pun yang membawa kesialan secara mandiri.
Yang dianjurkan justru memperbanyak ibadah dan doa, bukan karena takut terhadap hal-hal gaib, melainkan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT.
Larangan berikutnya adalah tidak boleh berbicara keras, bercanda berlebihan, atau membuat kegaduhan.
Kepercayaan ini banyak dikaitkan dengan tradisi Tapa Bisu Mubeng Beteng yang masih dilaksanakan di lingkungan Keraton Yogyakarta.
Dalam tradisi tersebut, peserta berjalan mengelilingi benteng keraton tanpa berbicara sedikit pun sebagai simbol pengendalian diri dan introspeksi.
Secara budaya, nilai yang terkandung di dalamnya sebenarnya positif, yaitu mengajarkan ketenangan, kesabaran, dan perenungan diri.
Namun dalam Islam, diam bukanlah kewajiban khusus pada malam satu Suro. Yang dianjurkan adalah menjaga lisan dari ucapan yang buruk sebagaimana berlaku pada hari-hari lainnya.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam." (HR Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, menjaga lisan adalah ajaran Islam yang berlaku setiap saat, bukan hanya pada malam satu Suro.
Larangan ini mungkin menjadi salah satu yang paling banyak dipercaya masyarakat.
Sebagian orang menghindari menggelar resepsi pernikahan, khitanan, syukuran, atau hajatan lain selama bulan Suro karena khawatir akan mendatangkan kesialan.
Padahal dalam literatur fikih Islam tidak ditemukan larangan menikah pada bulan Muharram.
Dalam kitab-kitab fikih klasik, para ulama tidak pernah menetapkan Muharram sebagai bulan yang harus dihindari untuk akad nikah maupun walimah.
Sebaliknya, Muharram justru termasuk bulan yang dimuliakan Allah SWT. Karena itulah, keyakinan bahwa menikah pada bulan Suro akan membawa kesialan tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
Masyarakat Jawa mengenal prinsip eling lan waspada, yaitu selalu ingat dan berhati-hati dalam bertindak maupun berbicara.
Dari prinsip tersebut berkembang kepercayaan bahwa seseorang tidak boleh berkata kasar, mengumpat, atau mengucapkan hal-hal buruk pada malam satu Suro karena dikhawatirkan akan menjadi kenyataan.
Dalam Islam, menjaga lisan memang merupakan ajaran yang sangat penting.
Namun alasannya bukan karena takut ucapan tersebut menjadi takdir secara otomatis, melainkan karena seorang muslim diperintahkan menjaga akhlak dan menghindari dosa akibat lisannya.
Karena itu, nilai moral yang terkandung dalam tradisi tersebut dapat dipahami sebagai ajakan untuk memperbaiki perilaku dan memperbanyak ucapan baik.
Larangan lain yang cukup populer adalah tidak boleh memulai pembangunan rumah pada bulan Suro.
Sebagian masyarakat meyakini bahwa memulai pembangunan pada bulan tersebut akan membawa hambatan, kerugian, atau kesialan.
Namun keyakinan ini tidak memiliki dasar dalam Al-Qur'an maupun hadis.
Islam mengajarkan bahwa keberhasilan suatu pekerjaan ditentukan oleh usaha, doa, ikhtiar, serta kehendak Allah SWT, bukan oleh waktu tertentu yang dianggap sial.
Oleh karena itu, membangun rumah pada bulan Muharram hukumnya sama seperti bulan-bulan lainnya.
Baca juga: Sambut Muharram, Benarkah Ritual Malam 1 Suro Termasuk Takhayul? Ini Jawaban Ulama
Dalam salah satu kajian yang disampaikan melalui kanal Al-Bahjah TV, Buya Yahya menjelaskan bahwa seluruh hari yang diciptakan Allah SWT adalah baik.
Menurut beliau, seorang muslim tidak boleh meyakini bahwa hari tertentu membawa kesialan karena keyakinan semacam itu dapat mengarah pada prasangka buruk kepada Allah SWT.
Islam mengajarkan prinsip husnuzan billah, yaitu berbaik sangka kepada Allah.
Oleh karena itu, seorang muslim dianjurkan mengisi bulan Muharram dengan amal saleh, bukan dengan ketakutan terhadap mitos atau pantangan yang tidak memiliki dasar syariat.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya dalam setahun terdapat dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (bulan mulia)." (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis tersebut, Muharram disebut sebagai salah satu bulan yang dimuliakan.
Karena itulah, semangat yang seharusnya dibangun ketika memasuki bulan Muharram bukanlah rasa takut terhadap kesialan, melainkan semangat memperbanyak ibadah dan memperbaiki diri.
Baca juga: Sejarah dan Makna malam 1 Suro dalam kalender Jawa-Islam
Alih-alih mempercayai mitos, para ulama menganjurkan umat Islam mengisi malam tahun baru Hijriah dengan berbagai amalan yang bermanfaat, antara lain:
Mengevaluasi perjalanan hidup selama satu tahun terakhir dan memperbaiki kekurangan yang masih ada.
Memohon perlindungan, keberkahan umur, kesehatan, rezeki, dan kemudahan dalam menjalani tahun yang baru.
Membaca Al-Qur'an merupakan amalan yang sangat dianjurkan kapan pun, termasuk pada malam 1 Muharram.
Muharram menjadi momentum yang baik untuk memperbanyak istighfar dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Awal tahun Hijriah dapat dijadikan titik awal memperbaiki kualitas ibadah, akhlak, dan hubungan sosial.
Malam satu Suro merupakan bagian dari kekayaan budaya Nusantara yang telah hidup selama berabad-abad.
Sebagian tradisi yang berkembang mengandung nilai positif seperti introspeksi diri, pengendalian hawa nafsu, ketenangan batin, dan penghormatan terhadap waktu.
Namun Islam mengajarkan bahwa seorang muslim tidak boleh meyakini adanya kesialan yang melekat pada waktu tertentu tanpa dasar syariat.
Karena itu, tradisi budaya dapat dihargai sebagai warisan masyarakat selama tidak bertentangan dengan akidah dan ajaran Islam.
Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah mempercayai mitos malam satu Suro, melainkan menjadikan datangnya bulan Muharram sebagai momentum untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang