Editor
KOMPAS.com - Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 menjadi forum penting bagi NU dalam merumuskan pandangan keagamaan dan menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat.
Forum yang digelar di Pondok Pesantren Al Falah, Kediri, ini juga diharapkan menghasilkan keputusan strategis bagi kemaslahatan umat, bangsa, dan negara.
Dilansir dari Antara, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai Munas-Konbes NU bukan sekadar agenda organisasi, melainkan wadah memperkuat peran NU di tengah dinamika zaman.
Di saat yang sama, Rais Aam PBNU K.H. Miftachul Akhyar mengingatkan perlunya lompatan strategis agar NU mampu menghadapi tantangan peradaban yang semakin kompleks.
Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026 merupakan forum strategis untuk merumuskan pandangan keagamaan sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai persoalan umat, bangsa, dan negara.
Baca juga: Rekam Jejak Munas NU: Dari Khittah 1926 hingga Fatwa AI, Gus Dur Ukir Sejarah di Situbondo
Khofifah yang juga Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan bahwa Munas-Konbes NU tidak hanya menjadi ajang konsolidasi organisasi, tetapi juga sarana memperkuat peran NU dalam menjawab berbagai tantangan zaman.
“Pesan yang disampaikan Rais Aam menjadi pengingat bahwa menjaga marwah tidak cukup hanya menjaga integritas dan moralitas organisasi, tetapi juga harus diwujudkan melalui khidmat yang semakin nyata dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” kata Khofifah dalam keterangan yang diterima di Kediri, Minggu (21/6/2026).
Menurutnya, arahan Rais Aam dapat menjadi panduan penting bagi seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama dalam memperkuat peran organisasi di tengah dinamika masyarakat yang terus berkembang.
Khofifah optimistis forum permusyawaratan para ulama tersebut akan menghasilkan keputusan-keputusan yang mampu memperkuat peran NU dalam membangun kemaslahatan sosial, mempererat persaudaraan, serta menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini.
“Semoga Allah SWT memudahkan seluruh rangkaian musyawarah dan menghasilkan keputusan-keputusan terbaik yang membawa kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara, sekaligus memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah,” ujarnya.
Khofifah menambahkan, Jawa Timur sebagai provinsi dengan ribuan pondok pesantren memiliki tanggung jawab besar untuk terus mendukung penguatan peran pesantren dan Nahdlatul Ulama dalam pembangunan sumber daya manusia, pendidikan, ekonomi umat, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan.
“Kami meyakini pesantren dan Nahdlatul Ulama memiliki peran sangat penting dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian sosial sebagaimana yang menjadi pesan utama Rais Aam,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada PBNU, keluarga besar Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri, para kiai, santri, relawan, dan seluruh panitia yang telah mempersiapkan penyelenggaraan Munas dan Konbes NU 2026.
Sementara itu, Rais Aam PBNU K.H. Miftachul Akhyar menegaskan Nahdlatul Ulama menghadapi tantangan peradaban yang semakin kompleks sehingga membutuhkan lompatan strategis dalam menjalankan khidmat kepada umat.
Menurutnya, terdapat tiga kebutuhan mendesak yang harus diperkuat oleh jamiyah NU untuk menjawab tuntutan masa kini dan masa depan.
Pertama, membangkitkan kembali kesadaran sosial (dhamir ijtima'i) di tengah umat melalui langkah-langkah nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Kedua, membangun opini publik yang berlandaskan moral sehingga tumbuh kontrol sosial yang kuat dalam kehidupan bermasyarakat.
Ketiga, memperkuat kualitas kepemimpinan yang berlandaskan semangat jihad dan ijtihad agar mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kontemporer yang dihadapi umat, bangsa, dan negara.
“Jamiyah kita yang terorganisasi ini, demi menghadapi tuntutan masa kini dan masa depan, berada dalam kondisi sangat membutuhkan tiga hal penting,” ujar K.H. Miftachul Akhyar.
Ia menekankan bahwa kepemimpinan di tubuh NU membutuhkan kesungguhan perjuangan, keluasan ilmu, kecerdasan, serta kemampuan memberikan keputusan yang tepat terhadap berbagai persoalan baru yang berkembang di tengah masyarakat.
Lebih lanjut, K.H. Miftachul Akhyar menjelaskan jihad sebagai upaya mencurahkan seluruh kemampuan dan kesungguhan untuk meraih ketaatan kepada Allah SWT, tunduk pada hukum-Nya, serta melaksanakan perintah-perintah-Nya.
“Hal tersebut membutuhkan perjuangan (jihad) yang panjang lagi berat dalam melawan segala hal yang merongrong ketaatan tersebut,” ujarnya.
Terkait ijtihad, ia menegaskan pemimpin jamiyah harus memiliki kapasitas intelektual yang mumpuni untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kontemporer.
“Ijtihad artinya orang yang memimpin organisasi atau jamiyah yang diberkahi ini harus memiliki kemampuan untuk memberikan keputusan atau solusi yang tepat terhadap masalah-masalah kontemporer. Ia juga harus memiliki kecerdasan, aktivitas, kesungguhan, serta keluasan ilmu yang mumpuni dan layak untuk posisi tersebut,” katanya.
PBNU menggelar Munas dan Konbes NU 2026 di Pondok Pesantren Al Falah, Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri pada Sabtu (20/6/2026) hingga Senin (22/6/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran PBNU, PWNU, dan PCNU dari seluruh Indonesia, serta badan otonom NU dan ribuan simpatisan dari berbagai daerah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang