Editor
KOMPAS.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengapresiasi penyelenggaraan ibadah haji 2026 yang dinilai menunjukkan sejumlah kemajuan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Perbaikan tersebut terlihat dalam aspek tata kelola, pelayanan kepada jamaah, hingga penerapan sejumlah kebijakan baru selama pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci.
MUI juga menilai transformasi kelembagaan dalam pengelolaan haji membawa dampak positif terhadap kualitas penyelenggaraan.
Baca juga: Ketua MUI Bidang Fatwa Sebut Orientasi Seksual Sesama Jenis Bukan Fitrah, Minta Ada Rehabilitasi
Meski masih terdapat sejumlah hal yang perlu dievaluasi, berbagai perbaikan yang dilakukan dinilai menjadi langkah positif yang perlu terus dilanjutkan.
Apresiasi tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal MUI, Buya Amirsyah Tambunan, usai Rapat Pimpinan (Rapim) MUI beberapa waktu lalu.
Baca juga: Alasan Fatwa MUI Banyak Mengacu ke Mazhab Syafii, Ini Penjelasan Prof KH Asrorun Niam Sholeh
Menurut Buya Amirsyah, Ketua Umum MUI KH M Anwar Iskandar menilai transformasi pengelolaan haji dari Kementerian Agama menuju Kementerian Haji dan Umrah telah membawa dampak positif terhadap penyelenggaraan ibadah haji, terutama dalam aspek pelayanan kepada jamaah.
“Ketua Umum MUI mengapresiasi penyelenggaraan haji tahun ini. Ada peningkatan dibandingkan dengan sebelumnya, terutama setelah adanya transformasi kelembagaan dari Kementerian Agama menjadi Kementerian Haji dan Umrah,” ujar Buya Amirsyah kepada MUI Digital, di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Ia menjelaskan, apresiasi tersebut diberikan karena adanya sejumlah perbaikan dalam tata kelola dan pelayanan jamaah selama pelaksanaan ibadah haji.
MUI juga menilai keterlibatan para musyrif dini atau pembimbing keagamaan memberikan kontribusi penting dalam membantu jamaah menjalankan rangkaian ibadah sesuai tuntunan syariat.
Menurut Buya Amirsyah, kehadiran para ulama sebagai pembimbing merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk memastikan jamaah memperoleh pendampingan keagamaan yang memadai selama berada di Tanah Suci.
Selain itu, Kiai Anwar Iskandar turut mengapresiasi kerja keras para petugas haji di lapangan.
Di tengah kompleksitas penyelenggaraan ibadah yang melibatkan jutaan jamaah dari berbagai negara, para petugas dinilai telah berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada jamaah Indonesia.
MUI juga mencatat perkembangan positif dalam pelaksanaan penyembelihan dam melalui lembaga resmi di Arab Saudi.
Berdasarkan data yang diterima MUI, sekitar 75 persen atau lebih dari 153 ribu jamaah haji Indonesia telah melaksanakan penyembelihan dam melalui perusahaan Adahi di Tanah Haram.
“Ini merupakan perkembangan yang baik dan perlu terus ditingkatkan pada penyelenggaraan haji tahun-tahun mendatang,” kata Buya Amirsyah.
MUI turut memberikan apresiasi terhadap sejumlah kebijakan baru yang diterapkan Pemerintah Arab Saudi dalam penyelenggaraan haji.
Kebijakan tersebut meliputi pengetatan akses bagi pihak yang tidak memiliki izin resmi serta penerapan kartu Nusuk sebagai identitas utama jamaah haji.
Menurut Buya Amirsyah, kebijakan tersebut membantu menciptakan penyelenggaraan haji yang lebih tertib, aman, dan terukur.
Kartu Nusuk juga dinilai menjadi instrumen penting untuk memastikan pelayanan dan mobilitas jamaah berjalan lebih baik selama berada di Tanah Suci.
“Secara umum, Ketua Umum MUI melihat adanya kemajuan yang patut diapresiasi dalam penyelenggaraan haji tahun ini. Tentu masih ada beberapa hal yang perlu dievaluasi, tetapi berbagai perbaikan yang dilakukan merupakan langkah positif yang harus terus dilanjutkan demi meningkatkan kualitas pelayanan kepada jamaah haji Indonesia,” kata dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang