Editor
KOMPAS.com - Hari Asyura yang diperingati setiap 10 Muharram merupakan salah satu hari istimewa dalam kalender Islam.
Tanggal ini berada di bulan Muharram, yakni bulan pertama dalam penanggalan Hijriah yang termasuk bulan mulia bagi umat Islam.
Hari Asyura tidak hanya dikenal sebagai hari yang penuh berkah, tetapi juga dikaitkan dengan berbagai peristiwa penting dalam sejarah para nabi. Karena itu, umat Islam memandang 10 Muharram sebagai momentum untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Baca juga: Puasa Asyura 10 Muharram: Niat, Keutamaan, dan Tata Cara Pelaksanaannya
Selain memperbanyak doa dan amal saleh, umat Islam juga dianjurkan menjalankan puasa Asyura. Ibadah sunnah ini diyakini memiliki keutamaan besar, termasuk menjadi sebab diampuninya dosa-dosa selama setahun yang lalu.
Dilansir dari Antara, kata Asyura berasal dari bahasa Arab "asharah" yang berarti "sepuluh". Sebagian ulama juga berpendapat bahwa tanggal 10 Muharram memiliki sepuluh keistimewaan yang diberikan Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW.
Baca juga: 6 Keutamaan Puasa Tasua dan Asyura di Bulan Muharram, Hapus Dosa Setahun
Hari Asyura juga dikenal sebagai hari yang menyimpan berbagai peristiwa penting dalam perjalanan para rasul. Karena itu, umat Islam mengenangnya sebagai salah satu hari yang menunjukkan kemuliaan dan kekuasaan Allah SWT.
Di antara peristiwa tersebut adalah saat perahu Nabi Nuh berlabuh dan sejajar dengan Bukit Al-Judi setelah banjir besar. Pada hari yang sama, Nabi Idris diangkat ke tempat yang tinggi oleh Allah dan taubat Nabi Adam diterima.
Selain itu, Nabi Isa diangkat ke langit oleh Allah, taubat Nabi Daud diterima, penyakit Nabi Ayyub disembuhkan, Nabi Yunus diselamatkan dari perut ikan, dan Nabi Ibrahim diselamatkan dari api Namrud.
Peristiwa-peristiwa tersebut diyakini terjadi pada 10 Muharram atau Hari Asyura.
Pada Hari Asyura, Rasulullah SAW menjalankan ibadah puasa dan menganjurkan para sahabat untuk ikut berpuasa ketika beliau tiba di Madinah.
Hadist dalam shahih Bukhari dari Ibnu Abbas telah menjelaskan:
“Nabi Muhammad SAW datang ke kota Madinah. Beliau kemudian melihat orang Yahudi puasa pada hari Asyura’. Lalu Rasul bertanya ‘Ada kegiatan apa ini?’ Para sahabat menjawab ‘Hari ini adalah hari baik yaitu hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka kemudian Nabi Musa melakukan puasa atas tersebut.’ Rasul lalu mengatakan ‘Saya lebih berhak dengan Musa daripada kalian’. Nabi kemudian berpuasa untuk Asyura’ tersebut dan menyuruh pada sahabat menjalankannya." (HR Bukhari).
Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa puasa Asyura hukumnya sunnah.
“Sesungguhnya hari Asyra itu suatu hari di antara hari-hari kebesaran Allah, karena itu siapa yang tidak mau, boleh meninggalkannya." (HR. Muslim).
Salah satu keutamaan utama puasa Asyura adalah ampunan atas dosa-dosa selama setahun yang telah lalu.
Diriwayatkan dari Abu Qatadah, Nabi Muhammad bersabda, “Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar Ia mengampuni dosa setahun yang lalu” (HR. at-Tirmidzi).
Karena itu, banyak umat Islam memanfaatkan Hari Asyura untuk meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT melalui puasa, berdoa, dan memperbanyak amal saleh.
Umat Islam yang menjalankan puasa Asyura juga dinilai telah mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan berupaya mendekatkan diri kepada Allah.
Untuk menghindari kesamaan dengan puasa yang dilakukan umat Yahudi, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk berpuasa pada 9 Muharram atau yang dikenal sebagai puasa Tasu'a.
Setelah melaksanakan puasa Tasu'a, umat Islam dianjurkan menyempurnakannya dengan puasa Asyura pada 10 Muharram.
Dengan demikian, ibadah puasa sunnah tersebut dapat dijalankan selama dua hari berturut-turut pada 9 dan 10 Muharram.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang