Editor
KOMPAS.com - Hari Asyura yang jatuh pada 10 Muharram merupakan salah satu hari mulia dalam Islam.
Hari ini selalu dinantikan umat Islam karena diyakini penuh keberkahan dan menjadi momentum untuk meraih pahala serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pada Hari Asyura, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah dan amal saleh. Amalan yang dapat dilakukan tidak terbatas pada puasa sunnah, tetapi ada juga amalan yang bisa menjaga hubungan dengan sesama.
Baca juga: Mengenal Hari Asyura 10 Muharram dan Keutamaannya bagi Umat Islam
Berbagai amalan tersebut menjadi bentuk syukur atas nikmat Allah sekaligus sarana memohon ampunan dan meningkatkan ketakwaan. Berikut sejumlah amalan yang dianjurkan pada Hari Asyura.
Baca juga: Puasa Asyura 10 Muharram: Niat, Keutamaan, dan Tata Cara Pelaksanaannya
Selain membaca doa, umat Islam dianjurkan melaksanakan puasa sunnah pada 10 Muharram. Bagi umat Islam yang menjalankannya, dosa-dosa kecil pada tahun sebelumnya diharapkan mendapat ampunan dari Allah SWT.
Ampunan dosa ketika berpuasa Asyura dijelaskan dalam hadist riwayat Muslim. Rasullah bersabda, “Adapun puasa pada Hari Asyura, aku memohon kepada Allah agar puasa tersebut bisa menghapus dosa setahun sebelumnya." (HR Muslim no 1162).
Menurut Imam an-Nawawi (w 676 H), dosa-dosa yang disebutkan dalam hadis tersebut adalah dosa kecil, atau diringankan dosa besarnya atau diangkat derajatnya. (an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, juz 8, hlm 51).
Berikut niat puasa sunnah Asyura:
Nawaitu shauma ghadin ‘an adai sunnatil asyura lillahi ta‘ala.
Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Asyura esok hari karena Allah SWT.”
Ketika Hari Asyura atau 10 Muharram tiba, umat Islam dianjurkan membaca doa Asyura untuk mengingat kebesaran Allah SWT, bersyukur atas nikmat yang diberikan, dan memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan.
Berikut lafadz doa Asyura, mengutip MUI dan sumber-sumber lainnya:
Subḍanallahi mil-al mizani wa muntahal ‘ilmi wa mablaghar ridlâ wa adadan ni’ami wa zinatal ‘arsyi
Artinya: "Mahasuci Allah sepenuh timbangan, sesempurna ilmu, sepenuh keridhaan, sejumlah nikmat-nikmat, dan sebesar timbangan ‘arsy."
Dalam kitab Hasyiyatul Jamal ‘ala Syarhil Manhaj karya Syekh Sulaiman Al-Jamal disebutkan, “Siapa saja yang membaca doa ini pada Hari Asyura, niscaya tidak mati hatinya pada tahun tersebut. Siapa saja yang selesai ajalnya, Allah tidak mengilhaminya untuk membaca doa tersebut”.
Para ulama juga menganjurkan berbagai amalan lain pada Hari Asyura selain berdoa dan berpuasa. Amalan tersebut termuat dalam syair kitab Kanzun Naja was Surur Fi Ad'iyyati Tasyrahus Shudur karya Syekh Abdul Hamid.
"Ada sepuluh amalan di dalam bulan ‘asyura, yang ditambah lagi dua amalan lebih sempurna. Puasalah, sholatlah, sambung silaturrahim, ziarah orang alim, menjenguk orang sakit dan celak mata. Usaplah kepala anak yatim, bersedekah, dan mandi, menambah nafkah keluarga, memotong kuku, membaca surat al-Ikhlas 1000 kali.”
Berbagai amalan tersebut menjadi cara bagi umat Islam untuk menghidupkan Hari Asyura dan memanfaatkan keutamaannya sebagai momentum memperbanyak ibadah.
Meski demikian, keutamaan Hari Asyura tidak berarti ibadah di luar hari tersebut tidak mendapatkan ridha Allah SWT.
Setiap ibadah yang dilakukan dengan ikhlas tetap bernilai pahala di sisi Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang