Editor
KOMPAS.com - Tradisi pembagian nasi Buka Luwur di kompleks Menara dan Makam Sunan Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, kembali digelar pada Kamis (25/7/2026).
Kegiatan tersebut menjadi puncak rangkaian acara Buka Luwur Sunan Kudus yang rutin diselenggarakan setiap 10 Muharam.
Pada tahun ini, panitia menyiapkan lebih dari 34.000 bungkus nasi untuk dibagikan kepada masyarakat.
Baca juga: Makam Sunan Kudus dan Tradisi Buka Luwur Tiap 10 Muharam
Ribuan warga pun memadati kawasan Menara Kudus sejak dini hari untuk mendapatkan nasi yang diyakini membawa berkah dan menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang telah berlangsung turun-temurun.
Tradisi Buka Luwur tidak hanya menjadi ritual penggantian kelambu di Makam Sunan Kudus, tetapi juga mencerminkan semangat gotong royong masyarakat Kudus.
Seluruh pendanaan kegiatan berasal dari sedekah warga, baik dalam bentuk uang, beras, kain, maupun hewan ternak.
Baca juga: Nasi Jangkrik, Kuliner Kegemaran Sunan Kudus
Juru Bicara Panitia Buka Luwur Sunan Kudus Denny Nur Hakim mengatakan jumlah nasi Buka Luwur yang dibagikan setiap tahun selalu berbeda karena menyesuaikan jumlah hewan ternak yang disembelih dan bantuan beras dari masyarakat.
"Jumlah nasi Buka luwur yang disediakan setiap tahunnya ada perbedaan, karena disesuaikan dengan jumlah hewan ternak yang disembelih dan beras bantuan dari masyarakat luas. Sedangkan tahun ini sebanyak 34.000 bungkus lebih," kata Denny di Kudus, Kamis.
Ia menjelaskan seluruh rangkaian kegiatan Buka Luwur merupakan bentuk keteladanan masyarakat Kudus terhadap ajaran Sunan Kudus yang dikenal berjasa menyebarkan agama Islam sekaligus mendirikan Kota Kudus.
Menurut dia, tradisi tersebut juga menjadi simbol kebersamaan dan gotong royong masyarakat karena seluruh pendanaan kegiatan bersumber dari sedekah warga.
Tahun ini, panitia menerima sedekah sebanyak 22 kerbau dan 92 kambing dari masyarakat.
Hewan-hewan tersebut kemudian disembelih dan diolah menjadi dua menu khas yang identik dengan tradisi Buka Luwur Sunan Kudus, yakni uyah asem dan masakan jangkrik.
Uyah asem merupakan olahan daging tanpa kuah, sedangkan masakan jangkrik disajikan berkuah.
"Pada tanggal 9 Muharam 1448 Hijriah, hewan sedekah tersebut diolah menjadi dua menu masakan yaitu uyah asem dan masakan jangkrik. Keduanya merupakan menu yang identik dengan tradisi Buka Luwur Sunan Kudus," ujarnya.
Denny mengungkapkan lebih dari 34.000 bungkus nasi yang dibagikan kepada masyarakat berisi menu uyah asem.
Pemilihan menu tersebut dilakukan agar nasi dapat bertahan lebih lama selama proses distribusi.
"Kalau yang dibagikan kepada masyarakat menu masakan jangkrik yang berkuah, tentu nasi akan lebih cepat basi. Karena itu yang dibagikan berupa nasi dengan lauk uyah asem," ujarnya.
Distribusi nasi Buka Luwur telah dilakukan sejak dini hari sebelum subuh ke berbagai wilayah di Kabupaten Kudus. Setiap tahun, ribuan warga menantikan pembagian nasi tersebut karena diyakini membawa berkah.
Tradisi Buka Luwur sendiri diselenggarakan setiap 10 Muharam dan pada tahun ini bertepatan dengan Kamis (25/7/2026). Ritual tersebut menjadi penanda penggantian kelambu di Makam Sunan Kudus.
Karsani, warga Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, mengaku telah mengantre sejak selesai Shalat Subuh bersama istri dan kedua anaknya.
Setelah mendapatkan nasi Buka Luwur atau nasi uyah asem, Karsani langsung menyantapnya, sebagaimana banyak warga lainnya yang menjadikannya sebagai menu sarapan pagi.
Ia mengaku setiap tahun selalu ikut mengantre untuk memperoleh nasi Buka Luwur dengan harapan mendapatkan berkah karena sebelumnya nasi tersebut telah didoakan oleh para kiai di kompleks Menara Kudus.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang