Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Muktamar Ilmu Pengetahuan IV Dibuka, UIN Sunan Kudus Jadi Pusat Konsolidasi Ilmuwan NU

Kompas.com, 27 Juni 2026, 11:45 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Lakpesdam PWNU Jawa Tengah resmi membuka Muktamar Ilmu Pengetahuan (MIP) IV Tahun 2026 di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus, Sabtu (27/6/2026).

Mengusung tema "Nahdlatul Ulama sebagai Masyarakat Sipil Keagamaan: Konsolidasi Gerakan, Kemandirian Organisasi, dan Transformasi Sosial", forum ini menjadi ruang konsolidasi para akademisi, peneliti, ulama, dan pengelola perguruan tinggi Nahdlatul Ulama untuk memperkuat peran ilmu pengetahuan dalam menjawab tantangan zaman.

Ribuan peserta dari berbagai daerah menghadiri pembukaan Muktamar Ilmu Pengetahuan IV. Hadir dalam kesempatan tersebut Kasubdit Pendidikan Mahad Aly Direktorat Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Mahrus Elmawa, Kasubdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Nur Khafid, Rais Syuriyah PCNU Kudus, Ketua PCNU Kudus, Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Tengah, para rektor perguruan tinggi negeri, swasta, dan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU), Sekretaris Daerah Kabupaten Kudus, serta para pengasuh pesantren se-Jawa Tengah.

Baca juga: Tutup Munas dan Konbes NU, Prabowo: Kekayaan Negara Terlalu Banyak Hilang, Pemerintah Bertekad Hentikan Kebocoran

Rektor UIN Sunan Kudus, Abdurrahman Kasdi, mengatakan penyelenggaraan MIP IV merupakan kelanjutan dari tradisi intelektual yang telah dibangun sejak pelaksanaan Muktamar Ilmu Pengetahuan pada 2023.

Menurutnya, forum tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ruang diskusi akademik, tetapi juga melahirkan gagasan yang memberikan dampak nyata bagi warga Nahdlatul Ulama maupun masyarakat Indonesia.

"Harapannya, forum ini benar-benar memberikan dampak bagi warga Nahdlatul Ulama, memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, sekaligus memberi kontribusi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara," ujar Abdurrahman Kasdi dalam keterangan tertulis, Sabtu.

Ia menjelaskan bahwa tradisi pengembangan ilmu pengetahuan di lingkungan Nahdlatul Ulama berakar pada prinsip-prinsip ushul fikih yang terus dikontekstualisasikan untuk menjawab perkembangan zaman.

Karena itu, kemajuan sains, teknologi, dan informasi tidak boleh dipandang terpisah dari nilai-nilai keislaman maupun dimensi kemanusiaan.

"Orang-orang yang beraktivitas di dunia sains sesungguhnya tidak pernah lepas dari humaniora, terutama ilmu-ilmu keagamaan. Semua ilmu harus saling menguatkan dalam membangun peradaban," katanya.

Abdurrahman menegaskan, integrasi antara ilmu agama, humaniora, dan sains menjadi fondasi penting agar perkembangan teknologi tetap berpihak pada kemaslahatan masyarakat.

Makna UIN Sunan Kudus sebagai Tuan Rumah

Menurut Abdurrahman, terpilihnya UIN Sunan Kudus sebagai lokasi penyelenggaraan MIP IV juga memiliki makna historis dan filosofis.

UIN Sunan Kudus merupakan perguruan tinggi Islam keempat yang menggunakan nama salah seorang Wali Songo. Sosok Sunan Kudus sendiri dikenal sebagai waliyul ilmi, ulama yang memiliki keluasan ilmu pengetahuan sekaligus mampu menghadirkan dakwah yang membumi.

Nilai-nilai tersebut, kata dia, masih sangat relevan dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, ekonomi, maupun perkembangan teknologi saat ini.

Ia juga mengangkat filosofi Gusjigang—bagus akhlaknya, pandai mengaji, dan pintar berdagang—sebagai karakter ideal yang perlu menjadi fondasi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus arah khidmah Nahdlatul Ulama di masa depan.

"Penyelenggaraan MIP IV di UIN Sunan Kudus sekaligus menjadi ikhtiar meneladani nilai-nilai luhur Sunan Kudus. Filosofi Gusjigang mengajarkan bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan beriringan dengan akhlak mulia dan kemandirian ekonomi," jelasnya.

Baca juga: Prabowo Ungkap Kedekatan dengan NU Sejak Kecil, Sebut Organisasi Paling Nasionalis dan Patriotik

Ilmu Pengetahuan untuk Kemaslahatan

Melalui Muktamar Ilmu Pengetahuan IV, Lakpesdam PWNU Jawa Tengah berharap lahir berbagai rekomendasi strategis yang mampu memperkuat konsolidasi gerakan intelektual Nahdlatul Ulama.

Forum ini juga diharapkan menjadi ruang dokumentasi pengalaman intelektual warga NU sekaligus mentransformasikannya menjadi arah gerakan yang lebih berkeadilan, berkeadaban, dan berorientasi pada kemaslahatan semesta.

"Harapan kami, ilmu benar-benar menjadi fondasi peradaban. Apa pun disiplin ilmunya, semuanya harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Nahdlatul Ulama dan masyarakat Indonesia secara luas," pungkas Abdurrahman Kasdi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muktamar Ilmu Pengetahuan IV Dibuka, UIN Sunan Kudus Jadi Pusat Konsolidasi Ilmuwan NU
Muktamar Ilmu Pengetahuan IV Dibuka, UIN Sunan Kudus Jadi Pusat Konsolidasi Ilmuwan NU
Aktual
Al-Quran Fushshilat 34: Redam Benci, Ubah Musuh Jadi Sahabat Sejati
Al-Quran Fushshilat 34: Redam Benci, Ubah Musuh Jadi Sahabat Sejati
Aktual
Surah Asy-Syura Ayat 40: Antara Keadilan Qishash dan Indahnya Pintu Maaf
Surah Asy-Syura Ayat 40: Antara Keadilan Qishash dan Indahnya Pintu Maaf
Aktual
Doa Taubat dan Memohon Ampunan kepada Allah SWT, Lengkap dengan Arab dan Artinya
Doa Taubat dan Memohon Ampunan kepada Allah SWT, Lengkap dengan Arab dan Artinya
Aktual
Hukum Mengirim Stiker Doa di WhatsApp, Apakah Bernilai Ibadah? Ini Penjelasan Ulama
Hukum Mengirim Stiker Doa di WhatsApp, Apakah Bernilai Ibadah? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Tak Bisa Puasa Asyura karena Haid? Muslimah Tetap Bisa Raih Keutamaannya dengan 4 Amalan Ini
Tak Bisa Puasa Asyura karena Haid? Muslimah Tetap Bisa Raih Keutamaannya dengan 4 Amalan Ini
Aktual
Hukum Mengonsumsi Obat Mengandung Alkohol Menurut Islam, Boleh atau Tidak? Ini Penjelasan MUI
Hukum Mengonsumsi Obat Mengandung Alkohol Menurut Islam, Boleh atau Tidak? Ini Penjelasan MUI
Aktual
359 Jamaah Haji Kloter 16 Debarkasi Banjarmasin Tiba di Tanah Air
359 Jamaah Haji Kloter 16 Debarkasi Banjarmasin Tiba di Tanah Air
Aktual
KUA Layani Curhat Warga tentang Masalah Keluarga hingga Luka Batin
KUA Layani Curhat Warga tentang Masalah Keluarga hingga Luka Batin
Aktual
Istighatsah Akbar di Malang: Doa untuk Presiden Prabowo Subianto
Istighatsah Akbar di Malang: Doa untuk Presiden Prabowo Subianto
Aktual
BPKH Buka Rekrutmen Pegawai 2026, Simak 9 Formasi, Syarat, dan Jadwal Pendaftarannya
BPKH Buka Rekrutmen Pegawai 2026, Simak 9 Formasi, Syarat, dan Jadwal Pendaftarannya
Aktual
MUI Fasilitasi KPR untuk Dai dan Guru Ngaji agar Punya Rumah Sendiri
MUI Fasilitasi KPR untuk Dai dan Guru Ngaji agar Punya Rumah Sendiri
Aktual
Kemenhaj Dorong Revisi UU Pengelolaan Keuangan Haji, Dana Dikelola Lebih Transparan
Kemenhaj Dorong Revisi UU Pengelolaan Keuangan Haji, Dana Dikelola Lebih Transparan
Aktual
Kemenhaj Akan Perketat Syarat Kesehatan Haji 2027, Jamaah Berkomorbid Jadi Sorotan
Kemenhaj Akan Perketat Syarat Kesehatan Haji 2027, Jamaah Berkomorbid Jadi Sorotan
Aktual
Indonesia Resmi Kantongi Izin Empty Leg Penerbangan Haji dari Arab Saudi, Apa Dampaknya?
Indonesia Resmi Kantongi Izin Empty Leg Penerbangan Haji dari Arab Saudi, Apa Dampaknya?
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com