MADINAH, KOMPAS.com - Menyelami jejak perjuangan Rasulullah pada saat Perang Uhud tak akan lengkap jika tidak berkunjung ke Goa Uhud dan Masjid Al-Fash di Jabal Uhud, Madinah, Arab Saudi.
Masjid Al-Fash juga dikenal dengan Masjid Uhud terletak di kaki Jabal Uhud.
Masjid ini berlokasi di ujung jalan menuju Al-Mihras yang dikenal dengan Sha'b Al Jerar.
Berdasarkan sejumlah sumber biografi, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah shalat di tempat tersebut setelah Perang Uhud.
Pantauan Kompas.com di lokasi, masjid tersebut memiliki panjang sekitar enam meter dan lebar empat meter.
Masjid dilindungi atap dari kayu berwarna coklat.
Terdapat bebatuan yang tersusun tak penuh di sisi kanan dan kirinya.
Baca juga: Mencicipi Bakso Pak Omar di Jabal Uhud, Juga Digemari oleh Warga Saudi
Tak jauh dari lokasi, terdapat Goa Uhud berada di celah bebatuan Jabal Uhud setinggi kurang lebih tiga meter.
Goa tersebut hanya berukuran kecil yang memuat sekitar tiga orang saja.
Letaknya sekitar 500 meter dari Bukit Rumat dan makam syuhada Uhud.
Disebutkan bahwa Rasulullah sempat berlindung di goa tersebut saat terluka dalam pertempuran Uhud.
Secara historis, bangunan awal Masjid Al-Fash diyakini didirikan pada era kekhalifahan Bani Umayyah, tepatnya pada masa pemerintahan Gubernur Madinah, Umar bin Abdul Aziz, antara tahun 86–93 Hijriah (705–712 Masehi).
Masjid ini awalnya dibangun menggunakan batu basal hitam yang menjadi ciri khas wilayah tersebut, yang kemudian diperkuat dengan plester kapur.
Masjid ini telah mengalami beberapa kali restorasi, yang terakhir dilakukan pada masa kejayaan Saudi, di masa pemerintahan Raja Salman bin Abdulaziz.
Dikutip dari buku Sejarah Peradaban Islam Terlengkap: Periode Klasik, Pertengahan, dan Modern oleh Rizem Aizid, Perang Uhud adalah pertempuran bersejarah yang pecah antara kaum muslim dan kafir Quraisy pada tanggal 22 Maret 625 Masehi atau bertepatan dengan 7 Syawal 3 Hijriah.
Nama pertempuran ini diambil dari lokasi terjadinya bentrokan yang berdekatan dengan sebuah bukit bernama Bukit Uhud, yang terletak sekitar empat mil dari Masjid Nabawi di kawasan Madinah.
Secara geografis, bukit ini berketinggian seribu kaki dari permukaan tanah dengan bentangan panjang mencapai lima mil.
Peristiwa pertumpahan darah ini terjadi kurang lebih setahun lebih seminggu setelah peristiwa Perang Badar.
Kekalahan kaum Quraisy Mekkah dalam Perang Badar sebelumnya menyebabkan mereka menyimpan dendam dan bersumpah untuk segera membalasnya.
Selain dipicu oleh api dendam, penyerangan ini juga mengemban misi penting untuk menyelamatkan jalur bisnis kaum Quraisy ke Syam.
Mereka juga sangat berharap bisa memusnahkan kekuatan kaum muslim sebelum berkembang menjadi sebuah ancaman besar bagi keberadaan kaum Quraisy.
Saat pertempuran akhirnya meletus, sebanyak tujuh ratus orang tentara Islam maju ke medan laga di bawah pimpinan langsung Nabi Muhammad SAW.
Pasukan muslim tersebut harus berjuang menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar, yakni tiga ribu orang tentara kafir yang dipimpin oleh Abu Sufyan.
Pertempuran di medan Uhud ini berlangsung dengan sangat sengit hingga menelan banyak korban jiwa.
Perang ini pada akhirnya selesai dengan tewasnya sekitar dua puluh tiga hingga tiga puluh orang musuh dan gugurnya tujuh puluh orang dari pasukan kaum muslim.
Paman Nabi Muhammad SAW yang bernama Hamzah bin Abdul Muthalib turut menjadi salah satu pahlawan yang gugur dalam perang ini.
Sementara itu, Nabi Muhammad SAW sendiri terdesak dan mengalami luka-luka parah yang menyebabkan gigi beliau patah.
Meskipun pasukan Quraisy berhasil mendesak kaum muslimin, mereka ternyata tidak menuntaskan serangan tersebut.
Baca juga: 4 Perang Besar di Bulan Syawal dalam Sejarah Islam, dari Perang Uhud hingga Thaif
Abu Sufyan beserta seluruh pasukannya justru memilih untuk menarik diri dari area peperangan dan segera bertolak kembali menuju Mekkah.
Seusai pertempuran, Nabi Muhammad SAW memerintahkan pasukannya yang masih terluka untuk bangkit dan mengejar musuh hingga ke daerah Hamra al-Asad.
Keputusan pengejaran ini sukses menjatuhkan mental kaum Quraisy sehingga mereka batal menyerbu Madinah dan memilih kabur menyelamatkan diri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang