Editor
MALANG, KOMPAS.com — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah-'Aisyiyah (KKN MAs) Kelompok 98 mengajak siswa SDN 2 Wringinsongo memanfaatkan daun sirih menjadi sabun cuci tangan herbal.
Pelatihan yang digelar di Desa Wringinsongo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur tersebut diikuti siswa kelas IV, V, dan VI.
Penanggung jawab program, Gibran, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sekaligus menunjukkan kepada anak-anak bahwa tanaman di sekitar rumah dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Melalui program ini, kami ingin menanamkan kesadaran sejak dini kepada siswa bahwa menjaga kebersihan tangan tidak harus mahal," ujar Gibran dalam rilisnya, Jumat (14/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mengenalkan daun sirih sebagai salah satu tanaman obat keluarga (TOGA) yang secara tradisional banyak dimanfaatkan untuk kebersihan.
Daun sirih yang digunakan dalam pelatihan diperoleh dari pekarangan warga dan kebun TOGA di Desa Wringinsongo.
"Daun sirih yang ada di pekarangan rumah warga memiliki khasiat antiseptik yang sangat baik. Kami berharap adik-adik di SDN 2 Wringinsongo bisa mempraktikkannya secara mandiri di rumah bersama keluarga," kata Gibran.
Pembuatan sabun diawali dengan mencuci dan mengiris tipis daun sirih. Daun tersebut kemudian direbus menggunakan 300 mililiter air selama sekitar 15 menit.
Setelah air rebusan berubah kecoklatan, cairan didinginkan dan disaring untuk memperoleh ekstrak daun sirih.
Mahasiswa kemudian menyiapkan 700 mililiter air hangat dan mencampurkannya secara bertahap dengan Sodium Lauryl Sulfate (SLS), bahan pembentuk busa yang lazim digunakan dalam produk pembersih.
Setelah larutan tercampur, ekstrak daun sirih yang telah dingin dimasukkan. Pewarna dan minyak esensial dapat ditambahkan sebagai bahan pelengkap.
Campuran tersebut kemudian didiamkan selama beberapa jam hingga busa berkurang sebelum dimasukkan ke dalam botol pompa.
Mahasiswa juga mengajarkan cara mencuci tangan dengan benar. Siswa diminta menggosok telapak dan punggung tangan, sela-sela jari, serta bagian bawah kuku selama sedikitnya 20 detik sebelum membilasnya menggunakan air bersih.
Kepala SDN 2 Wringinsongo Sulis Setiowati mengapresiasi pelatihan tersebut karena memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada para siswa.
Menurut Sulis, anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai pentingnya menjaga kebersihan tangan, tetapi juga belajar memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan mereka.
"Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan anak-anak pentingnya menjaga kebersihan tangan, tetapi juga memberikan wawasan kreatif bahwa bahan alami di sekitar kita seperti daun sirih bisa diolah menjadi barang yang sangat berguna," ujar Sulis.
KKN MAs merupakan program pengabdian masyarakat lintas perguruan tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah di Indonesia.
Program tersebut mempertemukan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi untuk melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat secara kolaboratif.
Pada tahun ini, mahasiswa peserta antara lain berasal dari Universitas Muhammadiyah Jambi, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Bandung, Universitas Muhammadiyah Gombong, Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Kemudian Universitas Muhammadiyah Surabaya, Universitas Muhammadiyah Bone, Universitas Muhammadiyah Makassar, Universitas Muhammadiyah Palembang, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, dan Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT