Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ujian Hidup: Belajar dari Sangkar Emas dan Burung Hantu

Kompas.com, 30 Juni 2026, 16:19 WIB
Fitri Anggiawati,
Farid Assifa

Tim Redaksi

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Sebuah pepatah Jawa kuno berbunyi, "Mung manuk-manuk sing suwarane merdu sing dikurung ing njero sangkar;

nanging manuk dhesto mabur bebas ing alam liar."

Arti filosofisnya mendalam, yaitu hanya burung-burung bersuara merdu yang dikurung dalam sangkar untuk dinikmati keindahannya, sementara burung hantu yang tidak diminati suaranya dibiarkan bebas berkelana.

Di dalam kehidupan nyata, "sangkar" ini sering kali mewujud dalam bentuk ujian hidup yang datang bertubi-tubi kepada mereka yang memiliki kelebihan.

Semakin besar amanah yang Allah titipkan, baik berupa ilmu, bakat, kecerdasan, pengaruh, jabatan, hingga harta, maka semakin besar pula kadar godaan, tekanan, dan tanggung jawabnya.

Baca juga: Puasa Asyura, Warisan Para Nabi yang Hapus Dosa Setahun dan Sarat Hikmah

Banyak orang hanya silau melihat keberhasilan dan kemuliaan seseorang, tanpa pernah menyadari ada jeruji-jeruji tak kasat mata yang harus ia hadapi setiap hari.

Ada fitnah, kecemburuan, kritik, cemoohan, hingga beban ekspektasi yang berat di balik tirai kesuksesan tersebut.

Padahal tak jarang, semakin besar potensi seseorang, semakin berat pula ujian yang mengiringinya.

Merespons fenomena spiritual tersebut, Ustadz Ahsanul Falihin dari Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi memberikan sudut pandang mendalam mengenai hakikat ujian bagi seorang hamba.

“Jangan pernah mengeluh ketika ujian datang mengiringi karunia yang kita terima. Emas murni diuji dengan api bukan karena ia tidak bernilai, melainkan justru untuk membuktikan dan meninggikan nilainya. Begitu pula dengan jiwa manusia. Ketika Allah menghendaki seorang hamba untuk dekat dengan-Nya, Dia akan menempanya dengan beragam kesulitan agar jiwanya semakin matang dan bersih,” ujar Ustadz Ahsanul Falihin.

Hal ini selaras dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-Qur'an Surat Al-Ankabut ayat 2:

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ ۝٢

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?”

Ustadz Ahsanul Falihin juga mengingatkan bahwa "sangkar emas" tidak selalu berbentuk penderitaan lahiriah.

Terkadang, ia menjelma menjadi sesuatu yang tampak nyaman namun membelenggu, seperti pujian yang mengikat citra diri, popularitas yang melahirkan ketakutan akan kehilangan validasi, atau harta yang menawan hati dalam kenikmatan duniawi.

Banyak manusia yang secara lahiriah tampak bebas berjalan ke sana kemari, padahal sejatinya mereka sedang terpenjara oleh ego yang mereka ciptakan sendiri.

Sebaliknya, ada orang-orang yang secara kasat mata hidupnya penuh keterbatasan, namun jiwanya bebas merdeka.

Mereka tidak lagi diperbudak oleh pujian ataupun celaan makhluk.

Kebebasannya lahir dari hati yang hanya bergantung sepenuhnya kepada Yang Mahakuasa.

Oleh karena itu, jika hari ini jalan hidup kita terasa lebih terjal dan berat dibanding orang lain, jangan terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa Allah sedang menjauh atau menghukum kita.

Bisa jadi, itu adalah tanda bahwa ada potensi besar atau amanah berharga yang sedang Allah titipkan di dalam diri kita, sehingga kita perlu dididik dengan ujian yang lebih berbobot agar mampu mengelolanya dengan bijak.

Jangan pernah iri pada mereka yang tampak hidup tanpa cobaan, karena setiap orang memikul ujiannya masing-masing.

Baca juga: 9 Muharram Puasa Apa? Ini Niat, Keutamaan, dan Hikmah Puasa Tasua

Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadis Nabi Muhammad ﷺ:

إن عظم الجزاء مع عظم البلاء، وإن الله تعالى إذا أحب قوما ابتلاهم فمن رضي فله الرضا، ومن سخط فله السخط

“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya Allah Ta’ala, apabila mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Siapa yang rida, maka baginya keridhaan. Sedangkan siapa yang marah (kecewa & tidak terima), maka baginya kemurkaan." (HR. Tirmidzi).

“Pada akhirnya, parameter keberhasilan hidup bukanlah tentang seberapa mudah atau sulitnya jalan yang kita lalui. Pertanyaan terpenting yang harus kita ajukan pada diri sendiri di tengah ujian adalah: 'Apa yang Allah kehendaki pada diriku lewat ujian ini?' Apakah semua ini berhasil mendekatkan hati kita kepada-Nya? Sebab, jiwa yang benar-benar merdeka bukanlah jiwa yang bebas dari masalah, melainkan jiwa yang tetap mampu 'bersuara indah' dan berprasangka baik kepada Tuhannya, bagaimanapun keadaannya," tandasnya.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
GIHES 2026 Kumpulkan Tokoh Pendidikan Internasional di Jakarta, Bahas Pesantren
GIHES 2026 Kumpulkan Tokoh Pendidikan Internasional di Jakarta, Bahas Pesantren
Aktual
Jelang Muktamar ke-35 NU, PWNU dan PCNU Se-DIY Tolak Politik Uang
Jelang Muktamar ke-35 NU, PWNU dan PCNU Se-DIY Tolak Politik Uang
Aktual
Mengenal Hadis: Pengertian, Unsur Sanad-Matan, hingga Jenis dan Kualitasnya
Mengenal Hadis: Pengertian, Unsur Sanad-Matan, hingga Jenis dan Kualitasnya
Aktual
Marak Jasa Nikah Siri Beri Sertifikat, Kemenag: Tak Bisa Gantikan Buku Nikah
Marak Jasa Nikah Siri Beri Sertifikat, Kemenag: Tak Bisa Gantikan Buku Nikah
Aktual
Wisatawan Jerman Belajar Toleransi dari Perayaan Kemerdekaan di Bundaran HI
Wisatawan Jerman Belajar Toleransi dari Perayaan Kemerdekaan di Bundaran HI
Aktual
Harta, Jabatan, dan Ilmu Juga Bisa Jadi Ujian, Ini Penjelasan Ustaz Adi Hidayat
Harta, Jabatan, dan Ilmu Juga Bisa Jadi Ujian, Ini Penjelasan Ustaz Adi Hidayat
Aktual
Gempa NTT, Mahasiswa KKN Muhammadiyah: Korban Luka Kebanyakan Ibu-ibu yang Terjatuh
Gempa NTT, Mahasiswa KKN Muhammadiyah: Korban Luka Kebanyakan Ibu-ibu yang Terjatuh
Aktual
Muhammadiyah Layani 3.466 Korban Gempa NTT, Air Bersih hingga Tenda Mendesak
Muhammadiyah Layani 3.466 Korban Gempa NTT, Air Bersih hingga Tenda Mendesak
Aktual
50 Ucapan Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji'un untuk Kabar Duka Cita
50 Ucapan Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji'un untuk Kabar Duka Cita
Aktual
10 Amalan Rasulullah SAW dalam Kehidupan Sehari-hari yang Patut Diteladani
10 Amalan Rasulullah SAW dalam Kehidupan Sehari-hari yang Patut Diteladani
Aktual
HUT ke-81 RI, Ketum MUI Ajak Masyarakat Rawat Persatuan NKRI
HUT ke-81 RI, Ketum MUI Ajak Masyarakat Rawat Persatuan NKRI
Aktual
HUT ke-81 RI, Ketua Bidang Fatwa MUI Ajak Masyarakat Jaga Moral dan Ketahanan Keluarga
HUT ke-81 RI, Ketua Bidang Fatwa MUI Ajak Masyarakat Jaga Moral dan Ketahanan Keluarga
Aktual
Nama 25 Nabi dan Rasul Beserta Mukjizatnya, Lengkap dengan Ulul Azmi
Nama 25 Nabi dan Rasul Beserta Mukjizatnya, Lengkap dengan Ulul Azmi
Aktual
Waketum MUI: Kemerdekaan RI Harus Diisi dengan Karya Nyata dan Menjaga Ukhuwah Wathaniyah
Waketum MUI: Kemerdekaan RI Harus Diisi dengan Karya Nyata dan Menjaga Ukhuwah Wathaniyah
Aktual
Haedar Nashir: Indonesia Milik Bersama, Kemerdekaan Harus Bermuara pada Kemakmuran Rakyat
Haedar Nashir: Indonesia Milik Bersama, Kemerdekaan Harus Bermuara pada Kemakmuran Rakyat
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar