Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Produk Singkong Binaan Muhammadiyah Tembus Korea, Buka Peluang Ekspor Pangan Lokal

Kompas.com, 1 Juli 2026, 10:55 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Produk pangan lokal berbasis singkong dan ubi jalar hasil binaan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah berhasil tampil di Korea Import Expo 2026, membuka peluang lebih besar bagi komoditas pertanian Indonesia untuk menembus pasar global.

Produk tersebut dikembangkan oleh Rumah Mocaf Indonesia bersama Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Kuningan melalui program pemberdayaan petani yang diinisiasi MPM PP Muhammadiyah.

Ketua MPM PP Muhammadiyah M. Nurul Yamin mengapresiasi capaian kelompok binaan yang mampu membawa produk pangan lokal Indonesia ke salah satu ajang perdagangan internasional terbesar di Korea Selatan.

Baca juga: Muhammadiyah Miliki 23 Fakultas Kedokteran untuk Pemerataan Kesehatan di Luar Jawa

Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa program pemberdayaan masyarakat tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi juga membuka akses menuju pasar nasional hingga internasional.

"Saat ini MPM PP Muhammadiyah melakukan pemetaan kelompok dampingan berbasis ekonomi. Setidaknya terdapat tiga klaster, yaitu mikro, skala ekonomi regional dan nasional, serta ekspor," ujar Yamin di Yogyakarta, Jumat (26/6/2026).

Ia berharap setiap kelompok usaha yang dibina dapat berkembang secara bertahap, mulai dari skala usaha mikro hingga mampu menjadi pelaku ekspor.

"Harapannya, kelompok yang berada di klaster super mikro dapat naik ke kelas regional dan nasional, kemudian berkembang menjadi pelaku ekspor," katanya.

Sementara itu, Sekretaris MPM PP Muhammadiyah Budi Nugroho menjelaskan bahwa Korea Import Expo 2026 berlangsung pada 23–25 Juni 2026 dan menjadi ajang pertemuan antara produsen dari berbagai negara dengan importir serta pembeli internasional.

Pameran yang diselenggarakan oleh Korea Importers Association (KOIMA) tersebut diikuti peserta dari sekitar 100 negara.

Indonesia hadir melalui Paviliun Indonesia yang mendapat dukungan dari Bank Indonesia, Kementerian Perdagangan RI, serta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Korea Selatan.
Dalam pameran itu, berbagai produk olahan berbasis singkong dan ubi jalar menarik perhatian pengunjung.

Produk yang dipamerkan antara lain tepung Modified Cassava Flour (Mocaf), tepung ubi jalar putih, kuning, dan ungu, tepung premiks, cookies bebas gluten (gluten free), hingga aneka pangan sehat berbahan baku umbi-umbian lokal.

Seluruh produk tersebut merupakan hasil hilirisasi komoditas pertanian yang dikembangkan melalui kolaborasi MPM PP Muhammadiyah bersama JATAM Kuningan, LAZISMU, Universitas Muhammadiyah Kuningan, dan Rumah Mocaf Indonesia.

Menurut Budi, keikutsertaan dalam pameran internasional ini menjadi bukti bahwa pangan lokal Indonesia memiliki daya saing tinggi apabila diolah melalui inovasi teknologi dan penguatan kelembagaan petani.

"Komoditas pangan lokal yang selama ini dipandang sebelah mata ternyata mampu memiliki nilai tambah tinggi ketika diolah melalui inovasi teknologi, penguatan kelembagaan petani, dan model bisnis yang berkelanjutan," ujarnya.

Founder Rumah Mocaf Indonesia Riza Azyumarridha Azra mengatakan Korea Import Expo 2026 menjadi momentum penting bagi petani Indonesia untuk menunjukkan kemampuan menghasilkan produk berstandar ekspor.

Menurutnya, pertemuan langsung dengan para pembeli dari berbagai negara memberikan pengalaman berharga bagi petani dalam memahami standar mutu internasional, keberlanjutan pasokan, hingga inovasi produk pangan sehat.

"Korea Import Expo 2026 menjadi pembuktian bahwa produk pertanian Indonesia yang ditanam oleh Jamaah Tani Muhammadiyah mampu naik kelas dan bersaing di pasar global," kata Riza.

Baca juga: Muhammadiyah Minta Program MBG Dibenahi dan Anggarannya Transparan

Ia menambahkan, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat harus diarahkan tidak hanya pada peningkatan hasil panen, tetapi juga membuka akses terhadap industri pengolahan, teknologi, jaringan perdagangan, dan pasar ekspor.

"Bagi kami, inilah wujud nyata sociopreneurship yang berkeadilan sebagaimana diajarkan KH Ahmad Dahlan. Pertanian bukan hanya soal menghasilkan panen, tetapi juga membangun sistem ekonomi yang mampu mengangkat harkat dan martabat petani melalui inovasi, kolaborasi, dan keberpihakan kepada masyarakat," ujarnya.

Melalui partisipasi di Korea Import Expo 2026, Muhammadiyah berharap peluang ekspor produk pangan lokal Indonesia semakin terbuka lebar sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen pangan sehat berbasis singkong dan ubi jalar di pasar internasional.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar