BANYUWANGI, KOMPAS.com - Di tengah derasnya arus modernisasi, masih banyak tradisi yang tetap hidup karena menyimpan nilai-nilai luhur.
Salah satunya adalah selamatan kampung, tradisi yang hingga kini masih dijaga oleh masyarakat sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan sekaligus doa bersama agar kampung senantiasa diberi keselamatan, keberkahan, dan kelancaran rezeki.
Suasana hangat tampak menyelimuti lingkungan permukiman Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi saat warga menggelar selamatan di depan rumah masing-masing.
Berbagai hidangan sederhana ditata rapi, kemudian dibawa ke depan rumah sebagai simbol kebersamaan.
Setelah doa bersama dipanjatkan, makanan-makanan tersebut saling dipertukarkan antartetangga.
Baca juga: Sedekah Kolektif ASN Banyuwangi di Peringatan 1 Muharram, Wujud Ta’awun untuk Sesama
Tradisi sederhana ini menghadirkan makna yang jauh lebih besar daripada sekadar berbagi hidangan.
Ketua RW, Hujaini, mengatakan selamatan kampung merupakan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ungkapan syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT sekaligus ikhtiar batin memohon keselamatan bagi seluruh warga.
"Selamatan kampung adalah bentuk rasa syukur kami kepada Allah SWT. Kami berdoa agar seluruh warga diberi kesehatan, keselamatan, serta rezeki yang semakin lancar. Tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa hidup bertetangga harus saling peduli dan menjaga kebersamaan," ujarnya, Rabu (1/7/2026).
Tak hanya menjadi ritual doa, selamatan kampung juga mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Kesibukan sehari-hari yang kerap membuat warga jarang bertemu seolah terhenti sejenak ketika mereka berkumpul di depan rumah, saling menyapa, berbincang, dan bertukar makanan dengan penuh keakraban.
Ani Rahayu, salah seorang warga, mengaku selalu menantikan tradisi tersebut.
Baginya, selamatan kampung menjadi momen yang mampu mempererat tali silaturahmi antarwarga.
"Kalau ada selamatan seperti ini, kami bisa berkumpul lagi. Tetangga yang biasanya hanya berpapasan jadi bisa duduk bersama, saling mendoakan, dan saling berbagi makanan. Rasanya suasana kampung jadi lebih hangat," katanya.
Hal senada disampaikan Farhu.
Menurutnya, tradisi bertukar makanan mengajarkan nilai kepedulian dan kebersamaan tanpa memandang latar belakang.
"Yang dibagikan mungkin sederhana, tetapi maknanya sangat besar. Kami belajar untuk saling berbagi, saling mendoakan, dan memperkuat hubungan dengan tetangga. Semoga dengan kebersamaan ini Allah memberikan keberkahan dan melancarkan rezeki seluruh warga," tuturnya.
Di balik hidangan yang tersaji dan doa yang dipanjatkan, selamatan kampung sesungguhnya menyimpan pesan penting bahwa keberkahan hidup tidak hanya lahir dari usaha, tetapi juga dari rasa syukur, doa, dan hubungan baik dengan sesama.
Ketika warga saling bertukar makanan, yang sesungguhnya sedang dipertukarkan bukan hanya lauk atau nasi, melainkan juga perhatian, persaudaraan, dan harapan agar kehidupan di lingkungan mereka senantiasa dipenuhi kedamaian.
Baca juga: Tradisi Pencucian Kabah Digelar 15 Muharram, Gunakan Air Zamzam Campur Air Mawar
Di era ketika interaksi sosial semakin berkurang, tradisi selamatan kampung menjadi pengingat bahwa nilai gotong royong, silaturahmi, dan rasa syukur merupakan warisan budaya yang tetap relevan untuk dirawat.
Sebab, kampung yang kuat bukan hanya dibangun oleh rumah-rumah yang berdiri kokoh, tetapi juga oleh hati-hati warganya yang saling terhubung melalui doa, kepedulian, dan kebersamaan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang