Editor
KOMPAS.com - Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Ghofur Maimun mendorong agar kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa karya Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa menjadi salah satu referensi dalam pembahasan Bahtsul Masail pada Muktamar Nahdlatul Ulama mendatang.
Menurut Gus Ghofur, kitab tersebut memuat berbagai isu penting yang layak mendapat perhatian lebih dalam forum-forum resmi NU, termasuk Muktamar dan Musyawarah Nasional (Munas).
"Isu-isu dalam buku itu perlu mendapatkan tempat yang semestinya," kata Gus Ghofur dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (11/7/2026).
Pernyataan itu disampaikan saat peluncuran dan bedah kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa di Aula Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta.
Baca juga: Jelang Muktamar NU ke-35, KH Zulfa Mustofa Nyatakan Siap Maju Jadi Calon Ketua Umum
Acara tersebut mendapat apresiasi dari sejumlah tokoh NU yang menilai kitab tersebut memberi kontribusi signifikan bagi pengembangan fikih kontemporer di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Gus Ghofur menilai pelaksanaan Muktamar NU selama ini kerap lebih banyak menyita perhatian publik pada dinamika pemilihan Ketua Umum PBNU maupun Rais Aam PBNU. Sementara itu, pembahasan ilmiah melalui forum Bahtsul Masail justru sering kali kurang mendapatkan sorotan.
Karena itu, ia berharap karya-karya ilmiah seperti Ithafu Ummati Al-Muqtafa dapat menjadi bahan kajian utama dalam forum-forum keilmuan NU.
"Buku-buku yang seperti ini perlu kita sampaikan pada saat Muktamar maupun Munas NU," ujarnya.
Kitab tersebut menghimpun empat karya berbahasa Arab yang membahas metodologi Bahtsul Masail, ushul fikih, fatwa kontemporer, hingga sejarah intelektual Syekh Nawawi al-Bantani.
Salah satu pokok bahasannya mengulas metode pengambilan keputusan hukum di lingkungan NU yang tidak hanya berpijak pada teks keagamaan, tetapi juga mempertimbangkan tujuan syariat (maqashid syariah), kondisi sosial masyarakat, adat istiadat, serta perkembangan zaman sebelum sebuah fatwa ditetapkan.
Mustasyar PBNU KH Said Aqil Siroj turut memberikan apresiasi terhadap terbitnya kitab tersebut. Menurutnya, karya ilmiah seperti ini menjadi kebutuhan penting di tengah derasnya arus informasi digital yang sering kali menghadirkan pemahaman keagamaan secara instan dan dangkal.
"Di tengah derasnya informasi teknologi yang serba digital dan dangkal, maka membuat satu rujukan yang berakar kokoh dalam satu bidang keilmuan seperti kitab ini merupakan kebutuhan mendasar bagi perkembangan ilmu pengetahuan," kata Said Aqil.
Ia menambahkan, kitab karya Kiai Zulfa menjadi pengingat bahwa NU tidak hanya bergerak dalam aspek organisasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab menjaga dan mengembangkan tradisi keilmuan pesantren yang menjadi ruh perjuangan Nahdlatul Ulama.
Sementara itu, penulis kitab sekaligus Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa mengajak para ulama, kiai, akademisi, dan kalangan pesantren untuk kembali menghidupkan tradisi menulis kitab sebagai warisan intelektual umat Islam.
Menurutnya, kekuatan peradaban Islam sejak masa awal hingga berkembang di Nusantara tidak hanya lahir dari para ulama yang alim, tetapi juga dari karya-karya ilmiah yang mereka tinggalkan.
Baca juga: Jelang Muktamar NU, KH Zulfa Mustofa Ajak Ulama Hidupkan Tradisi Menulis Kitab
"Tradisi ulama adalah tradisi ilmu. Dan tradisi ilmu tidak akan kokoh tanpa tradisi menulis. Karena itulah para ulama terdahulu tidak hanya mendidik murid, tetapi juga meninggalkan kitab sebagai warisan intelektual bagi umat," ujar Kiai Zulfa.
Ia berharap semangat menulis kitab kembali tumbuh di lingkungan pesantren sehingga tradisi keilmuan Islam yang bersanad dan relevan dengan perkembangan zaman dapat terus berlanjut sekaligus menjadi fondasi bagi lahirnya keputusan-keputusan keagamaan yang responsif terhadap persoalan kontemporer.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang