Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jelang Muktamar NU 2026, Gus Salam Safari ke 22 Wilayah untuk Serap Aspirasi

Kompas.com, 13 Juli 2026, 20:14 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) 2026, dinamika bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin menghangat.

Salah satu kandidat, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, terus membangun komunikasi dengan pengurus wilayah dan cabang untuk menyerap aspirasi sekaligus memperkuat konsolidasi organisasi.

Upaya tersebut dilakukan melalui silaturahmi resmi kepada pemilik hak suara di berbagai daerah menjelang pelaksanaan Muktamar.

Baca juga: PCNU Bone Dukung Prof Nasaruddin Umar Maju sebagai Calon Ketua Umum PBNU di Muktamar NU 2026

Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, Jombang, itu mengatakan komunikasi dengan para pemilik suara sah semakin intensif dilakukan sebagai bagian dari persiapan menghadapi Muktamar NU.

Lakukan Safari, Gus Salam Sudah Sambangi 22 PWNU

Gus Salam, yang merupakan cucu salah seorang pendiri NU, menegaskan keseriusannya maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.

Baca juga: Jelang Muktamar, Rembuk Warga NU Jabodetabek Seri 3 Soroti Diplomasi Internasional PBNU

Hingga saat ini, ia menyebut telah melakukan silaturahmi resmi ke 22 Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU).

"Alhamdulillah sampai hari ini kami sudah bersilaturahim di 22 PWNU," kata Gus Salam saat dikonfirmasi Surya.co.id di Surabaya, Senin (13/7/2026).

Mantan Wakil Ketua PWNU Jawa Timur itu menegaskan seluruh agenda silaturahmi dilakukan melalui jalur organisasi yang resmi dengan tetap menghormati struktur kepengurusan di daerah.

"Alhamdulillah setiap kami bersilaturahim itu selalu melalui PWNU-nya resmi. Artinya tidak tidak pernah kami itu masuk ke daerah kemudian tanpa pamit minimal atau tanpa sepengetahuan PWNU setempat. Ini hierarki struktural," jelas Gus Salam.

Ia menargetkan agenda silaturahmi dapat menjangkau sedikitnya 90 persen wilayah hingga awal Agustus mendatang.

Desak PBNU Segera Tetapkan Status Hak Suara

Selain melakukan konsolidasi, Gus Salam juga meminta PBNU segera memberikan kepastian mengenai legalitas kepengurusan daerah yang belum menerima surat keputusan (SK).

Menurutnya, kepastian tersebut penting untuk menghindari simpang siur terkait peserta yang memiliki hak suara maupun hanya hak berbicara dalam Muktamar.

"Kami mendesak agar segera ada rilis tentang status PCNU, PWNU maupun PCINU yang punya hak suara di muktamar atau hanya hak berbicara agar tidak ada simpang siur informasi dan agar mereka masing-masing juga segera tenang untuk mempersiapkan diri mengikuti muktamar," jelasnya.

Menurut Gus Salam, kejelasan status kepengurusan akan membantu seluruh peserta mempersiapkan diri menghadapi forum Muktamar secara lebih baik.

Tangkap Aspirasi Perubahan Kepemimpinan

Berdasarkan hasil silaturahmi ke berbagai daerah, Gus Salam mengaku menangkap aspirasi yang menginginkan perubahan kepemimpinan di PBNU.

Menurutnya, banyak pengurus wilayah dan cabang menyampaikan keinginan agar konflik internal yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir tidak kembali terulang.

"Ya (aspirasi) perubahan yang spesifik itu tentang perubahan kepemimpinan. Karena yang mereka lelahkan dan yang mereka keluhkan itu adalah tentang konflik," ujar Gus Salam.

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Forum tersebut akan menjadi ajang konsolidasi organisasi sekaligus memilih Ketua Umum PBNU untuk periode berikutnya.

Artikel ini telah tayang di Surya.co.id dengan judul “Bursa Ketum PBNU, Cucu Pendiri NU Gus Salam Safari ke 22 Wilayah Jelang Muktamar Jombang”. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
5 Hadits tentang Larangan LGBT dalam Islam, Lengkap dengan Penjelasan Ulama
5 Hadits tentang Larangan LGBT dalam Islam, Lengkap dengan Penjelasan Ulama
Aktual
Jelang Muktamar NU 2026, Gus Salam Safari ke 22 Wilayah untuk Serap Aspirasi
Jelang Muktamar NU 2026, Gus Salam Safari ke 22 Wilayah untuk Serap Aspirasi
Aktual
Surah Tiga Qul Lengkap (Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas) Keutamaan dan Waktu Terbaik Membacanya
Surah Tiga Qul Lengkap (Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas) Keutamaan dan Waktu Terbaik Membacanya
Doa dan Niat
6 Ayat Al-Quran tentang Larangan LGBT, Lengkap dengan Penjelasan Ulama Tafsir
6 Ayat Al-Quran tentang Larangan LGBT, Lengkap dengan Penjelasan Ulama Tafsir
Aktual
Rashdul Qiblat 15-16 Juli 2026, Ini Waktu dan Cara Cek Arah Kiblat Secara Akurat
Rashdul Qiblat 15-16 Juli 2026, Ini Waktu dan Cara Cek Arah Kiblat Secara Akurat
Aktual
Menag Ajak Masyarakat Cek Arah Kiblat saat Rashdul Qiblat 15-16 Juli 2026
Menag Ajak Masyarakat Cek Arah Kiblat saat Rashdul Qiblat 15-16 Juli 2026
Aktual
Lewat Aplikasi AMAN, Masyarakat Kini Bisa Laporkan Kekerasan di Pesantren dan Madrasah
Lewat Aplikasi AMAN, Masyarakat Kini Bisa Laporkan Kekerasan di Pesantren dan Madrasah
Aktual
Berawal Dari Niat Founder, Program Umrah Paragoncorp Telah Berangkatkan Ribuan Peserta Sejak 2017
Berawal Dari Niat Founder, Program Umrah Paragoncorp Telah Berangkatkan Ribuan Peserta Sejak 2017
Aktual
Paragoncorp Berangkatkan Umrah 135 Karyawan, Menhaj Beri Apresiasi
Paragoncorp Berangkatkan Umrah 135 Karyawan, Menhaj Beri Apresiasi
Aktual
Apakah Semua Obat Wajib Bersertifikat Halal? Begini Penjelasan MUI
Apakah Semua Obat Wajib Bersertifikat Halal? Begini Penjelasan MUI
Aktual
PCNU Bone Dukung Prof Nasaruddin Umar Maju sebagai Calon Ketua Umum PBNU di Muktamar NU 2026
PCNU Bone Dukung Prof Nasaruddin Umar Maju sebagai Calon Ketua Umum PBNU di Muktamar NU 2026
Aktual
Jelang Muktamar, Rembuk Warga NU Jabodetabek Seri 3 Soroti Diplomasi Internasional PBNU
Jelang Muktamar, Rembuk Warga NU Jabodetabek Seri 3 Soroti Diplomasi Internasional PBNU
Aktual
Doa Nur Nubuwat Arab Lengkap, Asal-usul dan Keutamaannya
Doa Nur Nubuwat Arab Lengkap, Asal-usul dan Keutamaannya
Doa dan Niat
Kemenag Luncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman di Pesantren & Madrasah
Kemenag Luncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman di Pesantren & Madrasah
Aktual
Zulhas Ajak Pesantren Jadi Motor Swasembada Pangan dan Penggerak Ekonomi Desa
Zulhas Ajak Pesantren Jadi Motor Swasembada Pangan dan Penggerak Ekonomi Desa
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar