Editor
KOMPAS.com - Shalat wajib harus menjadi prioritas utama dalam kehidupan seorang Muslim di tengah derasnya pengaruh teknologi dan media sosial.
Namun, tidak sedikit orang yang justru lebih panik saat kehilangan telepon genggam daripada ketika meninggalkan shalat.
Di sisi lain, kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain melalui media sosial juga kerap memicu rasa iri dan mengganggu ketenangan batin.
Baca juga: Khutbah Jumat Menyentuh Hati, Muhasabah demi Meraih Kebahagiaan di Akhirat
Pesan tersebut disampaikan Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Dr. H. AM Jumai, S.E., M.M., dalam kajian Islam bertajuk "Utamakan Shalat dan Berhenti Membandingkan Hidup di Media Sosial" di Masjid Al Fiqh Mujahidin, Mangkang, Semarang, Ahad (5/7/2026), seperti dilansir dari laman muhammadiyahsemarangkota.org.
Dalam kajian bertema "Kunci Hidup Tenang", AM Jumai mengajak ratusan jamaah merenungkan tujuan hidup serta pentingnya menjaga hubungan dengan Allah SWT di tengah ambisi materi dan berbagai persoalan sosial.
Baca juga: 5 Surat Terpendek dalam Al-Quran yang Mudah Dihafal dan Sering Dibaca Saat Shalat
Menurutnya, salah satu indikator yang patut menjadi bahan muhasabah adalah ketika seseorang merasa sangat gelisah kehilangan telepon genggam, tetapi tidak merasakan kegelisahan yang sama saat meninggalkan shalat.
“Sering kali seseorang sangat gelisah ketika kehilangan telepon genggam, tetapi merasa biasa saja ketika meninggalkan shalat. Ini menjadi bahan muhasabah: jangan sampai kecintaan kepada dunia lebih besar daripada kecintaan kepada Allah,” pesan Dr. H. AM Jumai di hadapan para jamaah yang hadir.
Ia menegaskan bahwa rezeki memang telah dijamin Allah SWT, tetapi hal itu tidak boleh membuat seorang Muslim bermalas-malasan.
Setiap orang tetap berkewajiban bekerja keras mencari nafkah yang halal tanpa mengabaikan kewajiban beribadah.
Menurutnya, menjaga shalat secara istiqamah akan memberikan ketenangan hati, memperkuat keharmonisan keluarga, sekaligus menghadirkan keberkahan dalam kehidupan.
AM Jumai juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah membandingkan pencapaian hidup dengan orang lain melalui media sosial.
Kebiasaan tersebut, menurutnya, kerap memicu rasa iri, tidak puas, dan mengganggu kesehatan mental.
Sebagai gantinya, ia mengajak jamaah memperbanyak rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
Sikap syukur dinilai menjadi benteng terbaik untuk menjaga ketenangan jiwa di tengah derasnya arus informasi digital.
Selain itu, ia mendorong umat Islam agar menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar melalui berbagai bentuk kebaikan sederhana, seperti memberikan senyuman, membantu tetangga, maupun menjaga kebersihan masjid.
Pada bagian akhir kajian, AM Jumai memaparkan tiga prinsip utama dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, baik yang berkaitan dengan ekonomi, keluarga, maupun tantangan lainnya.
Menurutnya, setiap ujian perlu dihadapi dengan kesabaran, ikhtiar yang sungguh-sungguh, dan tawakal kepada Allah SWT. Ia menegaskan bahwa ujian bukanlah tanda kebencian Allah, melainkan sarana untuk meningkatkan derajat keimanan seorang hamba.
AM Jumai juga memberikan pesan khusus kepada setiap anggota keluarga. Kaum ibu diharapkan menjadi penyejuk rumah tangga melalui tutur kata yang lembut, sedangkan para ayah diminta menjalankan peran sebagai pemimpin keluarga yang menghadirkan rasa aman dan ketenangan.
Kajian ditutup dengan ajakan untuk memperbanyak istighfar, memperbanyak sedekah, serta rutin bershalawat sebagai bekal spiritual dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Melalui pesan tersebut, jamaah diharapkan mampu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah sekaligus tetap teguh menjalankan ibadah di tengah dinamika kehidupan modern.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang