Editor
KOMPAS.com – Ratusan ribu masyarakat dan jamaah Shalawat Nariyah dari berbagai daerah memadati Alun-alun Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, pada Minggu (19/7/2026) dalam rangka Haul Masyayikh.
Selain mendoakan para ulama dan tokoh masyarakat yang telah wafat, ribuan jamaah juga memanjatkan doa agar Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik.
Bupati Situbondo sekaligus Ketua Panitia Haul Masyayikh, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada para masyayikh (ulama sepuh/ cendikiawan muslim), kiai, dan tokoh masyarakat yang telah berjasa bagi bangsa dan agama.
"Kegiatan ini bertujuan mendoakan para masyayikh dan tokoh masyarakat se-Nusantara agar mendapatkan rahmat dan keberkahan dari Allah SWT. Kami juga memohon agar Indonesia menjadi bangsa yang semakin baik," ujar Rio kepada wartawan.
Baca juga: PBNU Tetapkan Logo Muktamar Ke-35 NU Karya Alumnus Langitan
Ia menjelaskan, rangkaian doa dipimpin langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Wali Songo Situbondo, KHR Moh Kholil As'ad Syamsul Arifin, dengan diikuti para pengasuh pondok pesantren serta jamaah Shalawat Nariyah dari berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Rio, peserta datang dari berbagai daerah, mulai dari Jawa Timur, Jakarta, Kalimantan, hingga wilayah lain di Tanah Air.
Ia juga menegaskan penyelenggaraan Haul Masyayikh tidak menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Seluruh pembiayaan berasal dari swadaya para jamaah Shalawat Nariyah.
"Seluruh kegiatan ini dibiayai melalui urunan para jamaah Shalawat Nariyah, bukan menggunakan APBD," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, ulama muda KH Muhammad Abdur Rahman Al Kautsar, yang akrab disapa Gus Kautsar, mengajak seluruh jamaah untuk terus mengamalkan Shalawat Nariyah secara istiqamah.
Menurutnya, Shalawat Nariyah merupakan salah satu amalan yang dianjurkan para ulama karena mengandung banyak keutamaan bagi kehidupan seorang Muslim.
"Betapa bijaksananya guru-guru kita. Dari sekian banyak Shalawat, yang dianjurkan untuk diamalkan adalah Shalawat Nariyah," ujar Gus Kautsar dalam tausiyahnya.
Ia menjelaskan, dengan membiasakan membaca Shalawat Nariyah, seorang Muslim berharap memperoleh pertolongan Allah SWT, kemudahan dalam berbagai urusan, dijauhkan dari kesulitan, serta mendapatkan keberkahan dalam kehidupannya.
Gus Kautsar juga mengajak jamaah untuk menjadikan Shalawat sebagai bagian dari amalan harian.
"Insya Allah, dengan istiqamah membaca Shalawat Nariyah, Allah memberikan kemudahan dalam berbagai urusan dan mencurahkan keberkahan," tuturnya.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa seluruh umat Islam memiliki tujuan yang sama, yakni memperoleh keselamatan di dunia maupun di akhirat. Menurutnya, memperbanyak berShalawat menjadi salah satu ikhtiar untuk meraih ampunan Allah SWT atas berbagai kekhilafan yang dilakukan.
"Kita semua menginginkan keselamatan dunia dan akhirat. Kita banyak salah dan lalai, maka perbanyaklah berShalawat kepada Rasulullah SAW, semoga Allah memberikan ampunan dan keselamatan," katanya.
Haul Masyayikh Situbondo turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, kepala daerah, serta pengasuh pondok pesantren dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Baca juga: Nobar Piala Dunia 2026 Bengkulu: Doa Bersama dan Santunan Yatim
Di antaranya Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton KH Moh Zuhri Zaini, mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Abdullah Azwar Anas, Bupati Bondowoso KH Abd Hamid Wahid, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, beserta sejumlah tokoh masyarakat lainnya.
Kehadiran ratusan ribu jamaah menjadikan Haul Masyayikh Situbondo sebagai salah satu agenda keagamaan terbesar di wilayah Tapal Kuda yang tidak hanya mempererat ukhuwah Islamiyah, tetapi juga menjadi momentum bersama untuk mendoakan para ulama serta memohon keberkahan dan kebaikan bagi bangsa Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang