Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menag Sebut Jawa Timur Layak Jadi Laboratorium Kerukunan Dunia

Kompas.com, 4 Agustus 2026, 07:41 WIB
Reni Susanti

Editor

SURABAYA, KOMPAS.com - Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menilai Jawa Timur layak menjadi laboratorium kerukunan dunia karena memiliki modal sosial yang kuat dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman.

Menurut dia, Jawa Timur merepresentasikan wajah Islam Indonesia yang moderat, nasionalis, dan menjunjung tinggi semangat persaudaraan.

"Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat melalui ulama, pesantren, organisasi keagamaan, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat yang dapat menjadi kekuatan kerukunan nasional. Dari Jawa Timur kita ingin menunjukkan bahwa Islam yang kuat dapat berjalan bersama nasionalisme yang kuat dan kerukunan yang kuat," kata Nasaruddin saat kegiatan Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya.

Baca juga: Indonesia Tak Boleh Diacak-acak, Pesan Menag di Zikir Kebangsaan

Dikutip dari laman UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Selasa (4/8/2026), kegiatan tersebut diikuti sekitar 20.000 jamaah dalam rangkaian istighatsah dan tabligh akbar, serta sekitar 500 peserta Seminar Nasional bertema Masjid Harmony: Religious Diplomacy and Global Peace.

Imam diminta jadi duta perdamaian

Dalam kesempatan itu, Nasaruddin mengajak para imam masjid mengambil peran lebih luas, tidak hanya memimpin ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun perdamaian dunia.

"Kita ingin imam Indonesia bukan hanya menjadi imam yang baik bagi jamaahnya, tetapi juga menjadi duta perdamaian Indonesia yang mampu membawa pengalaman Islam Indonesia ke panggung dunia," ujarnya.

Ia mengatakan, pengalaman Indonesia dalam merawat keberagaman dapat menjadi contoh bagi negara lain dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai.

Baca juga: Menag Ingatkan Tak Main Hakim Sendiri Soal LGBT, MUI Siapkan RUU Pidana

Menuju IGIC 2026

Ketua Steering Committee IGIC 2026, Irjen Pol M Sabilul Alif, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari persiapan menuju International Grand Imams Conference (IGIC) 2026.

Menurut dia, forum tersebut mempertemukan ulama, imam masjid, akademisi, pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat untuk memperkuat diplomasi keagamaan Indonesia.

"Bridging to IGIC 2026 bukan sekadar seremoni, tetapi momentum menyatukan kekuatan imam, ulama, pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam membangun ekosistem perdamaian yang dapat menjadi inspirasi dunia," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia IGIC 2026 Faried F. Saenong mengatakan Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam menjaga harmoni di tengah masyarakat yang majemuk.

"Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam membangun harmoni di tengah kemajemukan. Pengalaman inilah yang akan kita hadirkan sebagai kontribusi nyata bagi perdamaian global melalui IGIC 2026," katanya.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan istighatsah dan tabligh akbar yang dipimpin Menteri Agama di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar