Editor
KOMPAS.com - Berdoa sering dianggap sebagai pelengkap ibadah, sesuatu yang baru diingat ketika ada masalah atau musibah. Padahal, dalam ajaran Islam, doa memiliki kedudukan yang jauh lebih dalam.
Doa adalah bukti bahwa manusia benar-benar membutuhkan Allah SWT dalam setiap tarikan napasnya.
Hal ini diulas dalam jurnal berjudul "Konsep Doa dalam Perspektif Islam" karya Zhila Jannati dan Muhammad Randicha Hamandia dari Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang serta (JKPI, 2022) serta "Doa dalam Perspektif Al-Qur'an" karya Mursalim (Jurnal Al-Ulum, 2011).
Baca juga: Ingin Doa Cepat Dikabulkan? Ini Adab dan 15 Waktu Mustajab untuk Berdoa
Terdapat dua faktor yang mendorong manusia mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui doa.
Pertama, dari sisi kebesaran dan keagungan Allah SWT. Allah memiliki sifat kesempurnaan atas segala sesuatu, termasuk kekuasaan penuh atas diri manusia.
Karena itu, siapa pun yang beriman kepada-Nya pasti akan senantiasa bergantung dan membutuhkan-Nya.
Kedua, dari sisi manusia itu sendiri. Sebagai makhluk, manusia memiliki naluri untuk merasa senang dan susah, gembira dan sedih, takut dan berharap.
Karena itulah manusia sesungguhnya membutuhkan sandaran yang mutlak kuat, yang mampu menolongnya dan menghilangkan rasa cemas. Tidak ada yang bisa melakukan itu selain Allah SWT.
Doa sendiri terbagi menjadi dua jenis yaitu doa Ihtiyaj, yaitu doa yang lahir dari rasa membutuhkan Allah SWT, dan doa Ubudiyah, yaitu doa sebagai wujud pendekatan diri dan penghambaan kepada-Nya.
Baca juga: Bolehkah Berdoa dengan Kata-Kata Sendiri Saat Shalat? Ini Penjelasannya dari Berbagai Mazhab
Selain menjelaskan alasan teologisnya, jurnal ini merangkum sejumlah keutamaan doa yang bersumber dari hadits Nabi Muhammad SAW:
1. Doa adalah ibadah, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Tirmidzi.
2. Doa adalah sesuatu yang mulia—"Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah selain doa" (HR. Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Majah).
3. Doa menjadi tabungan amal di akhirat dan dapat menghapus dosa, selama doa itu tidak diminta untuk kemaksiatan, memutus silaturahmi, atau dipanjatkan dengan sikap terburu-buru (HR. Tirmidzi).
4. Doa adalah perisai orang mukmin, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi (HR. Al-Hakim).
5. Doa dapat menjauhkan diri dari kejahatan, selama doa itu tidak membawa dosa atau memutus kasih sayang (HR. Tirmidzi).
6. Doa mampu menolak qadha—"Tidak akan menolak qadha melainkan doa" (HR. Tirmidzi, Ath-Thahawi, dan lainnya).
7. Doa dapat meredam murka Allah SWT—sebaliknya, siapa yang tidak pernah berdoa justru berisiko mendapat kemurkaan-Nya (HR. Ibnu Majah).
8. Doa dapat mengubah keadaan, baik yang telah terjadi maupun yang belum terjadi (HR. At-Tirmidzi dan Al-Hakim).
Doa sejatinya adalah bentuk komunikasi manusia dengan Allah SWT, bagaimana cara kita memohon, mengungkapkan harapan, sekaligus mendekatkan diri kepada-Nya.
Orang yang senantiasa berdoa, tanpa menunggu datangnya masalah, adalah orang yang benar-benar menyadari bahwa dirinya tidak memiliki kekuatan apa pun selain dari Allah SWT.
Karena itu, doa semestinya bukan sekadar "tombol darurat" yang ditekan saat kesulitan datang, melainkan kebiasaan yang terus dijaga, baik dalam suka maupun duka, sebagai bentuk penghambaan yang tulus kepada Sang Pencipta.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang