KOMPAS.com - Sebagian orang saat ini memandang pernikahan sebagai perwujudan rasa takut dan kekhawatiran. Fenomena sosial ini dikenal dengan istilah marriage is scary.
Ketakutan untuk menikah dapat muncul karena berbagai faktor.
Seseorang mungkin khawatir tidak mampu menjalankan tanggung jawab sebagai pasangan, takut salah memilih, atau cemas terhadap kondisi finansial yang dialami setelah berumah tangga.
Baca juga: Kemenag Edukasi Wedding Organizer soal Syariat dan Regulasi Pernikahan Lewat Nikah Fest 2026
Kondisi lingkungan sekitar juga dapat memengaruhi pandangan seseorang terhadap pernikahan.
Berita sosial media mengenai perceraian, berbagai konflik dalam rumah tangga, dapat menjadi pemicu pandangan mengerikan terhadap pernikahan. Seseorang dapat merasa pernikahan merupakan suatu yang rumit dan penuh permasalahan.
Dalam kajian Gerakan Subuh Mengaji yang diselenggarakan Muhammadiyah, fenomena ini turut dibahas.
Ketakutan menikah di kalangan generasi muda dapat dipengaruhi trauma masa lalu, paparan berita perceraian di media sosial, serta kekhawatiran finansial dan sosial.
Pernikahan dalam Pandangan Islam
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Ar-Rum ayat 21:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ٢١
Artinya: Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.
Baca juga: 200 Caption Pernikahan yang Aesthetic, Romantis, dan Penuh Makna
Islam memandang pernikahan bukan hanya sebagai hubungan antara dua orang, melainkan ikatan yang memiliki tanggung jawab yang besar.
Ayat di atas menggambarkan bahwa pernikahan sebagai hubungan yang menghadirkan ketenteraman, kasih sayang, dan cinta antara pasangan.
Perasaan takut yang dialami seseorang bukan berarti penolakan terhadap pernikahan.
Kekhawatiran dalam batas tertentu dapat menjadi kesempatan untuk mengenali kesiapan diri.
Seseorang dapat bertanya kepada diri sendiri apakah sudah memahami tanggung jawab dalam rumah tangga, mampu berkomunikasi dengan pasangan, serta siapkah kompromi terhadap perbedaan dan permasalahan yang akan muncul.
Dalam Kajian Muhammadiyah, kesiapan tidak hanya berkaitan dengan kondisi finansial.
Pernikahan selain membutuhkan kesiapan finansial juga memerlukan kematangan mental, emosional, dan spiritual.
Dengan demikian, menikah bukan sekadar menemukan orang yang tepat, melainkan mempersiapkan diri agar mampu menjadi pasangan yang baik dan menjalankan tanggung jawab dalam keadaan kehidupan rumah tangga.
Konsep mawaddah wa rahmah menurut ajaran Islam adalah cinta dan kasih sayang.
Firman Allah dalam Surat Ar-Rum ayat 21 bahwa Dia menjadikan di antara pasangan rasa kasih dan sayang.
Keluarga diharapkan menjadi tempat bagi suami dan istri untuk saling mendukung. Dalam kajian Muhammadiyah, keluarga sakinah ditempatkan sebagai salah satu tujuan penting dalam kehidupan rumah tangga.
Keluarga dibangun dengan cinta, kasih sayang, dan kesetaraan. Hubungan suami istri bukan hanya persoalan pembagian peran, tetapi juga tentang kerja sama dalam menghadapi persoalan dan mewujudkan kemaslahatan keluarga.
Baca juga: Fenomena Marriage is Scary, Angka Pernikahan Terus Menurun
Ketakutan terhadap pernikahan tidak perlu diabaikan, tetapi juga tidak seharusnya membuat seseorang memandang pernikahan sebagai sesuatu yang pasti membawa penderitaan.
Fenomena marriage is scary ini diharapkan dapat dijawab dengan edukasi, kesiapan mental, pemahaman agama, dan ilmu membina rumah tangga.
Bekal tersebut diharapkan tidak memandang pernikahan sebagai hal yang menakutkan, tetapi sebagai perjalanan ibadah yang dijalani bersama.
Pada akhirnya, pernikahan memang tidak menjanjikan kehidupan tanpa masalah.
Namun, dengan kesiapan dan pemahaman yang baik, pasangan dapat belajar menghadapi persoalan, mencari titik temu, serta saling menguatkan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Sebagaimana pesan dalam kajian tersebut, harapannya bukan lagi marriage is scary, melainkan marriage is happiness.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang