Editor
KOMPAS.com — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menyebut profesi wartawan sebagai pekerjaan mulia karena memiliki tanggung jawab menghadirkan informasi yang benar, baik, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Menurut Haedar, tugas tersebut memiliki keterkaitan dengan tradisi literasi dalam Islam.
Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW bahkan diawali dengan perintah iqra atau membaca dalam Surah Al-Alaq ayat 1.
"Islam hadir melalui iqra, melalui Surah Al-Alaq ayat 1. Artinya, Islam mempunyai tradisi literasi yang profetik," kata Haedar dalam Peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).
"Dunia wartawan, dunia pers adalah dunia yang mulia," lanjutnya dikutip dari Suara Muhammadiyah.
Haedar mengatakan, pers memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan alternatif narasi dan informasi yang dapat dipercaya sekaligus memberikan arah bagi kehidupan masyarakat.
Namun, ia mengakui tugas tersebut tidak mudah. Pers harus bergerak di tengah berbagai kepentingan, mulai dari ekonomi, politik, hingga tuntutan publik.
Haedar mengibaratkan kondisi tersebut seperti mengayuh di antara banyak karang.
Kendati demikian, ia meyakini kecerdasan, kepiawaian, dan profesionalitas insan pers dapat membuat media tetap mampu menjalankan perannya.
"Dengan kecerdasan, dengan kepiawaian kita, dunia pers untuk tetap menyajikan informasi yang terbaik bagi masyarakat, bagi publik, sesulit apa pun kita akan bisa menampilkan kebenaran," ujarnya.
Baca juga: Muhammadiyah Luncurkan MSUS, Haedar Nashir Sebut Akan Tambah Daya Tampung
Menurut Haedar, keberadaan pers juga dibutuhkan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga negara.
Eksekutif, legislatif, yudikatif, TNI, Polri, maupun institusi lainnya membutuhkan informasi, masukan, dan kritik yang disampaikan melalui media massa.
Ia menilai kritik dan keberagaman informasi justru diperlukan agar kehidupan suatu bangsa dapat terus berkembang.
"Bangsa akan menjadi lebih maju," kata Haedar.
Karena itu, Haedar berharap para elite memiliki keterbukaan dan kepedulian untuk berbagi informasi kepada masyarakat.
Pada saat yang sama, pers harus tetap menjalankan fungsi kritik dengan berpegang pada etika dan kepentingan bangsa.
Haedar kemudian mengaitkan peran pers dengan kehidupan kebangsaan. Menurut dia, sebuah bangsa dapat bertahan karena memiliki kehendak bersama.
Perbedaan pandangan tidak harus menjadi sumber perpecahan karena Indonesia telah memiliki titik temu melalui Pancasila dan UUD 1945.
"Kebangsaan punya persepsi masing-masing dan di situlah bangsa bisa hidup. Bangsa dihidupkan oleh kehendak bersama," ujarnya.
Kehendak bersama tersebut, kata Haedar, harus diarahkan untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur.
Karena itu, seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan, akademisi, dan pers memiliki peran dalam menjaga arah kehidupan kebangsaan.
Sementara itu, Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menyoroti tantangan jurnalisme di tengah derasnya arus informasi.
Menurut Komaruddin, profesi wartawan harus dijalankan dengan tanggung jawab, integritas, dan kompetensi, bukan sekadar sebagai pekerjaan.
Ia mengatakan, tradisi Islam mengenal konsep tabayyun atau verifikasi untuk memastikan kebenaran sebuah informasi.
"Berita itu dalam tradisi Islam punya tradisi untuk dilakukan tabayyun atau verifikasi," kata Komaruddin.
Ia mencontohkan tradisi verifikasi dalam sejarah transmisi Al-Qur'an dan hadis, termasuk penggunaan mekanisme sanad untuk memastikan keabsahan informasi.
Prinsip tersebut dinilai semakin relevan ketika perkembangan teknologi digital membuat masyarakat terus-menerus terhubung dengan arus informasi melalui perangkat digital.
Peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di UMJ pun menjadi momentum untuk memperkuat tradisi literasi dan profesionalisme jurnalistik di tengah tantangan era digital dan kecerdasan buatan (AI).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang