Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof KH Asrorun Ni’am Sholeh mengajak masyarakat menjadikan momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia untuk memperkuat ketahanan keluarga dan menjaga moral bangsa.
Ajakan itu disampaikan Ni’am saat menjadi khatib shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026).
Menurut Ni’am, kemerdekaan tidak hanya perlu diisi dengan pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga penguatan akhlak serta ketakwaan.
“Mari kita jaga keluarga, jaga lingkungan, dan jaga akhlak bangsa demi kemaslahatan bersama,” kata Ni’am dikutip dari laman MUI, Sabtu (15/8/2026).
Baca juga: MUI: Korupsi Lebih Berbahaya dari Narkoba, Hukuman Mati Perlu Diterapkan
Dalam khutbahnya, Ni’am menyoroti pentingnya memahami batas toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurut Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu, penghargaan terhadap kebinekaan dan perbedaan tidak berarti semua tindakan dapat dibenarkan atas nama kebebasan.
“Kita perlu membedakan antara toleransi dengan permisivisme,” ujar Ni’am.
Ia kemudian menyinggung lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Menurut dia, toleransi terhadap perbedaan tidak dapat dimaknai sebagai pembenaran terhadap perilaku yang dalam pandangan Islam dianggap bertentangan dengan ajaran agama.
Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah itu mengatakan, Islam memiliki batas moral terkait hubungan seksual dan tatanan keluarga.
Karena itu, menurut Ni’am, kebebasan individu tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan atau mempromosikan perilaku yang bertentangan dengan syariat dan norma hukum.
Baca juga: MUI Dorong Budaya Hidup Halal di Sekolah: Bentuk Karakter Gen Z
Ni’am menjelaskan, dalam perspektif maqashid asy-syari'ah, hukum dan syariat ditujukan untuk menjaga kemaslahatan manusia.
Di antaranya adalah menjaga keturunan (hifzh an-nasl) dan menjaga agama (hifzh ad-din).
Ia berpandangan, perilaku yang dinilai merusak tatanan moral dapat berdampak terhadap generasi penerus bangsa.
Karena itu, Ni’am mengajak masyarakat memperkuat ketahanan keluarga dan lingkungan sebagai bagian dari upaya menjaga moral.
Menurut Ketua Umum Majelis Alumni IPNU tersebut, kekuatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) juga ditentukan oleh kualitas masyarakatnya.
Ia meyakini Indonesia akan semakin kokoh apabila masyarakat memiliki kekuatan iman, ilmu, dan akhlak.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang