Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Putra, Mahasiswa Muhammadiyah Juara Dunia Panjat Tebing Tampil di EISCC 2026

Kompas.com, 15 Agustus 2026, 08:17 WIB
Reni Susanti

Editor

BANDUNG, KOMPAS.com — Putra Tri Ramadani, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) yang mencetak sejarah di ajang panjat tebing dunia, kembali menunjukkan kemampuannya di Tanah Air.

Atlet yang akrab disapa Srondeng itu menjadi salah satu peserta Eiger Independence Sport Climbing Competition (EISCC) ke-17 yang digelar menjelang peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Bandung.

Kehadiran Putra menjadi perhatian setelah mahasiswa semester empat Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMSURA tersebut meraih medali emas World Climbing Series 2026 nomor lead putra di Praha, Ceko, Juni 2026.

Baca juga: Cerita Putra Tri Ramadani, dari Triplek Lapuk hingga Emas Panjat Tebing Dunia

Prestasi itu membuat Putra tercatat sebagai atlet Indonesia sekaligus atlet Asia Tenggara pertama yang meraih medali emas nomor lead dalam ajang tersebut.

Putra meraih 43 poin dan mengungguli atlet Jepang Neo Suzuki yang memperoleh 39 poin. Posisi ketiga ditempati atlet Austria Jakob Schubert.

"Ini adalah final kedua saya dan emas pertama, tentu sangat bahagia karena rute di final sangat sulit, terutama di bagian atas sampai tangan saya pump (kelelahan mencengkeram)," kata Putra, dikutip dari Antara, Sabtu (15/8/2026).

Meski telah mencetak sejarah, Putra mengatakan tidak ingin cepat berpuas diri. Medali tersebut justru menjadi motivasi baginya untuk mengejar prestasi berikutnya dan mengharumkan nama Indonesia.

Perjalanan Putra Menuju Panggung Dunia

Salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya Putra Tri Ramadani berhasil menorehkan sejarah yang belum pernah dicapai atlet Indonesia sebelumnya. Ia sukses meraih medali emas nomor lead pada World Climbing Series 2026 yang berlangsung di Praha, Ceko, Senin (8/6/2026) dini hari WIB.Dokumentasi Universitas Muhammadiyah Surabaya Salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya Putra Tri Ramadani berhasil menorehkan sejarah yang belum pernah dicapai atlet Indonesia sebelumnya. Ia sukses meraih medali emas nomor lead pada World Climbing Series 2026 yang berlangsung di Praha, Ceko, Senin (8/6/2026) dini hari WIB.

Prestasi Putra tidak datang dalam waktu singkat.

Perjalanannya menuju level dunia antara lain dimulai dari kompetisi di daerah. Pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2022 di Situbondo, Putra meraih medali emas.

Pencapaian tersebut membawanya masuk program Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) Jawa Timur.

Putra kemudian mengikuti berbagai kejuaraan nasional dan terbuka. Prestasinya semakin menonjol pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024 setelah memborong lima medali emas nomor lead, baik perorangan maupun beregu.

Hasil tersebut turut membuka jalannya bergabung dengan pemusatan latihan nasional Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI).

Di level dunia, Putra mengikuti tiga seri kejuaraan panjat tebing sebelum meraih emas di Praha. Pada dua seri sebelumnya, ia sudah mampu menembus babak final.

Pencapaian di Praha kemudian menjadi tonggak baru, tidak hanya dalam perjalanan karier Putra, tetapi juga bagi panjat tebing Indonesia di nomor lead.

Berbeda dengan nomor speed yang mengandalkan kecepatan mencapai puncak, lead menuntut atlet menaklukkan jalur yang panjang dan kompleks.

Daya tahan, kemampuan membaca jalur, teknik, hingga pemecahan masalah menjadi bagian penting dalam nomor tersebut.

Baca juga: Doa Upacara 17 Agustus 2026, Teks Lengkap untuk Peringatan HUT ke-81 RI

Kembali Berlaga di Indonesia Jelang HUT RI

Dua bulan setelah meraih emas di Praha, Putra kembali turun dalam kompetisi di Indonesia.
Ia tampil pada nomor lead EISCC ke-17 di Eiger Adventure Flagship Store, Jalan Sumatra, Kota Bandung.

Kompetisi tersebut diikuti lebih dari 200 peserta dari berbagai daerah, baik atlet maupun pegiat panjat tebing nonprofesional.

Sejumlah atlet nasional turut ambil bagian, di antaranya Raji'ah Sallsabillah, Rahmad Adi, Raharjati Nursamsa, Alma Ariella, dan Sukma Lintang.

Ketua Pelaksana EISCC 2026 Nara Witaraga mengatakan, perkembangan prestasi atlet Indonesia turut mendorong semakin luasnya minat masyarakat terhadap olahraga panjat tebing.

Menurut dia, peserta tahun ini tidak hanya datang dari kalangan atlet profesional, tetapi juga komunitas, klub, sekolah panjat, hingga mahasiswa pencinta alam.

"EISCC tahun ini, para atlet nonprofesional pun datang dari lokasi yang jauh. Komunitas panjat, klub panjat, bahkan sekolah-sekolah panjat dari banyak daerah mendaftarkan timnya sebagai kategori non-atlet," ujar Nara.

Selain kategori untuk atlet, kompetisi tersebut membuka Speed Rookie bagi mahasiswa pencinta alam, Spray Challenge untuk peserta non-atlet, serta Fun Boulder.

"Semoga terselenggaranya EISCC tahun ini memberikan ruang yang baik dan positif bagi ekosistem panjat tebing Indonesia," kata Nara.

Panjat Tebing Indonesia dan Perjalanan Menuju Prestasi Dunia

Putra Tri Ramadani saat panjat tebing Dokumentasi KONI Kota Kediri Putra Tri Ramadani saat panjat tebing

Perkembangan panjat tebing di Indonesia memiliki perjalanan panjang sebelum para atletnya mampu bersaing di level dunia.

Salah satu pendiri FPTI, Mamay S Salim, mengatakan salah satu tonggaknya dapat ditelusuri dari Ekspedisi Gunung Eiger pada 1986 yang digagas Harry Suliztiarto, yang juga menjadi salah satu pendiri FPTI.

Pada 21 April 1988 kemudian berdiri Federasi Panjat Tebing dan Gunung Indonesia (FPTGI). Organisasi tersebut berganti nama menjadi Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) pada 1990.

Perkembangan olahraga tersebut terus berjalan hingga Indonesia melahirkan atlet-atlet yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Salah satu tonggak terbesarnya terjadi pada Olimpiade Paris 2024 ketika Veddriq Leonardo mempersembahkan medali emas dari nomor speed putra.

Kini, generasi berikutnya mulai mencatatkan prestasi pada nomor lain. Putra Tri Ramadani menjadi salah satunya melalui medali emas nomor lead yang diraihnya di Praha.

Bagi Putra, perjalanan dari kompetisi daerah, Puslatda, PON, hingga panggung dunia menunjukkan bahwa prestasi dapat dibangun melalui proses panjang dan konsistensi.

Menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia, mahasiswa Muhammadiyah tersebut kini kembali ke dinding panjat di Tanah Air, membawa status baru sebagai salah satu atlet yang telah mengibarkan Merah Putih di podium dunia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Idgham Bighunnah: Pengertian, Huruf, Cara Baca, dan 25 Contohnya
Idgham Bighunnah: Pengertian, Huruf, Cara Baca, dan 25 Contohnya
Doa Harian
Doa Saat Gempa Bumi untuk Memohon Perlindungan, Arab dan Latin
Doa Saat Gempa Bumi untuk Memohon Perlindungan, Arab dan Latin
Aktual
Putra, Mahasiswa Muhammadiyah Juara Dunia Panjat Tebing Tampil di EISCC 2026
Putra, Mahasiswa Muhammadiyah Juara Dunia Panjat Tebing Tampil di EISCC 2026
Aktual
Prabowo Targetkan Renovasi Sekolah dan Pesantren, 2.120 Madrasah Diusulkan Direvitalisasi
Prabowo Targetkan Renovasi Sekolah dan Pesantren, 2.120 Madrasah Diusulkan Direvitalisasi
Aktual
Maknai HUT ke-81 RI, Pegawai Lintas Agama Kemenag Bersihkan Masjid
Maknai HUT ke-81 RI, Pegawai Lintas Agama Kemenag Bersihkan Masjid
Aktual
Di Tengah Gempuran Gawai, Mengapa Anak Tetap Perlu Bermain? Ini Pandangan Islam
Di Tengah Gempuran Gawai, Mengapa Anak Tetap Perlu Bermain? Ini Pandangan Islam
Aktual
Kisah Bencana yang Diungkap dalam Al-Quran dan Hadis, dari Banjir hingga Wabah
Kisah Bencana yang Diungkap dalam Al-Quran dan Hadis, dari Banjir hingga Wabah
Aktual
Peristiwa Rabiul Awal: Mengenang Momen Rasulullah Lahir hingga Wafat
Peristiwa Rabiul Awal: Mengenang Momen Rasulullah Lahir hingga Wafat
Aktual
Doa Upacara 17 Agustus 2026, Teks Lengkap untuk Peringatan HUT ke-81 RI
Doa Upacara 17 Agustus 2026, Teks Lengkap untuk Peringatan HUT ke-81 RI
Doa dan Niat
Nama dan Gelar Nabi Muhammad SAW Beserta Maknanya
Nama dan Gelar Nabi Muhammad SAW Beserta Maknanya
Aktual
Menjawab Mitos Larangan Menikah di Bulan Rabiul Awal, Ini Hukum Islam dan Penjelasannya
Menjawab Mitos Larangan Menikah di Bulan Rabiul Awal, Ini Hukum Islam dan Penjelasannya
Aktual
Kisah Pemuda Pendosa yang Dimuliakan karena Cinta kepada Nabi Muhammad SAW
Kisah Pemuda Pendosa yang Dimuliakan karena Cinta kepada Nabi Muhammad SAW
Aktual
Apa Itu Sutrah dalam Shalat? Kenali Fungsi dan Hukumnya Menggunakannya
Apa Itu Sutrah dalam Shalat? Kenali Fungsi dan Hukumnya Menggunakannya
Aktual
Hukum Imam Salat Sambil Duduk, Boleh atau Tidak? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Hukum Imam Salat Sambil Duduk, Boleh atau Tidak? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Aktual
Daun Sirih Disulap Jadi Sabun, Cara Mahasiswa Muhammadiyah Ajari Siswa Hidup Bersih
Daun Sirih Disulap Jadi Sabun, Cara Mahasiswa Muhammadiyah Ajari Siswa Hidup Bersih
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar