Editor
KOMPAS.com — Gawai semakin dekat dengan kehidupan anak-anak, bahkan sejak usia dini. Kondisi ini membuat ruang bermain fisik dan interaksi langsung dengan keluarga maupun teman sebaya menjadi semakin penting.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2022 menunjukkan, 33,44 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler atau gawai nirkabel.
Jika dirinci berdasarkan kelompok umur, sebanyak 25,5 persen anak usia 0-4 tahun dan 52,76 persen anak usia 5-6 tahun telah menggunakan gawai.
Baca juga: UIN Bandung: Keluarga Benteng Pertama Cegah Anak Terjerat Judol dan Pinjol Ilegal
Paparan terhadap dunia digital juga terlihat dari penggunaan internet. Sebanyak 18,79 persen anak usia 0-4 tahun tercatat telah mengakses internet. Angkanya meningkat menjadi 39,97 persen pada kelompok usia 5-6 tahun.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bagi orangtua bahwa perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan kesempatan anak untuk bergerak, bermain, berinteraksi, dan mengenal lingkungan di sekitarnya.
Dalam Islam, bermain bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang anak. Hal itu dibahas dalam sejumlah kajian pendidikan Islam seperti Hak Anak untuk Bermain Menurut Pendidikan Islam (UIN Sunan Kali Jaga) serta Pengabaian Orang Tua dalam Dunia Digital Anak: Implikasi terhadap Hak Asuh Menurut Hukum Islam (Jurnal Salimaya).
Jurnal tersebut menempatkan bermain sebagai bagian dari proses tumbuh kembang anak sesuai fitrahnya. Melalui permainan, anak dapat mengembangkan kemampuan motorik, sosial, emosional, sekaligus belajar berinteraksi dengan orang lain.
Keteladanan mengenai pentingnya memberikan ruang bermain kepada anak juga dapat ditemukan dalam sejumlah riwayat mengenai kehidupan Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW dikenal menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak, termasuk kepada cucunya, Hasan dan Husain. Interaksi tersebut menunjukkan bahwa dunia anak mendapatkan tempat dalam kehidupan keluarga Muslim.
Dalam konteks kehidupan saat ini, perhatian orangtua juga mencakup pendampingan terhadap penggunaan perangkat digital.
Hal tersebut dapat dikaitkan dengan prinsip menjaga keluarga sebagaimana disebutkan dalam Surat At-Tahrim ayat 6.
Ayat tersebut memerintahkan orang-orang beriman untuk menjaga diri dan keluarganya.
Dalam kehidupan digital, prinsip tersebut dapat diterapkan melalui pendampingan orangtua terhadap konten yang dikonsumsi anak serta pengaturan waktu penggunaan gawai.
Pendampingan menjadi penting karena penggunaan media layar secara berlebihan berpotensi mengurangi kesempatan anak melakukan interaksi langsung.
Sejumlah penelitian mengenai perkembangan anak juga menunjukkan bahwa penggunaan media layar perlu memperhatikan durasi, kualitas konten, usia anak, serta pendampingan orangtua.
Karena itu, persoalannya bukan semata-mata menjauhkan anak dari teknologi, melainkan membangun keseimbangan antara aktivitas digital, permainan fisik, interaksi sosial, dan waktu bersama keluarga.
Ilustrasi Anak Bermain. Dalam Islam, anak memiliki hak bermain. Memberikan waktu bermain tanpa gawai tidak selalu membutuhkan aktivitas yang rumit. Permainan tradisional yang dahulu akrab dengan keseharian anak-anak dapat menjadi salah satu pilihan.
Congklak, bekel, gasing, hingga berbagai permainan kelompok memungkinkan anak berinteraksi langsung dengan teman sebaya.
Dalam proses bermain, anak juga belajar menunggu giliran, mengikuti aturan, bekerja sama, hingga menyelesaikan persoalan sederhana.
Momentum peringatan Hari Kemerdekaan pun dapat menjadi kesempatan untuk mengenalkan kembali permainan-permainan tersebut kepada anak.
Di Bandung, upaya itu antara lain dilakukan melalui Festival Bermain Anak 2026 yang digelar di 23 Paskal Shopping Center pada 17-23 Agustus 2026.
Festival bertema "Nusantara Menghidupkan Tradisi, Membangun Masa Depan" tersebut menghadirkan sejumlah permainan tradisional, mulai dari congklak, bekel, gasing bambu, cingciripit, hingga cato riumeuneng.
Campaign, Experience, & CRM Manager 23 Paskal Shopping Center Indra Pratama Wicaksono mengatakan, permainan tradisional bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu anak.
"Permainan tradisional tidak hanya mengajarkan cara bermain, tetapi juga membawa cerita, interaksi, dan nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya," ujar Indra dalam rilisnya, Sabtu (15/8/2026).
Menurut dia, memperkenalkan kembali permainan tradisional juga menjadi salah satu cara mendekatkan anak dengan budaya melalui pengalaman langsung yang menyenangkan.
"Sekaligus menghadirkan waktu berkualitas bagi keluarga," kata dia.
Dalam festival ini, anak-anak dapat mengikuti kegiatan membatik dan membuat layang-layang hingga sejumlah kegiatan seni dan budaya.
Seperti tari tradisional, Tari Jaipong, Drama Musikal Barudak Nusantara, serta perlombaan yang berkaitan dengan momentum Agustusan.
Festival di Bandung tersebut merupakan bagian dari rangkaian Paradise Merdeka Bermain yang diselenggarakan di Jakarta, Bandung, Semarang, Bali, Makassar, dan Batam.
"Ini dirancang untuk dapat menjadi tempat masyarakat berkumpul, berinteraksi, belajar, dan membangun keterhubungan," ujar Chief of Corporate Communication Paradise Indonesia Siti Utami.
Di tengah keseharian anak yang semakin dekat dengan layar, tantangannya bukan semata-mata menjauhkan mereka dari teknologi. Yang lebih penting adalah memastikan dunia digital tidak mengambil seluruh ruang bermain dan interaksi mereka.
Permainan tradisional dapat menjadi salah satu jalannya. Anak mendapatkan kesempatan bergerak, bertemu teman, belajar mengikuti aturan, dan mengenal budaya melalui pengalaman langsung.
Bagi orangtua, momentum libur dan perayaan kemerdekaan juga bisa menjadi pengingat sederhana: sesekali meletakkan gawai dan bermain bersama anak dapat menjadi pengalaman yang sama berharganya dengan aktivitas digital yang mereka nikmati sehari-hari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang