Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Siswa Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) Siak, Rizqy Aditya Siregar, menjadi salah satu anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tingkat Pusat 2026.
Rizqy yang mewakili Provinsi Riau dikukuhkan bersama 75 anggota Paskibraka lainnya oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana Negara, Sabtu (15/8/2026).
Sebanyak 76 anggota Paskibraka yang berasal dari 38 provinsi tersebut akan bertugas dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Istana Merdeka pada 17 Agustus 2026.
Baca juga: Pekalongan Darurat Sampah, 317 Siswa Muhammadiyah Pilih Karnaval Daur Ulang
Sehari sebelum dikukuhkan, Rizqy mengaku bersyukur sekaligus menyadari besarnya tanggung jawab yang akan diembannya.
"Perasaan saya bercampur aduk antara syukur yang mendalam, haru, dan tanggung jawab yang besar," ujar Rizqy dikutip dari laman Kementerian Agama, Sabtu (15/8/2026).
Siswa kelas XI MAN IC Siak itu tidak menganggap keberhasilannya menembus Paskibraka tingkat pusat semata-mata sebagai prestasi pribadi.
Menurut dia, pencapaian tersebut merupakan buah dari doa orangtua, kerja keras selama proses seleksi, serta dukungan keluarga besar madrasah.
Perjalanan Rizqy hingga terpilih mewakili Riau di tingkat nasional juga tidak singkat. Ia harus menjalani latihan fisik secara disiplin, membangun ketahanan mental, hingga memperkuat wawasan kebangsaan.
"Setiap sore di lapangan, setiap sesi belajar mandiri, dan setiap tetes keringat adalah bagian dari proses panjang yang tidak pernah instan," katanya.
Dalam perjalanannya, Rizqy sempat dihadapkan pada pilihan antara melanjutkan proses Paskibraka atau mengikuti Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN).
Ia mendapat kesempatan mengikuti O2SN cabang atletik. Namun, jadwal kegiatan tersebut berbenturan dengan tahapan Paskibraka.
Rizqy akhirnya memilih melanjutkan proses seleksi Paskibraka. Keputusan itu membawanya lolos hingga tingkat nasional dan mendapat kesempatan mewakili Riau.
Menurut Rizqy, salah satu tantangan terberat selama seleksi bukan hanya latihan fisik, melainkan menjaga kondisi mental di tengah ketatnya persaingan.
Ia berusaha tidak terlalu memikirkan hasil seleksi dan memilih berkonsentrasi pada persiapan yang bisa dilakukannya.
"Saya belajar untuk fokus pada apa yang bisa saya kendalikan, yaitu usaha terbaik saya, daripada memikirkan hasil akhir yang belum pasti," tuturnya.
Di sekolah, Rizqy aktif dalam organisasi siswa madrasah (OSIM) dan Pasus MAN IC Siak. Kesibukan tersebut tidak membuatnya meninggalkan akademik.
Rizqy tercatat menempati peringkat ketiga di kelas dengan nilai rata-rata rapor 89,73.
Ia mengatakan, manajemen waktu menjadi salah satu kunci untuk menyeimbangkan kegiatan akademik dan latihan.
"Saya menerapkan manajemen waktu yang ketat. Kuncinya adalah fokus penuh saat mengerjakan satu tugas: jika sedang belajar, maka belajar sungguh-sungguh; jika sedang berlatih, maka berlatih dengan totalitas," ujarnya.
Rizqy mengatakan, dukungan keluarga dan sekolah memiliki peran besar dalam perjalanannya menjadi Paskibraka tingkat pusat.
Kedua orangtuanya, Muhammad Isnaini Siregar dan Dina Afnita, menjadi pendukung utama selama proses seleksi dan pembinaan.
Sementara itu, para guru di MAN IC Siak memberikan dukungan agar Rizqy tetap dapat menjalankan kewajiban akademik di tengah kesibukannya mengikuti pembinaan Paskibraka.
"Peran mereka mutlak sangat besar. Keluarga adalah pendukung moral utama saya di rumah," kata Rizqy.
Ia menilai lingkungan MAN IC Siak juga memberinya ruang untuk mengembangkan kemampuan akademik maupun nonakademik.
"Keberhasilan ini adalah keberhasilan keluarga besar MAN Insan Cendekia Siak," ujarnya.
Bagi Rizqy, menjadi anggota Paskibraka tingkat pusat bukan sekadar kesempatan untuk berdiri di Istana Merdeka dan mengibarkan Sang Saka Merah Putih.
Ia memandang tugas tersebut sebagai bentuk pengabdian kepada Indonesia.
"Ini adalah bentuk nyata pengabdian kepada tanah air. Menjadi anggota Paskibraka Tingkat Pusat mengajarkan saya bahwa mencintai Indonesia adalah dengan cara memberikan yang terbaik dari diri kita," kata Rizqy.
Selama proses pembinaan, nilai yang paling membekas baginya adalah kebersamaan. Para anggota Paskibraka yang datang dari berbagai daerah dituntut bekerja sebagai satu tim.
"Tidak ada sosok 'pahlawan tunggal' dalam Paskibraka; semuanya adalah tentang kerja sama, kebersamaan, dan kedisiplinan," ujarnya.
Rizqy pun tidak ingin menjadikan Paskibraka sebagai akhir dari pencapaiannya. Ia berharap pengalaman dan kedisiplinan yang diperoleh selama pembinaan dapat menjadi bekal untuk terus berkontribusi kepada masyarakat.
"Prestasi ini hanyalah awal; saya ingin menggunakan kedisiplinan yang saya pelajari untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat luas," katanya.
Selain Rizqy, sejumlah siswa madrasah negeri lainnya juga berhasil lolos sebagai Paskibraka Tingkat Pusat 2026.
Mereka antara lain Adzra Khairy Fadian dari MAN 1 Kota Serang yang mewakili Provinsi Banten dan Khalyana Zahira Sandi dari MAN 1 Lubuk Linggau.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang