Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wisatawan Jerman Belajar Toleransi dari Perayaan Kemerdekaan di Bundaran HI

Kompas.com, 18 Agustus 2026, 08:15 WIB
Reni Susanti

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com — Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di kawasan Bundaran HI, Jakarta, memberikan pengalaman tersendiri bagi André, wisatawan asal Jerman.

Datang bersama istri dan anak-anaknya, André ingin melihat langsung bagaimana masyarakat Indonesia merayakan hari kemerdekaan sekaligus mengenal budaya dan keberagaman Indonesia.

“Kami melihat bahwa Indonesia sedang merayakan hari nasional. Kami, saya, istri, dan anak-anak berkata, oke, kami harus melihatnya karena ini cara terbaik untuk merasakan masyarakat Indonesia. Untuk memahami sedikit tentang budaya, kultur, keberagaman,” kata André, Senin (17/8/2026).

Baca juga: MUI: Toleransi Jangan Berubah Menjadi Permisivisme

André tengah menghabiskan liburan selama tiga minggu di Indonesia. Ia menghabiskan satu minggu di Pulau Jawa dan berencana melanjutkan perjalanan selama dua minggu di Bali.

Di Bundaran HI, André menyaksikan iring-iringan kendaraan hias dalam Karnaval Bersatu Harmoni Nusantara yang menjadi bagian dari perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Meski terkendala bahasa, ia mengaku menikmati suasana perayaan tersebut. Dari karnaval itu, André perlahan melihat keberagaman masyarakat Indonesia.

“Tidak mudah untuk memahami semuanya karena kami memahami bahasa Jerman dan juga bahasa Inggris. Tetapi dengan bahasa Anda, tentu tidak mudah bagi kami. Namun, sangat menyenangkan berada di sini dan perlahan kami melihat keberagaman,” ujarnya dikutip dari laman Kemenag, Rabu (18/8/2026).

Salah satu hal yang berkesan bagi André adalah melihat masyarakat dengan latar belakang agama berbeda dapat hidup bersama.

“Sangat menyenangkan melihat orang-orang hidup bersama dengan berbagai agama, bersama-sama dengan bahagia. Itu sesuatu yang bisa kita pelajari,” kata André.

Baca juga: Australia Pelajari Dialog Lintas Agama di Masjid Istiqlal, Puji Toleransi dan Islam Moderat di Indonesia

Pesan Toleransi dari Karnaval

Pesan keberagaman juga terlihat dalam salah satu kendaraan hias yang melintas di Bundaran HI.

Kendaraan hias dari rombongan Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) membawa pesan “Toleransi, Fondasi Pembangunan Bangsa”. Rombongan tersebut berada di urutan keempat dalam karnaval.

Pesan itu turut menarik perhatian Dian, warga Jakarta yang datang ke Bundaran HI sekitar pukul 19.00 WIB.

Awalnya, Dian datang karena mendengar kawasan tersebut ramai. Ia tidak menyangka akan menemukan berbagai kendaraan hias dan pawai yang memperkenalkan program-program pemerintah.

“Bener-bener seru banget, rame banget. Kita enggak ekspektasi bakalan ada pawai-pawai segala. Kita jadi tahu juga beberapa program pemerintah. Kayak tadi ada Sekolah Rakyat, terus ada yang magang gitu,” kata Dian.

Di antara rombongan yang melintas, kendaraan hias Kemenag dan Kemenhaj menjadi salah satu yang menarik perhatiannya.

Menurut Dian, rombongan tersebut mampu menggambarkan keberagaman masyarakat Indonesia sekaligus menyampaikan pesan toleransi kepada masyarakat.

“Keren sih, jujur. Kita baru tahu juga ternyata Kemenag sama Kemenhaj itu sekarang udah beda ya, Kak. Terus tadi ngelihat rombongan, sangat tercermin keberagamannya sih,” ujarnya.

“Dan bisa memperlihatkan ke masyarakat bahwa itu loh yang selama ini digaungkan oleh Kemenag soal toleransi di Indonesia,” lanjut Dian.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Rekrutmen Pejabat Publik dalam Islam: Prinsip, Kriteria, dan Dalilnya
Rekrutmen Pejabat Publik dalam Islam: Prinsip, Kriteria, dan Dalilnya
Aktual
Penjelasan Mati Syahid dalam Islam: Pengertian, Jenis Penyebab, dan Dalilnya
Penjelasan Mati Syahid dalam Islam: Pengertian, Jenis Penyebab, dan Dalilnya
Aktual
Kiai Imjaz Masuk Syuriyah PBNU, Siap Kawal Penguatan Otoritas Ulama dan Transformasi Pesantren
Kiai Imjaz Masuk Syuriyah PBNU, Siap Kawal Penguatan Otoritas Ulama dan Transformasi Pesantren
Aktual
Shalat Istikharah: Dalil, Niat, Tata Cara, Waktu, Doa, dan Keutamaannya
Shalat Istikharah: Dalil, Niat, Tata Cara, Waktu, Doa, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
MUI dan Forum Abu Dhabi Bahas Penguatan Islam Wasathiyyah dan Perdamaian Dunia
MUI dan Forum Abu Dhabi Bahas Penguatan Islam Wasathiyyah dan Perdamaian Dunia
Aktual
Kuota Haji Pakistan 2027 Skema Pemerintah Sudah Penuh, 107.526 Jemaah Terdaftar
Kuota Haji Pakistan 2027 Skema Pemerintah Sudah Penuh, 107.526 Jemaah Terdaftar
Aktual
Qariah NTB Khairunnisa Wakili Indonesia di MTHQA ke-66 Malaysia 2026
Qariah NTB Khairunnisa Wakili Indonesia di MTHQA ke-66 Malaysia 2026
Aktual
Menag Ajak ASN Kemenag Jadi Agen Perlinsos: Panggilan Iman dan Persaudaraan
Menag Ajak ASN Kemenag Jadi Agen Perlinsos: Panggilan Iman dan Persaudaraan
Aktual
Kemenag Dukung Percepatan Pendaftaran Perlinsos 2027, Libatkan Penyuluh dan Penghulu
Kemenag Dukung Percepatan Pendaftaran Perlinsos 2027, Libatkan Penyuluh dan Penghulu
Aktual
Doa Sebelum Belanja Online agar Terhindar dari Perilaku Boros
Doa Sebelum Belanja Online agar Terhindar dari Perilaku Boros
Aktual
Hukum Memakai Parfum bagi Wanita, Benarkah Dilarang dalam Islam? Ini Penjelasannya
Hukum Memakai Parfum bagi Wanita, Benarkah Dilarang dalam Islam? Ini Penjelasannya
Aktual
Agen Perlinsos: Cara Daftar, Syarat, dan Perannya dalam Pendataan Bansos
Agen Perlinsos: Cara Daftar, Syarat, dan Perannya dalam Pendataan Bansos
Aktual
Gus Nabil Dorong Federasi Pencak Silat Hong Kong, Libatkan Warga Lokal
Gus Nabil Dorong Federasi Pencak Silat Hong Kong, Libatkan Warga Lokal
Aktual
Menag Nasaruddin Umar Jelaskan 5 Sumber Ilmu dalam Tradisi Keislaman
Menag Nasaruddin Umar Jelaskan 5 Sumber Ilmu dalam Tradisi Keislaman
Aktual
Mana yang Didahulukan, Ilmu atau Adab? Ini Penjelasan Ulama
Mana yang Didahulukan, Ilmu atau Adab? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar