Editor
KOMPAS.com - Istilah musibah dalam Al-Qur’an memiliki makna yang lebih luas daripada pengertian bencana dalam penggunaan bahasa Indonesia.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa musibah dapat berupa kebaikan maupun keburukan, sedangkan musibah yang bermakna negatif dapat dipahami sebagai bencana.
Baca juga: Doa Saat Terjadi Gempa dan Memohon Kesabaran ketika Tertimpa Musibah, Arab, Latin & Arti
Dalam penjelasan di laman Muhammadiyah, dalam Al-Qur’an dan hadis, istilah yang digunakan untuk menyebut bencana cukup beragam, salah satunya adalah musibah.
Secara umum, kata musibah dalam Al-Qur’an bersifat netral sehingga tidak selalu menunjukkan sesuatu yang negatif atau positif, meskipun terdapat sejumlah ayat yang mengaitkannya dengan peristiwa buruk.
Baca juga: Doa Ketika Gempa Bumi: Arab, Latin, dan Artinya
Pengertian tersebut berbeda dengan penggunaan kata musibah dalam bahasa Indonesia yang umumnya merujuk pada peristiwa yang mendatangkan kesedihan, kerugian, atau keburukan.
Dalam istilah Al-Qur’an, segala sesuatu yang menimpa manusia dapat disebut sebagai musibah, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Penjelasan mengenai hal tersebut antara lain terdapat dalam QS. Al-Hadid ayat 22-23.
مَاۤ اَصَابَ مِنۡ مُّصِيۡبَةٍ فِى الۡاَرۡضِ وَلَا فِىۡۤ اَنۡفُسِكُمۡ اِلَّا فِىۡ كِتٰبٍ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ نَّبۡـرَاَهَا ؕ اِنَّ ذٰ لِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيۡرٌۚ ۖ (٢٢) لِّـكَيۡلَا تَاۡسَوۡا عَلٰى مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُوۡا بِمَاۤ اٰتٰٮكُمۡؕ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ فَخُوۡرِۙ (٢٣)
Artinya: Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauḥ Maḥfūẓ) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah (22). Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri (23).
Makna musibah yang mencakup kebaikan dan keburukan juga dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW. Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:
“Sungguh menakjubkan perkara kaum mukmin. Sesungguhnya semua perkaranya adalah kebaikan, dan itu tidak akan terjadi kecuali bagi orang yang beriman. Jika ia dianugerahi nikmat, ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa musibah, ia bersabar maka itu juga baik baginya” [HR. Muslim].
Hadis tersebut menunjukkan bahwa keadaan yang dialami seorang mukmin, baik ketika memperoleh nikmat maupun ketika menghadapi musibah, dapat menjadi kebaikan.
Ketika memperoleh nikmat, seorang mukmin dianjurkan bersyukur, sedangkan ketika mengalami musibah, ia dianjurkan bersabar.
Dengan demikian, istilah musibah tidak secara otomatis menunjukkan peristiwa yang buruk. Nilai dari suatu keadaan juga berkaitan dengan bagaimana manusia menyikapi apa yang menimpanya.
Al-Qur’an juga menjelaskan perbedaan antara musibah yang berupa kebaikan dan musibah yang berupa keburukan.
Allah menjelaskan bahwa musibah berupa kebaikan berasal dari Allah, sedangkan musibah berupa keburukan, yang kemudian disebut sebagai bencana, berkaitan dengan perbuatan manusia sendiri.
Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisa ayat 79.
مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَۗ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًاۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا
Artinya: Kebaikan (nikmat) apa pun yang kamu peroleh (berasal) dari Allah, sedangkan keburukan (bencana) apa pun yang menimpamu itu disebabkan oleh (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutus engkau (Nabi Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Cukuplah Allah sebagai saksi.
Berdasarkan penjelasan tersebut, tidak semua musibah dalam Al-Qur’an dapat disebut sebagai bencana.
Musibah yang bermakna negatif adalah musibah yang mendatangkan keburukan bagi manusia dan berkaitan dengan perbuatan manusia sendiri, meskipun peristiwa tersebut secara kasat mata berlangsung melalui berbagai kejadian di alam.
Pemahaman ini menempatkan istilah musibah dalam konteks yang lebih luas. Karena itu, penggunaan kata musibah tidak selalu tepat jika langsung disamakan dengan bencana atau peristiwa yang sepenuhnya buruk.
Ketika musibah dipahami sebagai sesuatu yang mendatangkan keburukan, manusia dianjurkan mengembalikan esensi peristiwa tersebut kepada Allah.
Manusia perlu menyadari bahwa dirinya berada dalam posisi sebagai pelaku sekaligus penerima cobaan Allah berupa sesuatu yang dinilai tidak baik.
Sikap tersebut berkaitan dengan ajaran dalam QS. Al-Baqarah ayat 156 yang mengajarkan manusia untuk menyadari keterbatasan dirinya ketika menghadapi musibah.
Dengan pemahaman tersebut, musibah yang bernilai negatif dapat dipandang sebagai salah satu bentuk cobaan dan ujian.
Dalam Al-Qur’an, cobaan dan ujian tersebut antara lain disebut dengan istilah balā’, sebagaimana terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 155.
Balā’ tidak hanya digunakan untuk menggambarkan ujian dalam bentuk keburukan. Istilah tersebut juga dapat merujuk pada ujian dan cobaan yang berupa kebaikan.
Karena itu, ujian dalam kehidupan manusia tidak selalu hadir dalam bentuk kesulitan, kehilangan, atau penderitaan.
Kenikmatan dan berbagai bentuk kebaikan juga dapat menjadi ujian bagi manusia dalam menjalani kehidupan.
Pemahaman mengenai makna musibah dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwa istilah tersebut tidak identik dengan bencana.
Musibah memiliki cakupan makna yang lebih luas, termasuk keadaan yang bernilai baik maupun buruk bagi manusia.
Sementara itu, balā’ juga dapat hadir dalam dua bentuk, sehingga manusia dituntut menyikapi setiap keadaan dengan kesadaran, kesabaran, dan rasa syukur.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT