Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jelang Muktamar NU, Kiai Matin: Dekatlah kepada Yang Kuasa, Bukan yang Berkuasa

Kompas.com, 20 Agustus 2026, 09:07 WIB
Reni Susanti

Editor


SURABAYA, KOMPAS.com - Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur KH Abdul Matin Djawahir mengingatkan Nahdlatul Ulama (NU) untuk menjaga independensi menjelang Muktamar Ke-35 NU yang digelar di Jombang, Jawa Timur, 27-31 Agustus 2026.

Pesan tersebut disampaikan Kiai Matin di tengah munculnya berbagai aspirasi mengenai figur yang dinilai layak menjadi anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) hingga menduduki posisi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Ia membantah anggapan adanya calon tertentu yang merupakan titipan atau memperoleh posisi karena kedekatan dengan pemerintah.

Baca juga: 5.000 Jemaah Ikuti Istigasah Pra-Muktamar NU Hari Ini, Ratusan Personel Dikerahkan

Menurut Kiai Matin, NU harus menjaga marwahnya sebagai organisasi keagamaan dan tidak menjadikan kedekatan dengan kekuasaan sebagai sandaran.

"Maka istilahnya kiai, NU itu jangan mendekat kepada yang berkuasa, tapi mendekatlah kepada Yang Kuasa. Maksudnya Yang Kuasa itu Allah SWT," kata Kiai Matin dikutip dari Ttribunjatim, Kamis (20/8/2026).

Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Bejagung Tuban itu menilai prinsip tersebut penting untuk menjaga independensi NU sekaligus memastikan proses organisasi berjalan sesuai nilai-nilai yang menjadi pijakannya.

Baca juga: 5.000 Jemaah Ikuti Istigasah Pra-Muktamar NU Hari Ini, Ratusan Personel Dikerahkan

Aspirasi soal AHWA dan Rais Aam Dinilai Wajar

Menjelang Muktamar ke-35 NU, perhatian tidak hanya tertuju pada bursa calon ketua umum PBNU.

Sejumlah aspirasi mengenai figur yang dianggap layak menjadi anggota AHWA hingga Rais Aam PBNU juga mulai bermunculan.

AHWA merupakan forum yang terdiri dari sembilan ulama yang dipilih dalam Muktamar.

Mereka memiliki tugas memilih Rais Aam PBNU melalui mekanisme musyawarah mufakat.

Menurut Kiai Matin, munculnya dukungan terhadap sejumlah nama untuk menjadi anggota

AHWA maupun Rais Aam merupakan dinamika yang wajar dalam organisasi.

"Ya itu wajar-wajar saja, asal semuanya tidak melanggar syar'i. Ya wajar-wajar saja," ujar Kiai Matin.

Meski demikian, menurut dia, menjadi anggota AHWA maupun Rais Aam bukan perkara sederhana.

Baca juga: Berebut NU

Kapasitas keilmuan dan kapabilitas seorang tokoh harus menjadi pertimbangan sebelum dinilai layak menduduki posisi tersebut.

Salah satu kriteria penting adalah memiliki kedalaman ilmu agama atau dikenal sebagai sosok yang alim.

Selain itu, ulama yang dipilih harus memiliki kehati-hatian dalam persoalan hukum serta tidak menjadikan kepentingan duniawi sebagai orientasi utama.

Dengan demikian, posisi anggota AHWA maupun Rais Aam merupakan amanah yang diberikan kepada tokoh-tokoh yang dinilai memenuhi kualifikasi tersebut.

Ingatkan Supremasi Syuriah

Kiai Matin juga menekankan pentingnya menjaga prinsip supremasi Syuriah dalam struktur NU.

Syuriah merupakan unsur kepemimpinan tertinggi NU yang di tingkat PBNU dipimpin oleh Rais Aam.

Menurut Kiai Matin, posisi Syuriah tidak semestinya dicampuri kepentingan lain.

Karena itu, marwah dan kewenangan Syuriah perlu tetap dijaga dalam proses menuju Muktamar Ke-35 NU.

Dinamika pemilihan AHWA dan Rais Aam pun diharapkan tetap berorientasi pada kepentingan organisasi dan tidak berubah menjadi pertarungan kepentingan tertentu.

Muktamar Diharapkan Jadi Momentum Rekonsiliasi

PWNU Jawa Timur juga memandang Muktamar Ke-35 NU memiliki arti strategis karena menjadi muktamar pertama setelah NU memasuki abad kedua.

Muktamar akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, yang memiliki keterkaitan sejarah dengan salah satu pendiri NU, KH Abdul Wahab Hasbullah.

Selain nilai historis tersebut, Muktamar Ke-35 NU diharapkan menjadi momentum rekonsiliasi setelah PBNU sempat menghadapi dinamika internal organisasi.

Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat aturan dan mekanisme organisasi agar persoalan serupa dapat diantisipasi pada masa mendatang.

Kiai Matin berharap pembenahan tersebut membuat kondisi NU semakin kondusif setelah Muktamar.

"Insya Allah NU akan lebih tenteram," kata dia.

Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Muktamar ke-35 NU Makin Dekat, PWNU Jatim Bicara AHWA hingga Rais Aam

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

Baca tentang


Terkini Lainnya
Jelang Muktamar NU, Jombang Siapkan 99 Masjid untuk Memuliakan Tamu
Jelang Muktamar NU, Jombang Siapkan 99 Masjid untuk Memuliakan Tamu
Aktual
80 Persen Orang Indonesia Alami Karies, Begini Cara Mencegah Menurut Medis dan Sunnah
80 Persen Orang Indonesia Alami Karies, Begini Cara Mencegah Menurut Medis dan Sunnah
Aktual
Jelang Muktamar NU, Kiai Matin: Dekatlah kepada Yang Kuasa, Bukan yang Berkuasa
Jelang Muktamar NU, Kiai Matin: Dekatlah kepada Yang Kuasa, Bukan yang Berkuasa
Aktual
Sinta Nuriyah dan Machfudhoh Aly Ubaid Diusulkan Masuk AHWA Muktamar NU
Sinta Nuriyah dan Machfudhoh Aly Ubaid Diusulkan Masuk AHWA Muktamar NU
Aktual
5.000 Jemaah Ikuti Istigasah Pra-Muktamar NU Hari Ini, Ratusan Personel Dikerahkan
5.000 Jemaah Ikuti Istigasah Pra-Muktamar NU Hari Ini, Ratusan Personel Dikerahkan
Aktual
Childfree dalam Pandangan Islam, Apakah Dilarang?
Childfree dalam Pandangan Islam, Apakah Dilarang?
Aktual
Berebut NU
Berebut NU
Aktual
Biaya Haji 2027 Diusulkan Naik 22,8 Persen, Ini Sejumlah Pemicunya
Biaya Haji 2027 Diusulkan Naik 22,8 Persen, Ini Sejumlah Pemicunya
Aktual
Generasi Muda Dinilai Tak Siap Kerja, Gontor Tawarkan Pendidikan Holistik Pesantren
Generasi Muda Dinilai Tak Siap Kerja, Gontor Tawarkan Pendidikan Holistik Pesantren
Aktual
Miyos Gangsa Dimulai, Tradisi Sekaten di Keraton Yogyakarta Menyambut Maulid Nabi 2026
Miyos Gangsa Dimulai, Tradisi Sekaten di Keraton Yogyakarta Menyambut Maulid Nabi 2026
Aktual
Biaya Haji 2027 Diusulkan Rp 107,34 Juta, BPKH Ingatkan Risiko Rp 6,87 Triliun
Biaya Haji 2027 Diusulkan Rp 107,34 Juta, BPKH Ingatkan Risiko Rp 6,87 Triliun
Aktual
Kirab Merah Putih, Ribuan Pemuda Serukan Persatuan di Tengah Keberagaman
Kirab Merah Putih, Ribuan Pemuda Serukan Persatuan di Tengah Keberagaman
Aktual
Hukum Memelihara Anjing dalam Islam, Benarkah Membuat Malaikat Tidak Masuk Rumah?
Hukum Memelihara Anjing dalam Islam, Benarkah Membuat Malaikat Tidak Masuk Rumah?
Aktual
Masjid Tua Wapauwe, Jejak Sejarah Islam di Maluku yang Bertahan Sejak 1414
Masjid Tua Wapauwe, Jejak Sejarah Islam di Maluku yang Bertahan Sejak 1414
Aktual
Thaharah Sebelum Shalat: Cara Bersuci, Najis yang Dibersihkan, Jenis Air, hingga Aturan Tayamum
Thaharah Sebelum Shalat: Cara Bersuci, Najis yang Dibersihkan, Jenis Air, hingga Aturan Tayamum
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar