Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gus Rozin Dorong PBNU Perkuat Perhatian di Luar Jawa dan Pesantren

Kompas.com, 21 Agustus 2026, 08:10 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin, atau Gus Rozin, mendorong Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk memperkuat perhatian terhadap perkembangan NU di luar Jawa.

Dorongan ini disampaikan Gus Rozin saat bersilaturahmi dengan jajaran PWNU dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Aceh di Banda Aceh pada Rabu (19/8/2026).

Menurut Gus Rozin, penguatan NU tidak seharusnya hanya berorientasi pada struktur organisasi di tingkat pusat.

PBNU perlu memastikan keberadaan dan manfaat khidmah NU benar-benar dirasakan hingga daerah, termasuk wilayah pedalaman dan pelosok.

Baca juga: Jelang Muktamar NU, Kiai Sepuh Ingatkan AHWA Bukan Ruang Transaksi

Perhatian PBNU di Daerah

Gus Rozin mengusulkan agar Ketua PBNU mendatang memberikan perhatian lebih besar kepada NU di daerah-daerah yang selama ini belum mendapatkan perhatian maksimal.

"Saya juga mengusulkan agar ke depan Ketua PBNU memberikan perhatian yang lebih besar kepada NU di daerah-daerah, khususnya wilayah pedalaman, pelosok, dan daerah-daerah yang selama ini mungkin belum mendapatkan perhatian secara maksimal," kata Gus Rozin dalam keterangan tertulis, Kamis (20/8/2026).

Ia menegaskan, NU tidak boleh hanya kuat di pusat, melainkan harus tumbuh secara merata dan memberikan manfaat bagi jemaah di berbagai daerah.

"NU tidak boleh hanya kuat di pusat, tetapi juga harus tumbuh dan dirasakan manfaatnya hingga ke daerah-daerah," ujarnya.

Penguatan NU di daerah, lanjut Gus Rozin, harus mempertimbangkan karakter, potensi, serta kebutuhan masing-masing wilayah.

Daerah di luar Jawa memiliki pengalaman dan tantangan yang tidak selalu sama dengan wilayah yang selama ini menjadi pusat perkembangan NU.

Oleh karena itu, PBNU ke depan diharapkan tidak hanya hadir melalui struktur organisasi, tetapi juga memperkuat pelayanan, kaderisasi, pendidikan, pesantren, hingga potensi ekonomi masyarakat di daerah.

Peran Sentral Pesantren

Dalam pertemuan tersebut, penguatan pesantren menjadi salah satu perhatian utama.

Rais Syuriyah PCNU Aceh Tengah menanyakan komitmen Gus Rozin apabila nantinya mendapat amanah sebagai Ketua Umum PBNU dalam memperkuat dan mengembangkan pesantren.

Bagi Gus Rozin, pesantren merupakan jantung NU, tempat ulama dilahirkan, kader ditempa, serta nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah diwariskan.

Perhatian Gus Rozin terhadap pesantren tecermin dari kiprahnya pada periode 2014–2019, di mana ia terlibat dalam pengawalan lahirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.

Ia juga terlibat dalam sejumlah program penguatan pesantren dan santri, seperti Liga Santri Nasional, Gerakan Ayo Mondok, Hari Santri Nasional, Apel Akbar Santri Nusantara, serta Gerakan Pesantrenku Bersih, Pesantren Keren.

Saat pandemi Covid-19, Gus Rozin turut terlibat dalam Satkor Covid RMI PBNU dan Program Kado Lebaran untuk Guru Ngaji.

Khidmahnya terhadap pesantren berlanjut melalui Gerakan Pesantren Asuh bagi Anak Yatim Indonesia serta Program Beasiswa LPDP untuk Santri.

Menurutnya, memperkuat pesantren berarti ikut menjaga masa depan NU dan Indonesia.

Pesantren harus mampu berkembang dalam bidang pendidikan, sumber daya manusia, ekonomi, dan teknologi tanpa kehilangan karakter serta tradisi keilmuannya.

Dorongan Pemerataan Khidmah

Gus Rozin menilai penguatan pesantren memiliki kaitan erat dengan pembangunan NU di daerah.

Pesantren menjadi salah satu basis penting dalam kaderisasi, tradisi keilmuan, dan keberlanjutan NU di berbagai wilayah.

Oleh karena itu, kepemimpinan PBNU mendatang diharapkan tidak hanya melihat pembangunan organisasi dari perspektif pusat, tetapi juga mendengar kebutuhan struktur dan jemaah di daerah.

"Penguatan NU harus berjalan dari bawah dengan memberikan ruang yang lebih besar bagi daerah untuk berkembang sesuai dengan potensi dan kebutuhannya," kata Gus Rozin.

Ia berharap gagasan tersebut menjadi bagian dari arah perjuangan yang dibawa dalam Muktamar ke-35 NU.

Baca juga: Muktamar NU dan Spirit Musyawarah dalam Islam

Menurut Gus Rozin, Muktamar ke-35 NU tidak semata-mata menjadi forum untuk memilih kepemimpinan baru, tetapi juga momentum menentukan arah perjalanan NU dalam beberapa tahun ke depan.

"Semoga Muktamar menjadi momentum untuk kembali memperkuat NU, memperbaiki apa yang perlu diperbaiki, melanjutkan apa yang sudah baik, dan membangun masa depan NU yang lebih mandiri, kuat, serta bermanfaat bagi umat, bangsa, dan negara," ujarnya.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

Baca tentang


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar