Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

4 Dampak Membandingkan Anak, Bagaimana Islam Memandangnya?

Kompas.com, 21 Agustus 2026, 11:07 WIB
Reni Susanti

Editor

KOMPAS.com - “Lihat, temanmu sudah juara kelas.” “Kakak dulu seusiamu sudah bisa membaca.” “Kenapa kamu tidak bisa seperti dia?”

Kalimat-kalimat seperti itu terkadang terlontar dari orangtua ketika melihat pencapaian anak tidak sesuai dengan harapan.

Membandingkan anak mungkin dimaksudkan untuk memotivasinya. Namun, jika terus dilakukan, kebiasaan tersebut justru dapat membuat anak merasa dirinya selalu kurang dibandingkan orang lain.

Baca juga: Di Tengah Gempuran Gawai, Mengapa Anak Tetap Perlu Bermain? Ini Pandangan Islam

Jatim, Litbang SD Muhammadiyah 29 Surabaya, mengingatkan bahwa setiap anak memiliki kelebihan dan proses tumbuh yang berbeda.

Ada anak yang lebih cepat menunjukkan kemampuan akademis, sementara anak lainnya mungkin memiliki kelebihan dalam empati, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, maupun bidang lain yang belum terlihat.

Karena itu, pencapaian anak lain sebaiknya tidak selalu dijadikan tolok ukur dalam menilai perkembangan anak sendiri.

“Setiap anak memiliki dunianya sendiri. Mereka bukanlah lembaran kosong yang bisa disalin persis satu sama lain, melainkan ‘lukisan’ yang diciptakan Allah dengan warna dan bentuk yang unik,” tulis Jatim dikutip dari laman Muhammadiyah, Jumat (21/8/2026). 

Baca juga: Wamenag Minta Perketat Perlindungan Anak di Madrasah, bangun Budaya Berani Melapor

Membuat Anak Merasa Selalu Kurang

Kebiasaan membandingkan semakin mudah terjadi ketika orangtua melihat berbagai pencapaian anak lain, terlebih di tengah penggunaan media sosial.

Orangtua bisa melihat anak lain sudah lancar membaca, menghafal Al-Qur'an, meraih juara kelas, memenangkan perlombaan, atau memiliki berbagai pencapaian lainnya.

Tanpa disadari, muncul pertanyaan, “Mengapa anak saya belum seperti itu?”

Padahal, apa yang terlihat dari kehidupan orang lain belum tentu menggambarkan keseluruhan proses yang mereka jalani.

Setiap anak juga memiliki waktu dan proses perkembangan masing-masing.

Kebiasaan membandingkan dapat membuat anak merasa harus menjadi seperti orang lain untuk memperoleh penghargaan maupun kasih sayang dari orangtuanya.

Anak akhirnya berpotensi tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya selalu kurang.

Padahal, menurut Jatim, tugas orangtua bukan mencetak anak menjadi “salinan” orang lain, tetapi mendampinginya agar berkembang menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

Islam Mengajarkan Mensyukuri Karunia Allah

Dalam Islam, manusia diingatkan bahwa Allah SWT telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Hal tersebut sebagaimana firman Allah dalam Surat At-Tin ayat 4:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ

Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Selain itu, Allah SWT juga mengingatkan manusia agar tidak selalu menginginkan kelebihan yang diberikan kepada orang lain.

Dalam Surat An-Nisa ayat 32, Allah SWT berfirman:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ

Artinya: “Janganlah kamu berangan-angan (iri) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.”

Ayat tersebut dapat menjadi pengingat bagi orangtua agar tidak hanya melihat kelebihan yang dimiliki anak lain, tetapi juga mensyukuri potensi yang Allah berikan kepada anaknya.

Dampak Sering Membandingkan Anak

Ada sejumlah dampak yang dapat muncul ketika seseorang terbiasa membandingkan dirinya atau anaknya dengan orang lain.

1. Sulit mensyukuri kelebihan yang dimiliki

Terlalu fokus terhadap pencapaian orang lain dapat membuat seseorang lupa melihat berbagai nikmat dan kemampuan yang telah dimilikinya.

Dalam pengasuhan, kondisi serupa dapat membuat orangtua lebih mudah melihat kekurangan anak dibandingkan perkembangan dan kelebihannya.

2. Menurunkan kepercayaan diri anak

Anak yang berulang kali dibandingkan dengan orang lain dapat merasa pencapaiannya tidak pernah cukup.

Alih-alih termotivasi, anak bisa merasa dirinya tidak mampu memenuhi harapan orangtua.

3. Melukai perasaan anak

Ucapan membandingkan dapat membuat anak merasa tidak dihargai sebagai dirinya sendiri.

Terlebih jika perbandingan tersebut terus dilakukan dengan saudara kandung, teman sekolah, maupun anak lain.

4. Memunculkan iri terhadap orang lain

Anak dapat melihat keberhasilan orang lain sebagai ancaman karena pencapaian tersebut selalu digunakan untuk menilai dirinya.

Dalam Islam, rasa iri atau hasad merupakan salah satu sikap hati yang perlu dihindari.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Orangtua?

Alih-alih membandingkan anak dengan orang lain, orangtua dapat membandingkan perkembangan anak dengan dirinya sendiri.

Misalnya, apakah kemampuan membaca anak mengalami perkembangan dibandingkan beberapa bulan sebelumnya atau apakah ia semakin bertanggung jawab terhadap tugasnya.

Dengan cara tersebut, perhatian orangtua diarahkan kepada proses dan perkembangan, bukan semata-mata hasil.

Orangtua juga dapat memberikan apresiasi terhadap usaha yang dilakukan anak, termasuk kemajuan-kemajuan kecil yang mungkin tidak terlihat sebagai prestasi.

Jika melihat keberhasilan anak lain, orangtua dapat menjadikannya inspirasi tanpa menjadikannya standar mutlak bagi anak sendiri.

Yang tidak kalah penting, orangtua perlu mengenali kelebihan anak yang mungkin berbeda dari ekspektasinya.

Tidak semua anak berkembang dengan kecepatan dan kemampuan yang sama. Ada yang menonjol dalam akademik, olahraga, seni, kemampuan sosial, kepemimpinan, maupun kepedulian terhadap orang lain.

Seperti bunga yang tidak mekar pada waktu yang sama, anak juga membutuhkan waktu, perhatian, kesempatan, dan pendampingan untuk menemukan serta mengembangkan potensinya.

Karena itu, daripada bertanya, “Mengapa anakku tidak seperti anak lain?”, orangtua dapat mengubah pertanyaan menjadi, “Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu anak saya berkembang menjadi dirinya yang terbaik?”

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
5 Tantangan Penyuluh Agama Islam, dari Krisis Global, AI, hingga Perubahan Kondisi Sosial
5 Tantangan Penyuluh Agama Islam, dari Krisis Global, AI, hingga Perubahan Kondisi Sosial
Aktual
Kemenag Lakukan Rukyatulhilal Awal Jumadil Awal 1448 H, Hilal Tak Terlihat di Jakarta
Kemenag Lakukan Rukyatulhilal Awal Jumadil Awal 1448 H, Hilal Tak Terlihat di Jakarta
Aktual
Kemenhaj Pastikan Tidak Ada Jemaah Umrah Terdampak Situasi di Arab Saudi, Imbau untuk Tetap Tenang
Kemenhaj Pastikan Tidak Ada Jemaah Umrah Terdampak Situasi di Arab Saudi, Imbau untuk Tetap Tenang
Aktual
Respons Situasi di Arab Saudi, Ini Imbauan Resmi Kemenhaj untuk Jemaah Umrah
Respons Situasi di Arab Saudi, Ini Imbauan Resmi Kemenhaj untuk Jemaah Umrah
Aktual
Menhaj Minta Calon Jemaah Haji Belajar dari Mereka yang Gagal Berangkat karena Kendala Kesehatan
Menhaj Minta Calon Jemaah Haji Belajar dari Mereka yang Gagal Berangkat karena Kendala Kesehatan
Aktual
Hukum Menerima Hadiah dari Orang yang Berutang, Apakah Termasuk Riba?
Hukum Menerima Hadiah dari Orang yang Berutang, Apakah Termasuk Riba?
Aktual
Bandara Riyadh Diserang, Keselamatan Jemaah Umrah Jadi Sorotan
Bandara Riyadh Diserang, Keselamatan Jemaah Umrah Jadi Sorotan
Aktual
Doa Belum Terkabul, Apakah Berarti Allah Tidak Menjawabnya?
Doa Belum Terkabul, Apakah Berarti Allah Tidak Menjawabnya?
Aktual
Hukum Menyebarkan Chat Pribadi Tanpa Izin dalam Islam
Hukum Menyebarkan Chat Pribadi Tanpa Izin dalam Islam
Aktual
Masa Tunggu Haji di Sulteng Jadi 14 Tahun, Kuota 2027 Malah Berkurang
Masa Tunggu Haji di Sulteng Jadi 14 Tahun, Kuota 2027 Malah Berkurang
Aktual
Kemenhaj Imbau Jemaah Umrah di Arab Saudi Waspada, Ini Pesan Penting bagi yang Belum Berangkat
Kemenhaj Imbau Jemaah Umrah di Arab Saudi Waspada, Ini Pesan Penting bagi yang Belum Berangkat
Aktual
Adzan di Telinga Bayi hingga di Atas Kuburan, Bagaimana Hukumnya?
Adzan di Telinga Bayi hingga di Atas Kuburan, Bagaimana Hukumnya?
Aktual
Apakah Anak Wajib Melunasi Utang Orangtua yang Meninggal?
Apakah Anak Wajib Melunasi Utang Orangtua yang Meninggal?
Aktual
Bagaimana Hukum Menjual Barang Halal untuk Maksiat? Ini Pandangan Islam
Bagaimana Hukum Menjual Barang Halal untuk Maksiat? Ini Pandangan Islam
Aktual
Viral Penghulu Marah Saat Akad Nikah, Kemenag Minta Maaf dan Evaluasi Pelayanan
Viral Penghulu Marah Saat Akad Nikah, Kemenag Minta Maaf dan Evaluasi Pelayanan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar