Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Di Tengah Gempuran Gawai, Mengapa Anak Tetap Perlu Bermain? Ini Pandangan Islam

Kompas.com, 15 Agustus 2026, 06:35 WIB
Reni Susanti

Editor


KOMPAS.com — Gawai semakin dekat dengan kehidupan anak-anak, bahkan sejak usia dini. Kondisi ini membuat ruang bermain fisik dan interaksi langsung dengan keluarga maupun teman sebaya menjadi semakin penting.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2022 menunjukkan, 33,44 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler atau gawai nirkabel.

Jika dirinci berdasarkan kelompok umur, sebanyak 25,5 persen anak usia 0-4 tahun dan 52,76 persen anak usia 5-6 tahun telah menggunakan gawai.

Baca juga: UIN Bandung: Keluarga Benteng Pertama Cegah Anak Terjerat Judol dan Pinjol Ilegal

Paparan terhadap dunia digital juga terlihat dari penggunaan internet. Sebanyak 18,79 persen anak usia 0-4 tahun tercatat telah mengakses internet. Angkanya meningkat menjadi 39,97 persen pada kelompok usia 5-6 tahun.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bagi orangtua bahwa perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan kesempatan anak untuk bergerak, bermain, berinteraksi, dan mengenal lingkungan di sekitarnya.

Bermain dalam Perspektif Islam

Dalam Islam, bermain bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang anak. Hal itu dibahas dalam sejumlah kajian pendidikan Islam seperti Hak Anak untuk Bermain Menurut Pendidikan Islam (UIN Sunan Kali Jaga) serta Pengabaian Orang Tua dalam Dunia Digital Anak: Implikasi terhadap Hak Asuh Menurut Hukum Islam (Jurnal Salimaya).

Jurnal tersebut menempatkan bermain sebagai bagian dari proses tumbuh kembang anak sesuai fitrahnya. Melalui permainan, anak dapat mengembangkan kemampuan motorik, sosial, emosional, sekaligus belajar berinteraksi dengan orang lain.

Keteladanan mengenai pentingnya memberikan ruang bermain kepada anak juga dapat ditemukan dalam sejumlah riwayat mengenai kehidupan Rasulullah SAW.

Baca juga: Apakah Anak Piatu Berhak Mendapat Santunan seperti Anak Yatim? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah

Rasulullah SAW dikenal menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak, termasuk kepada cucunya, Hasan dan Husain. Interaksi tersebut menunjukkan bahwa dunia anak mendapatkan tempat dalam kehidupan keluarga Muslim.

Dalam konteks kehidupan saat ini, perhatian orangtua juga mencakup pendampingan terhadap penggunaan perangkat digital.

Hal tersebut dapat dikaitkan dengan prinsip menjaga keluarga sebagaimana disebutkan dalam Surat At-Tahrim ayat 6.

Ayat tersebut memerintahkan orang-orang beriman untuk menjaga diri dan keluarganya.

Dalam kehidupan digital, prinsip tersebut dapat diterapkan melalui pendampingan orangtua terhadap konten yang dikonsumsi anak serta pengaturan waktu penggunaan gawai.

Pendampingan menjadi penting karena penggunaan media layar secara berlebihan berpotensi mengurangi kesempatan anak melakukan interaksi langsung.

Sejumlah penelitian mengenai perkembangan anak juga menunjukkan bahwa penggunaan media layar perlu memperhatikan durasi, kualitas konten, usia anak, serta pendampingan orangtua.

Karena itu, persoalannya bukan semata-mata menjauhkan anak dari teknologi, melainkan membangun keseimbangan antara aktivitas digital, permainan fisik, interaksi sosial, dan waktu bersama keluarga.

Permainan Tradisional, Alternatif Aktivitas Tanpa Gawai

Ilustrasi Anak Bermain. Dalam Islam, anak memiliki hak bermain. Pexels Ilustrasi Anak Bermain. Dalam Islam, anak memiliki hak bermain.

Memberikan waktu bermain tanpa gawai tidak selalu membutuhkan aktivitas yang rumit. Permainan tradisional yang dahulu akrab dengan keseharian anak-anak dapat menjadi salah satu pilihan.

Congklak, bekel, gasing, hingga berbagai permainan kelompok memungkinkan anak berinteraksi langsung dengan teman sebaya.

Dalam proses bermain, anak juga belajar menunggu giliran, mengikuti aturan, bekerja sama, hingga menyelesaikan persoalan sederhana.

Momentum peringatan Hari Kemerdekaan pun dapat menjadi kesempatan untuk mengenalkan kembali permainan-permainan tersebut kepada anak.

Di Bandung, upaya itu antara lain dilakukan melalui Festival Bermain Anak 2026 yang digelar di 23 Paskal Shopping Center pada 17-23 Agustus 2026.

Festival bertema "Nusantara Menghidupkan Tradisi, Membangun Masa Depan" tersebut menghadirkan sejumlah permainan tradisional, mulai dari congklak, bekel, gasing bambu, cingciripit, hingga cato riumeuneng.

Campaign, Experience, & CRM Manager 23 Paskal Shopping Center Indra Pratama Wicaksono mengatakan, permainan tradisional bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu anak.

"Permainan tradisional tidak hanya mengajarkan cara bermain, tetapi juga membawa cerita, interaksi, dan nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya," ujar Indra dalam rilisnya, Sabtu (15/8/2026).

Menurut dia, memperkenalkan kembali permainan tradisional juga menjadi salah satu cara mendekatkan anak dengan budaya melalui pengalaman langsung yang menyenangkan.

"Sekaligus menghadirkan waktu berkualitas bagi keluarga," kata dia.

Bermain Sekaligus Mengenal Budaya

Dalam festival ini, anak-anak dapat mengikuti kegiatan membatik dan membuat layang-layang hingga sejumlah kegiatan seni dan budaya.

Seperti tari tradisional, Tari Jaipong, Drama Musikal Barudak Nusantara, serta perlombaan yang berkaitan dengan momentum Agustusan.

Festival di Bandung tersebut merupakan bagian dari rangkaian Paradise Merdeka Bermain yang diselenggarakan di Jakarta, Bandung, Semarang, Bali, Makassar, dan Batam.

"Ini dirancang untuk dapat menjadi tempat masyarakat berkumpul, berinteraksi, belajar, dan membangun keterhubungan," ujar Chief of Corporate Communication Paradise Indonesia Siti Utami.

Di tengah keseharian anak yang semakin dekat dengan layar, tantangannya bukan semata-mata menjauhkan mereka dari teknologi. Yang lebih penting adalah memastikan dunia digital tidak mengambil seluruh ruang bermain dan interaksi mereka.

Permainan tradisional dapat menjadi salah satu jalannya. Anak mendapatkan kesempatan bergerak, bertemu teman, belajar mengikuti aturan, dan mengenal budaya melalui pengalaman langsung.

Bagi orangtua, momentum libur dan perayaan kemerdekaan juga bisa menjadi pengingat sederhana: sesekali meletakkan gawai dan bermain bersama anak dapat menjadi pengalaman yang sama berharganya dengan aktivitas digital yang mereka nikmati sehari-hari.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Jelang Muktamar NU, Jombang Siapkan 99 Masjid untuk Memuliakan Tamu
Jelang Muktamar NU, Jombang Siapkan 99 Masjid untuk Memuliakan Tamu
Aktual
80 Persen Orang Indonesia Alami Karies, Begini Cara Mencegah Menurut Medis dan Sunnah
80 Persen Orang Indonesia Alami Karies, Begini Cara Mencegah Menurut Medis dan Sunnah
Aktual
Jelang Muktamar NU, Kiai Matin: Dekatlah kepada Yang Kuasa, Bukan yang Berkuasa
Jelang Muktamar NU, Kiai Matin: Dekatlah kepada Yang Kuasa, Bukan yang Berkuasa
Aktual
Sinta Nuriyah dan Machfudhoh Aly Ubaid Diusulkan Masuk AHWA Muktamar NU
Sinta Nuriyah dan Machfudhoh Aly Ubaid Diusulkan Masuk AHWA Muktamar NU
Aktual
5.000 Jemaah Ikuti Istigasah Pra-Muktamar NU Hari Ini, Ratusan Personel Dikerahkan
5.000 Jemaah Ikuti Istigasah Pra-Muktamar NU Hari Ini, Ratusan Personel Dikerahkan
Aktual
Childfree dalam Pandangan Islam, Apakah Dilarang?
Childfree dalam Pandangan Islam, Apakah Dilarang?
Aktual
Berebut NU
Berebut NU
Aktual
Biaya Haji 2027 Diusulkan Naik 22,8 Persen, Ini Sejumlah Pemicunya
Biaya Haji 2027 Diusulkan Naik 22,8 Persen, Ini Sejumlah Pemicunya
Aktual
Generasi Muda Dinilai Tak Siap Kerja, Gontor Tawarkan Pendidikan Holistik Pesantren
Generasi Muda Dinilai Tak Siap Kerja, Gontor Tawarkan Pendidikan Holistik Pesantren
Aktual
Miyos Gangsa Dimulai, Tradisi Sekaten di Keraton Yogyakarta Menyambut Maulid Nabi 2026
Miyos Gangsa Dimulai, Tradisi Sekaten di Keraton Yogyakarta Menyambut Maulid Nabi 2026
Aktual
Biaya Haji 2027 Diusulkan Rp 107,34 Juta, BPKH Ingatkan Risiko Rp 6,87 Triliun
Biaya Haji 2027 Diusulkan Rp 107,34 Juta, BPKH Ingatkan Risiko Rp 6,87 Triliun
Aktual
Kirab Merah Putih, Ribuan Pemuda Serukan Persatuan di Tengah Keberagaman
Kirab Merah Putih, Ribuan Pemuda Serukan Persatuan di Tengah Keberagaman
Aktual
Hukum Memelihara Anjing dalam Islam, Benarkah Membuat Malaikat Tidak Masuk Rumah?
Hukum Memelihara Anjing dalam Islam, Benarkah Membuat Malaikat Tidak Masuk Rumah?
Aktual
Masjid Tua Wapauwe, Jejak Sejarah Islam di Maluku yang Bertahan Sejak 1414
Masjid Tua Wapauwe, Jejak Sejarah Islam di Maluku yang Bertahan Sejak 1414
Aktual
Thaharah Sebelum Shalat: Cara Bersuci, Najis yang Dibersihkan, Jenis Air, hingga Aturan Tayamum
Thaharah Sebelum Shalat: Cara Bersuci, Najis yang Dibersihkan, Jenis Air, hingga Aturan Tayamum
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar