Editor
KOMPAS.com - “Lihat, temanmu sudah juara kelas.” “Kakak dulu seusiamu sudah bisa membaca.” “Kenapa kamu tidak bisa seperti dia?”
Kalimat-kalimat seperti itu terkadang terlontar dari orangtua ketika melihat pencapaian anak tidak sesuai dengan harapan.
Membandingkan anak mungkin dimaksudkan untuk memotivasinya. Namun, jika terus dilakukan, kebiasaan tersebut justru dapat membuat anak merasa dirinya selalu kurang dibandingkan orang lain.
Baca juga: Di Tengah Gempuran Gawai, Mengapa Anak Tetap Perlu Bermain? Ini Pandangan Islam
Jatim, Litbang SD Muhammadiyah 29 Surabaya, mengingatkan bahwa setiap anak memiliki kelebihan dan proses tumbuh yang berbeda.
Ada anak yang lebih cepat menunjukkan kemampuan akademis, sementara anak lainnya mungkin memiliki kelebihan dalam empati, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, maupun bidang lain yang belum terlihat.
Karena itu, pencapaian anak lain sebaiknya tidak selalu dijadikan tolok ukur dalam menilai perkembangan anak sendiri.
“Setiap anak memiliki dunianya sendiri. Mereka bukanlah lembaran kosong yang bisa disalin persis satu sama lain, melainkan ‘lukisan’ yang diciptakan Allah dengan warna dan bentuk yang unik,” tulis Jatim dikutip dari laman Muhammadiyah, Jumat (21/8/2026).
Baca juga: Wamenag Minta Perketat Perlindungan Anak di Madrasah, bangun Budaya Berani Melapor
Kebiasaan membandingkan semakin mudah terjadi ketika orangtua melihat berbagai pencapaian anak lain, terlebih di tengah penggunaan media sosial.
Orangtua bisa melihat anak lain sudah lancar membaca, menghafal Al-Qur'an, meraih juara kelas, memenangkan perlombaan, atau memiliki berbagai pencapaian lainnya.
Tanpa disadari, muncul pertanyaan, “Mengapa anak saya belum seperti itu?”
Padahal, apa yang terlihat dari kehidupan orang lain belum tentu menggambarkan keseluruhan proses yang mereka jalani.
Setiap anak juga memiliki waktu dan proses perkembangan masing-masing.
Kebiasaan membandingkan dapat membuat anak merasa harus menjadi seperti orang lain untuk memperoleh penghargaan maupun kasih sayang dari orangtuanya.
Anak akhirnya berpotensi tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya selalu kurang.
Padahal, menurut Jatim, tugas orangtua bukan mencetak anak menjadi “salinan” orang lain, tetapi mendampinginya agar berkembang menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
Dalam Islam, manusia diingatkan bahwa Allah SWT telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Hal tersebut sebagaimana firman Allah dalam Surat At-Tin ayat 4:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ
Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Selain itu, Allah SWT juga mengingatkan manusia agar tidak selalu menginginkan kelebihan yang diberikan kepada orang lain.
Dalam Surat An-Nisa ayat 32, Allah SWT berfirman:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ
Artinya: “Janganlah kamu berangan-angan (iri) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.”
Ayat tersebut dapat menjadi pengingat bagi orangtua agar tidak hanya melihat kelebihan yang dimiliki anak lain, tetapi juga mensyukuri potensi yang Allah berikan kepada anaknya.
Ada sejumlah dampak yang dapat muncul ketika seseorang terbiasa membandingkan dirinya atau anaknya dengan orang lain.
1. Sulit mensyukuri kelebihan yang dimiliki
Terlalu fokus terhadap pencapaian orang lain dapat membuat seseorang lupa melihat berbagai nikmat dan kemampuan yang telah dimilikinya.
Dalam pengasuhan, kondisi serupa dapat membuat orangtua lebih mudah melihat kekurangan anak dibandingkan perkembangan dan kelebihannya.
2. Menurunkan kepercayaan diri anak
Anak yang berulang kali dibandingkan dengan orang lain dapat merasa pencapaiannya tidak pernah cukup.
Alih-alih termotivasi, anak bisa merasa dirinya tidak mampu memenuhi harapan orangtua.
3. Melukai perasaan anak
Ucapan membandingkan dapat membuat anak merasa tidak dihargai sebagai dirinya sendiri.
Terlebih jika perbandingan tersebut terus dilakukan dengan saudara kandung, teman sekolah, maupun anak lain.
4. Memunculkan iri terhadap orang lain
Anak dapat melihat keberhasilan orang lain sebagai ancaman karena pencapaian tersebut selalu digunakan untuk menilai dirinya.
Dalam Islam, rasa iri atau hasad merupakan salah satu sikap hati yang perlu dihindari.
Alih-alih membandingkan anak dengan orang lain, orangtua dapat membandingkan perkembangan anak dengan dirinya sendiri.
Misalnya, apakah kemampuan membaca anak mengalami perkembangan dibandingkan beberapa bulan sebelumnya atau apakah ia semakin bertanggung jawab terhadap tugasnya.
Dengan cara tersebut, perhatian orangtua diarahkan kepada proses dan perkembangan, bukan semata-mata hasil.
Orangtua juga dapat memberikan apresiasi terhadap usaha yang dilakukan anak, termasuk kemajuan-kemajuan kecil yang mungkin tidak terlihat sebagai prestasi.
Jika melihat keberhasilan anak lain, orangtua dapat menjadikannya inspirasi tanpa menjadikannya standar mutlak bagi anak sendiri.
Yang tidak kalah penting, orangtua perlu mengenali kelebihan anak yang mungkin berbeda dari ekspektasinya.
Tidak semua anak berkembang dengan kecepatan dan kemampuan yang sama. Ada yang menonjol dalam akademik, olahraga, seni, kemampuan sosial, kepemimpinan, maupun kepedulian terhadap orang lain.
Seperti bunga yang tidak mekar pada waktu yang sama, anak juga membutuhkan waktu, perhatian, kesempatan, dan pendampingan untuk menemukan serta mengembangkan potensinya.
Karena itu, daripada bertanya, “Mengapa anakku tidak seperti anak lain?”, orangtua dapat mengubah pertanyaan menjadi, “Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu anak saya berkembang menjadi dirinya yang terbaik?”
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT