Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Seperti Apa Nabi Muhammad ketika Marah?

Kompas.com, 24 Agustus 2026, 07:21 WIB
Reni Susanti

Editor

Sumber NU Online

KOMPAS.com - Sebagai manusia biasa yang juga diutus sebagai teladan bagi seluruh umat, Nabi Muhammad SAW tidak lepas dari emosi, termasuk marah.

Namun, cara beliau mengekspresikan kemarahan sangat berbeda dari kebanyakan orang, yakni terkendali, bertujuan jelas, dan hampir selalu bukan untuk kepentingan pribadi.
Bagaimana sebenarnya sosok Rasulullah SAW ketika sedang marah?

Marah adalah Fitrah Manusiawi Nabi

Islam tidak pernah menggambarkan Nabi Muhammad SAW sebagai sosok yang mustahil marah.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW sendiri bersabda, "Ya Allah, sesungguhnya Muhammad adalah manusia, dapat marah sebagaimana manusia marah."

Baca juga: Nabi Muhammad Menjadi Yatim Sejak dalam Kandungan, Begini Masa Kecil Rasulullah

Pengakuan ini menegaskan bahwa marah adalah bagian dari fitrah manusia yang juga dimiliki oleh seorang nabi.

Sekaligus menjadi dasar bahwa umat Islam tidak perlu memaksakan diri untuk sepenuhnya menekan rasa marah, melainkan belajar mengelolanya dengan bijak sebagaimana yang dicontohkan.

Dalam tradisi bahasa Arab, marah dikenal dengan istilah ghadhab, yang merupakan lawan kata dari ridha atau kerelaan.

Dikutip dari NU Online, marah tidak selalu bermakna negatif. Dalam konteks tertentu, marah justru dapat menjadi bentuk reaksi positif, terutama ketika didasarkan pada pembelaan terhadap nilai-nilai agama dan kebenaran.

Sebaliknya, marah yang tercela adalah marah yang tidak terkendali dan didasari oleh hawa nafsu semata.

Baca juga: Nama 25 Nabi dan Rasul Beserta Mukjizatnya, Lengkap dengan Ulul Azmi

Ekspresi Kemarahan yang Terkendali

Meski Rasulullah SAW pernah marah, ekspresi kemarahannya sangat jarang terjadi dan tidak pernah berlebihan.

Gambaran umum tentang bentuk kemarahan Rasulullah biasanya terlihat lewat perubahan raut wajah yang menunjukkan ketidaksenangan, bukan melalui luapan kata-kata kasar atau tindakan kekerasan.

Salah satu riwayat yang masyhur diceritakan oleh Abu Hurairah RA. Suatu ketika seorang laki-laki meminta nasihat kepada Nabi SAW. Beliau hanya menjawab singkat, "Jangan marah."

Orang tersebut mengulangi permintaannya berkali-kali, namun jawaban Nabi tetap sama, "Jangan marah" (HR Bukhari).

Dalam kesempatan lain, Rasulullah SAW juga bersabda bahwa orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, melainkan orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah (HR Bukhari).

Pesan-pesan ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya pengendalian diri, bukan berarti melarang manusia untuk merasakan emosi marah sama sekali.

Marah karena Allah, Bukan karena Diri Sendiri

Salah satu ciri paling menonjol dari kemarahan Rasulullah SAW adalah bahwa hal itu tidak pernah dipicu oleh kepentingan pribadinya.

Sebagaimana diulas NU Online, konteks marahnya Rasulullah bukan karena beliau dihina atau direndahkan secara personal, melainkan karena kebenaran yang dilanggar atau ajaran Allah yang didustakan.

Kemarahan Rasulullah semata-mata karena Allah (lillah), bukan karena ego atau kepentingan golongan.

Salah satu kisah yang menggambarkan hal ini adalah peristiwa permintaan keringanan hukuman untuk seorang perempuan bangsawan Quraisy yang tertangkap mencuri pada masa Fathu Makkah.

Ketika Usamah bin Zaid, sahabat yang sangat dicintai Rasulullah, mencoba meminta keringanan, raut wajah Nabi SAW berubah menandakan ketidaksenangan.

Rasulullah bersabda, "Apakah engkau meminta syafaat untuk pelanggaran terhadap ketentuan hukum Allah?" Rasul kemudian menegaskan dalam khutbahnya bahwa kehancuran umat-umat terdahulu disebabkan oleh ketidakadilan, yakni ketika orang-orang terpandang dibiarkan lolos dari hukum sementara rakyat kecil dihukum dengan tegas.

Rasulullah bahkan bersumpah bahwa seandainya putrinya sendiri, Fatimah binti Muhammad, yang mencuri, beliau tetap akan menegakkan hukum yang sama.

Marah demi Menegakkan Keadilan dan Persatuan

Selain soal penegakan hukum, Rasulullah SAW juga pernah menunjukkan kemarahan ketika menyaksikan perpecahan di kalangan umat Islam.

Dikisahkan dalam riwayat Sa'ad bin Abi Waqqash, ketika sekelompok pasukan Muslim berselisih pendapat dan sebagian di antaranya bertindak sendiri tanpa berkoordinasi, Rasulullah SAW menegur keras perpecahan tersebut.

Beliau mengingatkan bahwa kehancuran umat-umat terdahulu juga disebabkan oleh perpecahan di antara mereka sendiri.

Contoh lain datang dari riwayat yang disampaikan KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), yang menceritakan kemarahan sahabat-sahabat Nabi ketika salah seorang dari mereka membunuh seseorang yang sudah mengucapkan kalimat syahadat di tengah peperangan.

Peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa penegakan prinsip dan nilai kemanusiaan dalam Islam tidak bisa dikompromikan, bahkan dalam situasi genting sekalipun.

Hikmah di Balik Kemarahan Rasulullah

Kajian yang termuat dalam buku "Ketika Rasul Marah: Memahami Hikmah dan Etika di Balik Kemarahan Nabi SAW" karya Muhammad Ali Utsman Mujahid, mencatat setidaknya 61 kisah kemarahan Rasulullah SAW yang dilengkapi penjelasan dari ulama-ulama besar seperti Ibnu Katsir, Imam an-Nawawi, dan Ibnu Hajar al-Asqalani.

Dari kisah-kisah tersebut, tergambar jelas bahwa kemarahan Rasulullah bukan ekspresi kepentingan pribadi atau ego kelompok, melainkan bentuk ketegasan dalam menjaga prinsip-prinsip Islam dan memperbaiki hubungan sosial.

Kemarahan beliau selalu terarah pada waktu, tempat, dan cara yang tepat, sehingga berfungsi sebagai mekanisme untuk mencegah kemungkaran sekaligus melindungi kebaikan.

Melalui teladan ini, umat Islam diajak memahami bahwa marah bukan sekadar luapan emosi yang harus dihindari sepenuhnya, melainkan dapat diarahkan menjadi kekuatan positif apabila disertai kebijaksanaan dan pengendalian diri.

Sikap Rasulullah SAW ketika marah menjadi pelajaran penting bagi umat Islam di masa kini.

Marah bukanlah hal yang harus ditekan mati-matian, tetapi harus dikelola dengan penuh kesadaran, ditujukan untuk kebenaran, dan tidak dilampiaskan secara berlebihan yang justru merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Menag Minta Studi Antaragama Diperkuat: Penting untuk Bangun Perdamaian
Menag Minta Studi Antaragama Diperkuat: Penting untuk Bangun Perdamaian
Aktual
Petugas Haji 2027: Syarat, Jadwal, dan Dokumen yang Wajib Disiapkan
Petugas Haji 2027: Syarat, Jadwal, dan Dokumen yang Wajib Disiapkan
Aktual
Saat Rasulullah Menerima Rombongan Kristen Najran di Masjid Nabawi
Saat Rasulullah Menerima Rombongan Kristen Najran di Masjid Nabawi
Aktual
50 Ucapan Maulid Nabi 2026 Singkat untuk Media Sosial, Singkat dan Penuh Makna
50 Ucapan Maulid Nabi 2026 Singkat untuk Media Sosial, Singkat dan Penuh Makna
Aktual
Seperti Apa Nabi Muhammad ketika Marah?
Seperti Apa Nabi Muhammad ketika Marah?
Aktual
Jam Biologis dalam Sains dan Islam, Menjaga Ritme Tubuh untuk Cegah Penyakit Kronis
Jam Biologis dalam Sains dan Islam, Menjaga Ritme Tubuh untuk Cegah Penyakit Kronis
Aktual
Pendaftaran Petugas Haji 2027 Dibuka 25 Agustus, Simak Formasi dan Syaratnya
Pendaftaran Petugas Haji 2027 Dibuka 25 Agustus, Simak Formasi dan Syaratnya
Aktual
Jelang Muktamar NU, Ribuan Nahdliyin Khatamkan Al-Quran di 3.500 Titik
Jelang Muktamar NU, Ribuan Nahdliyin Khatamkan Al-Quran di 3.500 Titik
Aktual
Jelang Muktamar NU, 3.000 Kasur hingga Becak Listrik Disiapkan
Jelang Muktamar NU, 3.000 Kasur hingga Becak Listrik Disiapkan
Aktual
GP Ansor Gelar Rakornas Jelang Muktamar NU, Jaga Suasana Kebatinan Indonesia
GP Ansor Gelar Rakornas Jelang Muktamar NU, Jaga Suasana Kebatinan Indonesia
Aktual
Robbisrohli Sodri: Arab, Latin, Arti, dan Tafsir Doa Nabi Musa
Robbisrohli Sodri: Arab, Latin, Arti, dan Tafsir Doa Nabi Musa
Doa Harian
Jelang Muktamar ke-35 NU, Makam Gus Dur di Tebuireng Dibuka 24 Jam
Jelang Muktamar ke-35 NU, Makam Gus Dur di Tebuireng Dibuka 24 Jam
Aktual
Apa Arti Amanat Jabatan dalam Islam? Ini Penjelasan Surat An-Nisa Ayat 58
Apa Arti Amanat Jabatan dalam Islam? Ini Penjelasan Surat An-Nisa Ayat 58
Aktual
Festival Jagat 2026 di Jombang, Jaringan GUSDURian Gaungkan Agama untuk Menjaga Alam
Festival Jagat 2026 di Jombang, Jaringan GUSDURian Gaungkan Agama untuk Menjaga Alam
Aktual
Cara Registrasi Peserta Muktamar Ke-35 NU, dari Penjemputan hingga Dapat ID Card
Cara Registrasi Peserta Muktamar Ke-35 NU, dari Penjemputan hingga Dapat ID Card
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar