Editor
KOMPAS.com - Anggapan bahwa Muhammadiyah tidak merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW karena menganggapnya sebagai bid’ah masih berkembang di masyarakat.
Padahal, Majelis Tarjih dan sejumlah pimpinan Muhammadiyah menjelaskan bahwa peringatan Maulid Nabi tidak ditolak, tetapi pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan prinsip ajaran Islam.
Baca juga: Puasa Sunnah Maulid Nabi 12 Rabiul Awal: Niat, Hukum, Tata Cara, dan Manfaat
Dilansir dari Antara, Majelis Tarjih PP Muhammadiyah menyatakan tidak ditemukan dalil tegas yang memerintahkan ataupun melarang perayaan Maulid Nabi. Karena itu, hukum memperingati Maulid Nabi masuk dalam ranah ijtihadiyah, yakni menjadi pilihan bagi individu atau komunitas dan bukan kewajiban agama.
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah juga menyatakan bahwa apabila masyarakat memandang perlu menyelenggarakan Maulid Nabi, pelaksanaannya harus memperhatikan aspek kemanfaatan.
Baca juga: 6 Shalawat Singkat untuk Dibaca saat Maulid Nabi: Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Peringatan tersebut juga perlu menghindari bid’ah, syirik, serta pemujaan secara berlebihan kepada Nabi Muhammad SAW.
Cara Muhammadiyah Memaknai dan Memperingati Maulid Nabi
Menurut sumber resmi, Muhammadiyah tidak merayakan Maulid Nabi melalui seremoni khas sebagaimana sejumlah tradisi Islam lainnya.
Momentum tersebut dapat diramaikan melalui kegiatan dakwah, seperti pengajian atau tabligh, tanpa ritual maupun seremoni yang dinilai mengandung unsur bid’ah.
Muhammadiyah juga mendorong kegiatan sosial sebagai bentuk konkret dalam meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW.
Kegiatan tersebut antara lain santunan, pengobatan gratis, dan berbagi makanan sebagai bentuk dakwah kasih serta kepedulian kepada masyarakat.
Muhammadiyah ternyata telah menjadikan peringatan Maulid Nabi sebagai bagian dari tradisi internal sejak dahulu.
Pada 1976, PP Muhammadiyah mengeluarkan instruksi kepada Pimpinan Daerah dan Cabang agar menyelenggarakan Maulid Nabi.
Ketua PP Muhammadiyah saat itu, KH A.R. Fachruddin, juga mengingatkan bahwa pelaksanaan Maulid Nabi tidak harus dilakukan tepat pada 12 Rabiul Awal. Peringatan tersebut juga tidak harus menggunakan ritual atau tata cara yang baku.
Dengan demikian, meskipun tidak ditempatkan sebagai ritual agama yang wajib, peringatan Maulid Nabi telah menjadi bagian dari tradisi Muhammadiyah yang fleksibel dan berorientasi pada kemaslahatan.
Berdasarkan pandangan tersebut, Muhammadiyah tidak bersikap anti terhadap peringatan Maulid Nabi.
Sikap yang dikedepankan adalah menempatkan Maulid sebagai momentum yang dapat diisi dengan kegiatan bermanfaat dan tidak bertentangan dengan prinsip ajaran Islam.
Beberapa poin penting mengenai pandangan Muhammadiyah terhadap Maulid Nabi yaitu:
Pemberitaan bahwa Muhammadiyah tidak merayakan Maulid Nabi dapat muncul karena adanya perbedaan cara memaknai dan melaksanakan peringatan tersebut dalam tradisi keagamaan.
Muhammadiyah tidak menolak nilai Maulid sebagai momentum untuk berdakwah dan meneladani Nabi Muhammad SAW.
Sikap Muhammadiyah terhadap Maulid Nabi lebih menekankan pendekatan yang moderat dan kontekstual.
Organisasi ini mengakui Maulid sebagai momentum dakwah, tetapi menghindari praktik ritual yang berpotensi menyimpang dari ajaran agama.
Prinsip yang dikedepankan adalah berkaji, berdakwah, dan beramal tanpa berlebihan. Dengan pendekatan tersebut, peringatan Maulid Nabi dapat diisi melalui kegiatan keagamaan dan sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT