Editor
BANDUNG, KOMPAS.com - Fenomena hijrah di kalangan artis tidak hanya mengubah cara figur publik menampilkan kehidupan pribadi dan keberagamaannya.
Kehadiran media sosial juga membuat kesalehan menjadi sesuatu yang ditampilkan, dimaknai, hingga diperbincangkan bersama para pengikut.
Fenomena tersebut diteliti Femi Fauziah Alamsyah, dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, dalam penelitian doktornya mengenai identitas kesalehan populer artis hijrah di Instagram.
Baca juga: Dewan Muslim Inggris Puji Muhammadiyah: Tak Hanya Bangun Sekolah, tapi Juga Manusia
Femi meneliti akun Instagram empat figur publik, yakni Shireen Sungkar, Larissa Chou, Ricky Harun, dan Arie Untung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas kesalehan di media sosial tidak hanya dibangun melalui penggunaan simbol-simbol keagamaan.
Cerita kehidupan sehari-hari, tampilan visual, hingga interaksi dengan pengikut turut membentuk bagaimana kesalehan ditampilkan dan dimaknai di ruang digital.
"Dalam konteks tersebut, simbol-simbol Islam tidak berdiri sendiri. Ketika ditampilkan melalui media sosial, simbol tersebut memperoleh nilai tertentu atau sign value yang kemudian dipahami, dibicarakan, dan dinegosiasikan oleh para pengikut," ujar Femi.
Temuan tersebut merupakan bagian dari disertasi Femi berjudul "Identitas Kesalehan Populer Artis Hijrah di Media Sosial (Studi Netnografi pada Akun Instagram @shireensungkar, @larissachou, @rickyharun, dan @ariekuntung)".
Disertasi itu dipertahankan dalam sidang terbuka promosi doktor di Aula Selatan Gedung Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Sabtu (22/8/2026).
Femi menempuh Program Doktor Studi Agama-Agama dengan konsentrasi Agama dan Media.
Baca juga: Tata Cara Shalat Jenazah Lengkap: Niat, Rukun, hingga Shalat Gaib
Menurut Femi, perkembangan media sosial telah mengubah cara praktik keberagamaan ditampilkan sekaligus dimaknai masyarakat.
Artis hijrah memiliki posisi menarik dalam fenomena tersebut karena mereka merupakan figur publik dengan jumlah pengikut yang besar. Pengalaman keberagamaan yang mereka bagikan dapat menjadi bagian dari percakapan keagamaan di ruang digital.
Dalam penelitiannya, Femi mengamati 40 konten Instagram dari akun Shireen Sungkar, Larissa Chou, Ricky Harun, dan Arie Untung. Konten tersebut meliputi foto, video, keterangan atau caption, serta komentar pengikut.
Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode netnografi untuk melihat proses sosial dan budaya dalam pembentukan identitas kesalehan di ruang digital.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kesalehan populer tidak hanya muncul melalui simbol-simbol keagamaan yang ditampilkan figur publik.
Estetika visual, cerita kehidupan sehari-hari, serta unsur emosional turut membuat pesan keagamaan terasa dekat dengan pengalaman pengikut.
Interaksi pengikut pun tidak berhenti pada aktivitas melihat atau menyukai sebuah unggahan.
Kolom komentar dan percakapan yang muncul di media sosial dapat berkembang menjadi ruang untuk memberikan validasi sosial, berbagi pengalaman, hingga menegosiasikan pemaknaan terhadap keberagamaan.
Dengan demikian, media sosial bukan sekadar tempat figur publik menunjukkan identitas keagamaannya. Identitas tersebut juga dibentuk melalui interaksi antara figur publik dan pengikutnya.
Salah satu temuan utama dalam penelitian Femi adalah konsep kesalehan sirkulatif atau circulative piety.
Konsep tersebut menjelaskan bahwa kesalehan di ruang digital tidak berhenti pada individu yang membuat dan mengunggah sebuah konten.
Kesalehan dapat bergerak melalui konten, simbol, cerita, interaksi, hingga respons pengguna media sosial.
Sebuah unggahan bernuansa keagamaan, misalnya, tidak berhenti ketika dipublikasikan oleh figur publik.
Unggahan tersebut dilihat dan dimaknai pengikut, mendapatkan berbagai respons, memunculkan percakapan, kemudian dapat kembali beredar melalui interaksi di ruang digital.
Penelitian Femi kemudian menghasilkan model sirkulasi kesalehan populer di media sosial.
Model tersebut menggambarkan proses ketika simbol dan narasi keagamaan diproduksi melalui estetika tertentu, direpresentasikan kepada audiens, mendapatkan pengakuan dan pemaknaan sosial, kemudian kembali disirkulasikan melalui interaksi digital.
Proses itulah yang membuat identitas kesalehan di media sosial bersifat dinamis dan tidak sepenuhnya ditentukan oleh orang yang pertama kali membuat konten.
Penelitian Femi juga melihat bagaimana simbol-simbol keagamaan memperoleh makna ketika hadir di media sosial.
Untuk membaca fenomena tersebut, Femi antara lain menggunakan perspektif Digital Religion dari Heidi A Campbell, Visual Culture of Religion dari Birgit Meyer, teori representasi Stuart Hall, serta Political Economy of the Sign dari Jean Baudrillard.
Dari penelitian tersebut, Femi menemukan bahwa tanda dan simbol keagamaan di media digital tidak semata-mata menjadi representasi yang terputus dari kehidupan nyata.
Simbol-simbol tersebut juga dapat berperan dalam membentuk pengalaman religius, pengakuan sosial, serta proses negosiasi makna yang tetap berhubungan dengan kehidupan sehari-hari penggunanya.
Temuan ini menunjukkan bahwa praktik keberagamaan di media sosial merupakan proses yang terus bergerak.
Kesalehan populer dapat berubah dan berkembang seiring dengan bagaimana simbol, cerita, dan pengalaman keagamaan diproduksi, ditampilkan, ditanggapi, serta dikonsumsi pengguna media sosial.
Fenomena tersebut, menurut Femi, juga penting dilihat dalam kajian Komunikasi dan Penyiaran Islam.
Media sosial telah berkembang menjadi salah satu ruang komunikasi keagamaan. Pesan agama yang sebelumnya banyak disampaikan secara satu arah kini dapat langsung mendapatkan respons dari audiens.
"Bagi kajian Komunikasi dan Penyiaran Islam, penelitian ini juga menunjukkan semakin pentingnya memahami media sosial sebagai ruang baru dalam komunikasi keagamaan. Pesan agama tidak lagi hanya disampaikan secara satu arah, tetapi berkembang melalui percakapan, respons, dan partisipasi pengguna," kata Femi.
Dengan kondisi tersebut, pengguna media sosial tidak hanya menjadi penerima pesan. Mereka dapat ikut memberikan tanggapan, membagikan pengalaman, serta membentuk pemaknaan terhadap pesan keagamaan yang mereka temui.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT