Editor
KOMPAS.com — Pencegahan stunting tidak seharusnya baru dilakukan ketika anak mengalami gangguan pertumbuhan. Upaya tersebut perlu dimulai jauh lebih awal, bahkan sejak sebelum kehamilan hingga 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (PP POGI), Prof Budi Wiweko mengatakan, stunting merupakan manifestasi akhir dari gagal tumbuh akibat gangguan pertumbuhan linear yang dapat dimulai sejak kehidupan janin.
Gangguan tersebut dapat berkaitan dengan kondisi lingkungan di dalam rahim yang kurang optimal.
Baca juga: Nabi Muhammad Menjadi Yatim Sejak dalam Kandungan, Begini Masa Kecil Rasulullah
Setelah anak lahir, kondisi itu dapat berlanjut akibat kekurangan gizi, infeksi berulang, serta kualitas pengasuhan yang tidak memadai selama 1.000 HPK.
"Akibatnya, anak dapat gagal mencapai potensi pertumbuhan dan perkembangan biologisnya secara optimal," kata Budi dalam rilisnya, Senin (31/8/2026).
Menurut Budi, perkembangan anak sudah perlu diperhatikan sejak masih berada dalam kandungan.
Kondisi gizi ibu yang buruk dapat mengganggu perkembangan plasenta dan pertumbuhan janin. Jika kondisi tersebut berlanjut, bayi berisiko lahir dengan berat badan rendah.
Berat badan lahir rendah kemudian menjadi salah satu faktor risiko awal terjadinya stunting sehingga pertumbuhan anak perlu terus dipantau.
"BB rendah sudah menjadi faktor risiko awal terjadinya stunting, sehingga pertumbuhannya harus terus dimonitor," ujarnya.
Baca juga: Kandungan Surat Al Lahab: Kutukan Abadi Penentang Nabi
Pada usia 24 bulan, keterlambatan pertumbuhan mulai semakin terlihat. Sementara pada usia 36 bulan, menurut Budi, anak yang mengalami stunting dapat memiliki tinggi badan hingga 20 sentimeter lebih pendek dibandingkan anak yang tumbuh normal.
Karena itu, semakin dini faktor risiko ditemukan dan ditangani, semakin besar pula kesempatan untuk mencegah gangguan pertumbuhan menjadi lebih berat.
Dalam perspektif Islam, menjaga kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak juga sejalan dengan prinsip hifzh an-nasl atau menjaga keturunan, salah satu tujuan utama syariat Islam.
Upaya memenuhi kebutuhan gizi ibu sejak kehamilan, menjaga kesehatan janin, serta mencegah gangguan pertumbuhan dapat menjadi bagian dari ikhtiar orangtua dalam menjaga amanah kehidupan dan mempersiapkan generasi yang sehat serta berkualitas.
Pencegahan stunting perlu dilakukan sejak sebelum konsepsi hingga dua tahun pertama kehidupan anak. Periode tersebut menjadi bagian penting dari 1.000 HPK yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Ada lima prinsip yang menjadi landasan pencegahan stunting sejak dini, yakni:
Kondisi kesehatan calon ibu perlu diperhatikan bahkan sebelum terjadi kehamilan. Persiapan ini menjadi dasar agar ibu memasuki masa kehamilan dalam kondisi kesehatan yang baik.
Selama kehamilan, kebutuhan gizi ibu perlu terpenuhi. Pemeriksaan kehamilan juga diperlukan untuk mengetahui kondisi kesehatan ibu dan perkembangan janin.
Pertumbuhan janin perlu dipantau untuk mendeteksi kemungkinan gangguan sejak dini.
Pemeriksaan kehamilan, termasuk ultrasonografi (USG), dapat menjadi bagian dari pemantauan tersebut.
Pencegahan stunting tidak berhenti selama masa kehamilan.
Proses persalinan dan perawatan neonatal juga menjadi bagian penting untuk memastikan bayi mendapatkan awal kehidupan yang baik.
Setelah lahir, pemenuhan gizi, pencegahan infeksi, pemantauan pertumbuhan, serta pola pengasuhan menjadi faktor penting agar anak dapat mencapai potensi pertumbuhan dan perkembangannya secara optimal.
Upaya pencegahan tersebut menjadi salah satu fokus Program Merdeka Stunting 2026 yang digagas POGI melalui Kelompok Kerja Penurunan Angka Kematian Ibu dan Stunting (Pokja PAKIAS) bersama PT Pegadaian.
Program ini merupakan bagian dari SPRIN (Selamatkan PeRempuan INdonesia), gerakan yang diinisiasi POGI untuk memperkuat pencegahan dan intervensi kesehatan perempuan sejak dini.
Budi mengatakan, program dilaksanakan secara serentak di 36 kota di Indonesia dengan melibatkan 12 Kantor Wilayah Pegadaian dan 36 cabang POGI.
Sekitar 1.080 ibu hamil menjadi penerima manfaat program tersebut, termasuk ibu hamil di Kota Bandung melalui pelaksanaan bersama PT Pegadaian Kanwil X Jawa Barat dan POGI.
Di setiap lokasi, ibu hamil mendapatkan pemeriksaan kesehatan dan USG kehamilan, pemberian Multiple Micronutrient Supplement (MMS), serta edukasi mengenai gizi dan pencegahan stunting.
"Kami ingin memastikan mereka mendapatkan pemeriksaan, edukasi, dan pendampingan yang dibutuhkan sejak awal kehamilan, karena pencegahan stunting memang harus dimulai sedini mungkin," kata Budi.
Ketua Pokja PAKIAS Prof mengatakan, Merdeka Stunting 2026 dirancang sebagai program berkelanjutan yang terdiri dari tiga tahap.
Tahap pertama adalah Raising Awareness, yakni membangun kesadaran masyarakat bahwa stunting dapat dicegah sejak dini melalui edukasi dan kampanye.
Tahap kedua berupa identifikasi dan intervensi dengan mengintegrasikan skrining risiko mulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga rujukan spesialistik.
Ibu hamil menjalani skrining faktor risiko, pengukuran, pencatatan, serta pemeriksaan USG sebagai data awal. Ibu dan janin yang memiliki risiko kemudian mendapatkan pemantauan serta tindak lanjut sesuai kebutuhan.
Penanganan dilakukan secara multidisiplin, mulai dari persoalan gizi, penyakit penyerta dan komplikasi kehamilan hingga kesehatan mental.
Adapun tahap ketiga, Birth Outcome & Learning System, berfokus pada pencatatan luaran kelahiran, antara lain berat lahir, usia kehamilan, serta kondisi bayi. Data tersebut digunakan sebagai bahan evaluasi dan pengembangan pelayanan.
Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan mengatakan, perempuan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan diri sekaligus generasi mendatang.
Karena itu, kesadaran hidup sehat dan pemenuhan kebutuhan gizi selama kehamilan perlu terus diperkuat.
Menurut Veronica, perempuan perlu memiliki kesadaran terhadap hak untuk menjaga dan menentukan kesehatan dirinya sekaligus memastikan anak memperoleh awal kehidupan yang berkualitas.
"Merdeka Stunting bukan hanya sekadar mencegah anak agar tidak pendek. Ini adalah tentang memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk mencapai potensi tumbuh kembangnya secara optimal, dan kesempatan tersebut dimulai bahkan sebelum seorang anak dilahirkan," kata Budi.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT