KOMPAS.com - Orangtua perlu membangun pola pendidikan di dalam keluarga sejak anak masih dini untuk membantu mereka menghadapi berbagai tantangan dalam pergaulan.
Hal ini menjadi perhatian Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang mendorong calon orangtua menyiapkan “kurikulum keluarga” sebelum menikah.
Gagasan tersebut disampaikan Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Talqis Nurdianto dalam kajian Majelis Tabligh PP Muhammadiyah pada Senin (31/8/2026).
Menurutnya, keluarga memiliki peran sebagai “madrasah” pertama bagi anak, sehingga orangtua perlu memiliki pedoman dalam mendidik dan membimbing anak.
“Kurikulum keluarga harus ada,” kata Talqis dalam kajian tersebut.
"Kurikulum keluarga sebaiknya disiapkan sejak seseorang hendak membangun rumah tangga. Pedoman tersebut nantinya dapat digunakan orangtua untuk menentukan arah pendidikan anak di lingkungan keluarga," kata Talqis.
Baca juga: Belajar dari Umar bin Khattab, Saat Anak Khalifah Tak Boleh Menikmati Privilege
Pendidikan di dalam keluarga tidak hanya berkaitan dengan pelajaran akademik.
Orangtua juga memiliki tanggung jawab untuk membentuk karakter, memberikan pemahaman mengenai hubungan sosial, serta membantu anak menghadapi berbagai persoalan yang muncul dalam proses pertumbuhan.
Kementerian Kesehatan RI juga menekankan pentingnya dukungan keluarga dalam tumbuh kembang remaja.
Dukungan tersebut mencakup pengasuhan, pemeliharaan, pendidikan, dan perlindungan agar remaja dapat tumbuh sesuai dengan kemampuan, minat, dan bakatnya.
Dengan demikian, keterlibatan orangtua tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan anak.
Komunikasi dan pendampingan juga menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan keluarga yang aman bagi anak.
Baca juga: UIN Bandung: Keluarga Benteng Pertama Cegah Anak Terjerat Judol dan Pinjol Ilegal
Talqis menyoroti pentingnya pendidikan mengenai relasi antara laki-laki dan perempuan.
Menurutnya, anak perlu mendapatkan pemahaman yang tepat mengenai hubungan dengan lawan jenis agar tidak mencari informasi secara bebas tanpa pendampingan.
Ia juga menilai pendidikan seksual tidak seharusnya menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan dalam keluarga.
Pendidikan tersebut dapat menjadi bagian dari pembelajaran yang membantu anak memahami batasan diri, tanggung jawab, serta menjaga diri dalam pergaulan.
Pembahasan mengenai kesehatan dan perkembangan remaja juga menjadi perhatian Kementerian Kesehatan.
Kemenkes menyebut remaja mengalami perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang signifikan. Karena itu, remaja perlu dibekali kemampuan mengambil keputusan yang baik dan bertanggung jawab atas tindakannya.
Pendidikan mengenai relasi pun perlu disampaikan dengan bahasa yang sesuai dengan usia anak. Orangtua dapat menjadi tempat pertama bagi anak untuk bertanya dan memperoleh informasi yang benar.
Perkembangan teknologi membuat tantangan orangtua dalam mendampingi anak semakin kompleks.
Anak dapat memperoleh informasi dan berinteraksi dengan orang lain melalui perangkat digital tanpa selalu diketahui orangtua.
Talqis menilai kondisi tersebut membuat kedekatan fisik antara orangtua dan anak belum tentu menunjukkan adanya kedekatan dalam komunikasi.
Orangtua bisa saja berada di rumah bersama anak, tetapi tidak mengetahui aktivitas maupun persoalan yang sedang dihadapi anak.
Karena itu, pengawasan tidak cukup dilakukan dengan sekadar mengetahui keberadaan anak. Orangtua juga perlu membangun komunikasi yang membuat anak merasa aman untuk bercerita.
Kementerian Kesehatan melalui laman kesehatan resminya juga menekankan pentingnya orangtua mengenal lingkungan pertemanan anak.
Mengenal teman anak bukan berarti membatasi pergaulan, melainkan membantu memastikan anak tumbuh dalam lingkungan yang aman dan positif.
Kurikulum keluarga dapat dipahami sebagai pedoman bagi orangtua dalam menentukan nilai dan kebiasaan yang ingin dibangun bersama anak.
Dengan adanya pedoman tersebut, pendidikan anak diharapkan tidak berjalan tanpa arah.
Namun, penerapannya bukan berarti keluarga harus membuat aturan yang kaku. Pendidikan keluarga justru membutuhkan komunikasi dan keteladanan dari orangtua.
Anak dapat belajar mengenai tanggung jawab dari kebiasaan yang diterapkan di rumah. Begitu pula dengan cara menghargai orang lain, menjaga batasan diri, menyelesaikan masalah, dan mengambil keputusan.
Hubungan yang sehat antara orangtua dan anak juga dapat membantu anak menghadapi berbagai persoalan yang muncul ketika memasuki usia remaja.
Keluarga memiliki posisi penting dalam membantu anak menghadapi lingkungan sosialnya. Karena itu, komunikasi antara orangtua dan anak perlu dibangun sejak dini, bukan baru dilakukan ketika muncul masalah.
Orangtua dapat meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak, mengetahui lingkungan pertemanannya, serta memberikan penjelasan ketika anak menghadapi situasi yang belum dipahaminya.
Pendekatan tersebut juga membuat anak memiliki tempat untuk meminta pertimbangan sebelum mengambil keputusan.
Kemenkes menegaskan bahwa dukungan keluarga diperlukan untuk membantu remaja tumbuh sehat.
Selain pendidikan dan perlindungan, keluarga juga berperan dalam membantu remaja mengembangkan kemampuan dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang sesuai.
Pada akhirnya, gagasan mengenai kurikulum keluarga menempatkan rumah sebagai ruang pendidikan yang penting bagi anak.
Orangtua tidak hanya berperan memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membangun nilai, memberikan pengetahuan, dan mendampingi anak menghadapi perubahan zaman.
Dengan pendidikan dan komunikasi yang dibangun sejak dini, keluarga diharapkan dapat menjadi lingkungan pertama yang membantu anak memahami dirinya, menjaga batasan dalam pergaulan, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT