Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Belajar dari Umar bin Khattab, Saat Anak Khalifah Tak Boleh Menikmati Privilege

Kompas.com, 1 September 2026, 11:15 WIB
Reni Susanti

Editor

KOMPAS.com — Umar bin Khattab dikenal sebagai salah satu khalifah yang tegas menjaga amanah kekuasaan. Sikap tersebut tidak hanya diterapkan kepada dirinya sendiri, tetapi juga kepada anak dan keluarganya.

Salah satu kisah yang menggambarkan prinsip itu terjadi pada putranya, Abdullah bin Umar.

Umar pernah meminta Abdullah menyerahkan keuntungan dari penjualan seekor unta kepada Baitul Maal karena khawatir keuntungan tersebut diperoleh akibat perlakuan istimewa terhadapnya sebagai anak khalifah.

Kisah tersebut menunjukkan bagaimana Umar berusaha menjaga keluarganya dari keuntungan yang muncul karena kedekatan dengan kekuasaan, sesuatu yang dalam kehidupan modern dapat dikaitkan dengan upaya mencegah benturan kepentingan atau conflict of interest.

Baca juga: Hijrah dan Politik Unta

Unta Abdullah bin Umar yang Menjadi Gemuk

Kisah bermula ketika Abdullah bin Umar membeli seekor unta kurus dengan uangnya sendiri.

Unta tersebut kemudian digembalakan di sebuah padang rumput di Madinah yang juga digunakan untuk menggembalakan hewan sedekah milik Baitul Maal serta ternak milik masyarakat.

Setelah beberapa waktu, unta milik Abdullah tumbuh menjadi gemuk.

Pada suatu kesempatan, Umar melakukan pemeriksaan ke tempat tersebut. Khalifah kedua itu memang dikenal kerap melakukan inspeksi ke berbagai tempat yang berkaitan dengan kehidupan dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Baca juga: Kisah Umar bin Khattab, Menolak Kenikmatan yang Tak Dirasakan Rakyat

Perhatian Umar kemudian tertuju kepada seekor unta gemuk yang tampak berbeda dari ternak lainnya.

“Siapakah pemilik unta ini?” tanya Umar.

Orang-orang menjawab bahwa unta tersebut merupakan milik Abdullah bin Umar.
Mengetahui hal itu, Umar terkejut. Ia kemudian meminta Abdullah datang menemuinya.

Setelah tiba, Abdullah menjelaskan bahwa unta tersebut dibeli menggunakan uangnya sendiri.

“Unta ini aku beli menggunakan uangku sendiri, wahai Amirul Mukminin. Unta ini dulunya sangat kurus, lalu kugembalakan di padang rumput. Setelah sekian lama, akhirnya unta ini menjadi gemuk. Aku memperdagangkannya agar memperoleh keuntungan sebagaimana yang dilakukan oleh orang lain pada umumnya,” kata Abdullah.

Namun, penjelasan tersebut justru membuat Umar memikirkan kemungkinan lain.

Menurut Umar, para penggembala bisa saja memberikan perhatian lebih terhadap unta tersebut setelah mengetahui bahwa pemiliknya adalah putra Amirul Mukminin.

Umar menggambarkan bagaimana orang mungkin berkata agar unta milik putra khalifah digembalakan dengan baik dan diberi minum secukupnya.

Dengan demikian, meskipun Abdullah membeli unta menggunakan hartanya sendiri dan tidak meminta perlakuan khusus, statusnya sebagai anak khalifah berpotensi memberinya keuntungan yang tidak diperoleh masyarakat biasa.

Umar Minta Keuntungan Diserahkan kepada Baitul Maal

Dikutip dari laman Kemenag, Umar kemudian mengambil keputusan tegas.

“Wahai Abdullah bin Umar, ambillah modal pokok yang kamu gunakan untuk membeli unta ini, kemudian berikan semua keuntungannya ke Baitul Maal,” kata Umar.

Artinya, Abdullah tetap berhak memperoleh kembali uang yang sebelumnya digunakan untuk membeli unta. Namun, keuntungan dari penjualan ternak tersebut harus diserahkan kepada Baitul Maal.

Abdullah mengikuti perintah ayahnya.

Sikap Umar tersebut menunjukkan kehati-hatiannya terhadap kemungkinan keluarganya memperoleh keuntungan karena kedudukannya sebagai khalifah.

Persoalannya bukan semata-mata apakah Abdullah sengaja meminta perlakuan khusus. Umar justru memperhatikan kemungkinan bahwa orang lain memberikan perlakuan berbeda karena mengetahui Abdullah merupakan putra penguasa.

Dalam konteks sekarang, sikap tersebut dapat dibaca sebagai pelajaran mengenai pencegahan benturan kepentingan.

Seorang pejabat publik tidak cukup hanya memastikan dirinya tidak mengambil uang negara secara langsung.

Ia juga perlu memastikan jabatan, pengaruh, maupun kedekatan keluarganya dengan kekuasaan tidak menjadi jalan untuk memperoleh keuntungan yang tidak semestinya.

Ketika Umar Menegur Anaknya yang Makan Daging

Ketegasan Umar kepada keluarganya juga tergambar dalam kisah lain.

Suatu ketika, Umar mengunjungi rumah Abdullah. Saat itu, putranya tengah menikmati makanan dengan lauk daging.

Melihat hal tersebut, Umar menegurnya.

“Apakah karena engkau anak dari Amirul Mukminin, lalu engkau bisa makan daging dengan nikmat, sementara orang-orang di luar sana sedang dalam keadaan susah? Tidak bisakah engkau makan cukup dengan roti dan garam saja atau roti dengan minyak?”

Teguran tersebut menggambarkan tingginya tuntutan Umar terhadap keluarganya untuk memiliki kepekaan terhadap keadaan masyarakat.

Bagi Umar, kedudukan sebagai keluarga khalifah bukan alasan untuk memperoleh kehidupan yang lebih istimewa. Sebaliknya, kedekatan dengan kekuasaan membawa tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga diri.

Pelajaran tentang Integritas Pejabat

Dua kisah tersebut memberikan gambaran tentang prinsip kepemimpinan Umar bin Khattab.

Integritas dalam pandangannya tidak berhenti pada diri seorang pemimpin. Keluarga penguasa pun harus dijaga agar tidak memperoleh keuntungan karena jabatan yang sedang dipegang.

Kisah unta Abdullah juga memberikan pelajaran bahwa benturan kepentingan tidak selalu muncul melalui permintaan langsung seorang pejabat atau keluarganya.

Perlakuan istimewa dapat muncul karena orang lain mengetahui seseorang memiliki hubungan dengan pemegang kekuasaan. Jika tidak disikapi dengan hati-hati, kondisi tersebut dapat melahirkan ketidakadilan dan mengikis kepercayaan masyarakat.

Umar memilih standar yang sangat ketat. Abdullah hanya diperbolehkan mengambil kembali modalnya, sementara keuntungan yang dikhawatirkan muncul karena statusnya sebagai anak khalifah diserahkan kepada Baitul Maal.

Keteladanan tersebut tetap relevan dalam kehidupan modern. Jabatan publik bukan hanya menuntut kepatuhan terhadap hukum, tetapi juga kehati-hatian dalam menggunakan pengaruh serta kesediaan menjaga keluarga dari keuntungan yang bersumber dari kekuasaan.

Dengan demikian, amanah kekuasaan tidak menjadi jalan untuk memberikan keistimewaan kepada keluarga, melainkan tanggung jawab yang harus dijaga demi kepentingan masyarakat.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar