KOMPAS.com — Kesibukan kerap membuat orangtua mengandalkan quality time atau waktu berkualitas untuk membangun kedekatan dengan anak.
Padahal, anak juga membutuhkan quantity time atau waktu bersama dalam jumlah yang cukup.
Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Talqis Nurdianto mengatakan, semakin banyak waktu yang tersedia bersama anak, semakin besar pula kesempatan munculnya komunikasi secara alami.
Baca juga: Cegah Anak Salah Pergaulan, Ini Pentingnya “Kurikulum Keluarga”
Orangtua tidak harus selalu merancang kegiatan khusus. Aktivitas sederhana seperti memasak, makan, mengantar atau menjemput anak, hingga bepergian bersama dapat menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi.
Hal tersebut disampaikan Talqis dalam podcast Indahnya Cahaya Islam, Senin (31/8/2026).
Quality Time Bisa Muncul dari Keseharian
Menurut Talqis, orangtua tidak harus selalu merancang percakapan khusus untuk membangun kedekatan dengan anak.
Percakapan bermakna justru dapat muncul secara alami ketika orangtua dan anak memiliki cukup banyak kesempatan untuk bersama.
Baca juga: Belajar dari Umar bin Khattab, Saat Anak Khalifah Tak Boleh Menikmati Privilege
Ia mencontohkan perjalanan bersama anak. Percakapan ringan selama perjalanan dapat berkembang hingga akhirnya anak menceritakan persoalan yang sedang dihadapinya.
Kesempatan semacam itu bahkan dapat dirancang secara sadar oleh orangtua.
"Bahkan kemudian by design," ujar Talqis.
Dengan demikian, quality time tidak selalu berarti liburan, pergi ke tempat tertentu, atau melakukan kegiatan istimewa bersama anak.
Aktivitas sehari-hari pun dapat menjadi waktu berkualitas apabila di dalamnya terdapat interaksi dan komunikasi antara orangtua dan anak.
Quantity time berkaitan dengan tersedianya waktu yang cukup bagi orangtua untuk hadir bersama anak.
Tidak semua waktu tersebut harus diisi dengan percakapan mendalam. Orangtua mungkin hanya menemani anak makan, memasak bersama, mengantar ke sekolah, atau melakukan aktivitas rumah tangga.
Namun, semakin banyak kesempatan bersama, semakin terbuka pula peluang munculnya percakapan.
Dari interaksi sehari-hari tersebut, komunikasi dapat berkembang menjadi lebih mendalam ketika anak merasa siap untuk bercerita.
Karena itu, quality time dan quantity time tidak perlu dipertentangkan. Keduanya justru saling melengkapi dalam membangun kedekatan orangtua dan anak.
Menyediakan waktu tentu menjadi tantangan bagi orangtua yang bekerja. Namun, Talqis mengingatkan agar kesibukan tidak membuat pendampingan terhadap anak terabaikan.
Menurut dia, ketika anak ditempatkan sebagai sesuatu yang penting, keluarga juga perlu mendapat ruang dalam keputusan orangtua mengenai penggunaan waktu.
"Misalkan kalau orangtua menganggap bahwa anaknya memang penting, maka pekerjaan itu menjadi second," katanya.
Hal tersebut bukan berarti orangtua harus meninggalkan pekerjaan. Namun, orangtua tetap perlu menyediakan ruang untuk terlibat dalam kehidupan anak di tengah berbagai kesibukan.
Keterlibatan tersebut dapat diwujudkan melalui hal-hal sederhana dalam keseharian.
Kehadiran orangtua semakin penting ketika anak tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan media sosial.
Lingkungan pergaulan anak saat ini tidak hanya terbentuk melalui pertemuan secara langsung, tetapi juga melalui ruang digital yang belum tentu sepenuhnya diketahui orangtua.
Karena itu, Talqis menilai orangtua perlu memahami lingkungan pergaulan anak.
Namun, upaya tersebut sebaiknya dibangun melalui komunikasi dan kepercayaan, bukan hanya pengawasan.
"Karena teman dia adalah cerminan dari perilaku anak kita," ujar Talqis.
Komunikasi yang terbuka juga dapat membantu anak merasa lebih nyaman bercerita mengenai pengalaman maupun persoalan yang dihadapinya.
Talqis menyarankan orangtua menyampaikan pesan kepada anak secara langsung dan jelas, alih-alih menggunakan sindiran.
"Jangan main sindir-sindiran," tegasnya.
Cara berkomunikasi tersebut tetap perlu disesuaikan dengan karakter anak karena setiap anak memiliki tingkat kepekaan dan cara menerima pesan yang berbeda.
Talqis juga mengingatkan pentingnya keterlibatan ayah dan ibu dalam kehidupan anak.
Kehadiran orangtua tidak hanya diwujudkan dengan memenuhi kebutuhan anak, tetapi juga melalui perhatian, komunikasi, serta keterlibatan dalam kesehariannya.
Terlebih, perkembangan teknologi membuat lingkungan yang dihadapi anak terus berubah. Orangtua perlu memahami perubahan tersebut agar dapat memberikan pendampingan yang sesuai.
"Orangtua memang harus kemudian beberapa langkah lebih maju daripada putra-putrinya," ujar Talqis.
Pada akhirnya, kedekatan dengan anak tidak hanya ditentukan oleh seberapa istimewa kegiatan yang dilakukan bersama.
Waktu yang cukup memungkinkan percakapan muncul secara alami. Dari situlah quantity time dapat melahirkan quality time yang membantu membangun komunikasi dan kepercayaan antara orangtua dan anak.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT