Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Aktivis Muda NU Hendriyanto Attan Raih Gelar Kehormatan dari Keraton Surakarta

Kompas.com, 5 September 2026, 10:51 WIB
Reni Susanti

Editor


SOLO, KOMPAS.com — Aktivis muda Nahdlatul Ulama (NU), Hendriyanto Attan, dianugerahi gelar kehormatan Kanjeng Raden Haryo (KRH) dari Keraton Surakarta Hadiningrat.

Dengan gelar tersebut, Hendriyanto menyandang nama kehormatan Kanjeng Raden Haryo Hendriyanto Attan Dharmawisisesa.

Penganugerahan itu ditetapkan melalui Kakancingan Nomor 313/KS/08/26 yang dikeluarkan Pengageng Parentah Keraton Surakarta Hadiningrat. Dalam dokumen tersebut, Hendriyanto dianugerahi pangkat Riya Nginggil.

Baca juga: Supangat Wafat Usai Bertugas di Muktamar NU, GP Ansor Tanggung Pendidikan Anaknya

Dokumen penetapan ditandatangani Sinoehoen Tedjowulan dan dilengkapi cap resmi Keraton Surakarta Hadiningrat.

Penetapan tertanggal 31 Agustus 2026 atau bertepatan dengan 17 Mulud Tahun Be 1960 dalam penanggalan Jawa.

Gelar kebangsawanan tersebut tidak sekadar menjadi nama kehormatan, tetapi juga mengandung amanah bagi penerimanya untuk menjunjung nilai luhur budaya Jawa serta menjaga martabat dan kehormatan keraton.

Penerima gelar juga diharapkan membawa nilai-nilai tersebut dalam kehidupan bermasyarakat.

Penganugerahan gelar kepada Hendriyanto disebut sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian dan kontribusinya dalam organisasi, dunia profesional, serta kegiatan sosial kemasyarakatan.

Baca juga: Apa Itu Ulama? Ini Definisi yang Dirumuskan Muktamar NU

Aktivis Muda NU Asal Sumenep

Hendriyanto lahir di Sumenep, Madura, Jawa Timur, daerah yang juga memiliki sejarah panjang kerajaan di Nusantara.

Selain Yogyakarta dan Surakarta, Sumenep pernah menjadi salah satu pusat pemerintahan kerajaan di Pulau Jawa dan Madura. Wilayah tersebut pernah dipimpin oleh sejumlah raja yang meninggalkan jejak dalam perkembangan politik dan kebudayaan Madura.

Salah satu tokoh yang dikenal dalam sejarah Sumenep ialah Arya Wiraraja.

Dalam tradisi sejarah setempat, Arya Wiraraja disebut sebagai adipati pertama Sumenep dan dikaitkan dengan tanggal 31 Oktober 1269, yang kemudian dijadikan dasar penetapan hari jadi Kabupaten Sumenep.

Nama Arya Wiraraja juga berkaitan erat dengan perjalanan Raden Wijaya dalam mendirikan Kerajaan Majapahit, termasuk strategi menghadapi pasukan Mongol.

Latar belakang sejarah tersebut menjadi bagian dari identitas budaya Sumenep, daerah tempat Hendriyanto tumbuh sebelum menapaki kiprah di organisasi kemasyarakatan dan dunia profesional.

Di lingkungan NU, Hendriyanto dikenal sebagai aktivis muda dan menjabat Wakil Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) PBNU. Ia juga tercatat sebagai Wakil Bendahara Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI).

Dalam dunia profesional, Hendriyanto disebut pernah menjalankan peran sebagai penasihat di sejumlah badan usaha milik negara (BUMN).

Pengalaman tersebut mempertemukan tiga bidang dalam perjalanan Hendriyanto, yakni organisasi, profesionalisme, dan pengabdian sosial.

Penganugerahan gelar Kanjeng Raden Haryo pun tidak hanya menjadi penghormatan secara personal, tetapi juga membawa tanggung jawab kultural.

Hendriyanto diharapkan dapat menjaga nilai-nilai luhur tradisi keraton sekaligus menerapkannya dalam kehidupan masyarakat modern.

“Bagi saya gelar ini mempertemukan dua latar kebudayaan. Tumbuh di Madura yang memiliki sejarah kerajaan, kemudian memperoleh penghormatan dari Keraton Surakarta sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa,” tutur dia.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Doa Menghadapi Bencana: Gempa, Banjir, hingga Gunung Meletus
Doa Menghadapi Bencana: Gempa, Banjir, hingga Gunung Meletus
Doa Harian
Aktivis Muda NU Hendriyanto Attan Raih Gelar Kehormatan dari Keraton Surakarta
Aktivis Muda NU Hendriyanto Attan Raih Gelar Kehormatan dari Keraton Surakarta
Aktual
Dua Patung Bunda Maria Bernuansa Nusantara yang Memikat Putri Mahkota Swedia
Dua Patung Bunda Maria Bernuansa Nusantara yang Memikat Putri Mahkota Swedia
Aktual
Muhammadiyah Tangani 3.702 Korban Gempa NTT, ISPA Jadi Keluhan Terbanyak
Muhammadiyah Tangani 3.702 Korban Gempa NTT, ISPA Jadi Keluhan Terbanyak
Aktual
Pendidikan 24 Jam ala Pesantren Dinilai Relevan dengan Kebutuhan Zaman, Mengapa?
Pendidikan 24 Jam ala Pesantren Dinilai Relevan dengan Kebutuhan Zaman, Mengapa?
Aktual
Apa Itu Fikih Sosial KH Ali Yafie? Memahami Agama dari Persoalan Masyarakat
Apa Itu Fikih Sosial KH Ali Yafie? Memahami Agama dari Persoalan Masyarakat
Aktual
Menjaga Bumi Bisa Dimulai dari Bangunan, Ini Pentingnya Konsep Bangunan Hijau
Menjaga Bumi Bisa Dimulai dari Bangunan, Ini Pentingnya Konsep Bangunan Hijau
Aktual
Mengenang 100 Tahun KH Ali Yafie dan Warisan Islam Moderat untuk Indonesia
Mengenang 100 Tahun KH Ali Yafie dan Warisan Islam Moderat untuk Indonesia
Aktual
5 Rukun Islam: Pengertian, Urutan, Makna, dan Penerapannya
5 Rukun Islam: Pengertian, Urutan, Makna, dan Penerapannya
Doa dan Niat
Doa Nabi Yunus: Arab, Latin, Arti, Keutamaan, dan Cara Mengamalkannya
Doa Nabi Yunus: Arab, Latin, Arti, Keutamaan, dan Cara Mengamalkannya
Doa dan Niat
Tak Hanya Bantuan Pangan, ZISWAF Didorong Lindungi Kelompok Rentan
Tak Hanya Bantuan Pangan, ZISWAF Didorong Lindungi Kelompok Rentan
Aktual
Menag Ajak Siswa Seminari Doakan Korban Gempa Flores
Menag Ajak Siswa Seminari Doakan Korban Gempa Flores
Aktual
Solidaritas untuk Korban Gempa Flores, 20 Ton Beras hingga Ribuan Selimut Disalurkan
Solidaritas untuk Korban Gempa Flores, 20 Ton Beras hingga Ribuan Selimut Disalurkan
Aktual
Supangat Wafat Usai Bertugas di Muktamar NU, GP Ansor Tanggung Pendidikan Anaknya
Supangat Wafat Usai Bertugas di Muktamar NU, GP Ansor Tanggung Pendidikan Anaknya
Aktual
Lebih dari 75.000 Orang Daftar Petugas Haji 2027, CAT Dibagi 2 Gelombang
Lebih dari 75.000 Orang Daftar Petugas Haji 2027, CAT Dibagi 2 Gelombang
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar