Penulis
KOMPAS.com — Tradisi membaca "Dalailul Khairat" menjadi salah satu bentuk tirakat yang terus dijaga di kalangan masyarakat pesantren. Salah satu ikhtiar untuk merawat tradisi tersebut dilakukan melalui Ijazah Kubro Tirakat Dalailul Khairat yang digelar Imam Jazuli Foundation bersama KH Imam Jazuli.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus menguatkan kembali tradisi wirid dan tirakat Dalailul Khairat, khususnya di lingkungan pesantren dan kalangan Nahdliyin.
Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2014, kegiatan Ijazah Kubro tersebut disebut telah diikuti sekitar 60.000 peserta. Kegiatan yang berlangsung di berbagai kesempatan itu sebelumnya antara lain dilaksanakan di Aston dan Luxton Hotel, Cirebon.
Ijazah Kubro merupakan momentum pemberian izin atau ijazah untuk mengamalkan wirid Dalailul Khairat yang dipimpin oleh KH Imam Jazuli.
Baca juga: Derry Sulaiman dan Willi Salim Hadiri Ijazah Kubro Dalailul Khairat, 3.000 Peserta Membeludak
Dalam tradisi pesantren, ijazah memiliki kedudukan penting dalam proses transmisi amalan dan keilmuan. Pengamal tidak hanya memperoleh bacaan, tetapi juga mendapatkan arahan mengenai niat, tata cara, serta tanggung jawab dalam mengamalkannya.
Dalam kegiatan tersebut, KH Imam Jazuli menekankan bahwa wirid dan tirakat Dalail merupakan bagian dari tradisi yang telah dilakukan para wali dan orang-orang saleh terdahulu.
Karena itu, ia mengingatkan para peserta agar tidak menjadikan tirakat sekadar sarana untuk mengejar keinginan duniawi.
“Membersihkan niat untuk ber-taqorrub (mendekatkan diri kepada Allah) dan menghadirkan cinta kepada-Nya.”
Pesan tersebut menempatkan amalan Dalailul Khairat sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar ritual untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan.
KH Imam Jazuli juga mengingatkan pentingnya memahami dasar keilmuan sebelum menjalankan wirid dan tirakat.
Menurut dia, keinginan untuk mengamalkan sebuah amalan perlu disertai dengan pengetahuan yang memadai. Karena itu, penyelenggara menyiapkan media pembelajaran berupa video yang menjelaskan dasar-dasar keilmuan yang melatarbelakangi praktik wirid dan tirakat Dalail.
Peserta dianjurkan mempelajari dasar-dasarnya terlebih dahulu sebelum mengamalkannya.
Prinsip tersebut menunjukkan bahwa tradisi tirakat dalam lingkungan pesantren tidak dilepaskan dari aspek keilmuan. Amalan keagamaan idealnya dilakukan dengan pemahaman mengenai dasar, tujuan, dan tanggung jawabnya.
Salah satu pesan penting KH Imam Jazuli adalah agar pengamalan Dalailul Khairat tidak membuat seseorang mengabaikan kewajiban yang lebih utama.
Ia mengingatkan peserta untuk terlebih dahulu menyelesaikan perkara yang wajib dan meninggalkan perkara yang haram sebelum memperbanyak amalan sunnah.
“Bereskan apa yang wajib, apa yang haram, lalu jalankan apa yang sunnah supaya mendapatkan cinta dari Allah.”
Ia juga mengingatkan agar aktivitas tirakat tidak menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban dalam kehidupan keluarga.
Pesan tersebut menjadi penting karena keberagamaan tidak hanya diukur dari banyaknya amalan tambahan, tetapi juga dari kemampuan seseorang memenuhi kewajiban yang telah menjadi tanggung jawabnya.
Bagi KH Imam Jazuli, wirid dan tirakat Dalail merupakan bentuk ikhtiar spiritual atau yang ia sebut sebagai “jalur langit”.
Istilah tersebut menggambarkan usaha manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui doa, zikir, wirid, dan ibadah.
Namun, pesan yang disampaikan dalam Ijazah Kubro menekankan bahwa orientasi utama tirakat bukan sekadar memperoleh hasil tertentu.
Dasarnya adalah taqarrub, yakni mendekatkan diri kepada Allah dan menghadirkan kecintaan kepada-Nya.
Dengan orientasi tersebut, tirakat tidak diposisikan sebagai jalan pintas untuk memperoleh keinginan, tetapi sebagai proses membangun kedekatan spiritual dan memperbaiki kualitas diri.
Tradisi Ijazah Kubro Dalailul Khairat juga mendapat perhatian dari kalangan tokoh nasional.
Menteri Sosial Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul turut hadir dalam salah satu pelaksanaan Ijazah Kubro. Kehadirannya sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap KH Imam Jazuli yang selama ini aktif menyebarkan tradisi Dalailul Khairat.
Gus Ipul menilai keberkahan, ilmu, dan kesempatan melakukan muhasabah menjadi hal penting yang dapat dicari melalui kegiatan keagamaan.
“Yang kita cari adalah keberkahan karena ketika kita mendapatkan limpahan kebaikan itu, kita akan tenang dan ringan untuk berbuat baik.”
Menurut Gus Ipul, kegiatan keagamaan juga dapat menjadi ruang untuk memperoleh ilmu sekaligus melakukan refleksi terhadap diri sendiri.
Kegiatan Ijazah Kubro juga diisi dengan suasana yang lebih cair melalui kehadiran sejumlah tokoh publik.
Ustaz Derry Sulaiman turut hadir dan membawakan dua lagu religi untuk menghibur peserta.
Ia menyebut kehadirannya dalam kegiatan Ijazah Kubro bersama KH Imam Jazuli bukan kali pertama. Menurutnya, kegiatan tersebut telah ia ikuti beberapa kali.
Sementara itu, menjelang prosesi ijazah, KH Imam Jazuli meminta Willy Salim atau Gus Willy untuk tampil ke depan.
Willy Salim menyampaikan rasa terima kasih karena mendapat kesempatan untuk menimba ilmu dalam kegiatan tersebut.
Ia juga mengajak peserta untuk senantiasa memiliki sikap rendah hati dalam mencari ilmu.
“Watak ilmu seperti watak air; ia selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah.”
Ungkapan tersebut menjadi pengingat bahwa semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang, semakin penting pula menjaga kerendahan hati.
Keberadaan Ijazah Kubro Dalailul Khairat menjadi bagian dari dinamika tradisi keagamaan di lingkungan pesantren.
Di tengah perubahan zaman, tradisi wirid dan tirakat tetap memiliki ruang bagi masyarakat yang ingin memperkuat kehidupan spiritualnya.
Namun, pesan KH Imam Jazuli dalam kegiatan tersebut juga memberikan penekanan penting: tirakat harus berjalan bersama ilmu, niat yang benar, pemenuhan kewajiban, dan upaya menjauhi perkara yang haram.
Baca juga: Bacaan Wirid Harian Setelah Sholat Fardhu: Arab, Latin dan Artinya
Dengan demikian, Dalailul Khairat tidak sekadar dipahami sebagai rangkaian bacaan atau wirid, tetapi menjadi bagian dari proses pembentukan sikap spiritual.
Tradisi yang telah diikuti puluhan ribu orang tersebut pada akhirnya membawa satu pesan sederhana: mendekat kepada Allah tidak cukup hanya dengan memperbanyak amalan sunnah, tetapi juga harus dimulai dengan meluruskan niat, memahami ilmu, menjalankan kewajiban, dan menjaga akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT