Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ahmad Muzani: Pendidikan Bukan Hanya Mengasah Kecerdasan, tetapi Juga Akhlak

Kompas.com, 9 September 2026, 17:15 WIB
Reni Susanti

Editor


JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Muzani mengatakan, pendidikan tidak cukup hanya mengembangkan kecerdasan intelektual, tetapi juga harus memperkuat akhlak dan karakter kebangsaan.

Menurut Muzani, amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan investasi peradaban jangka panjang yang menentukan masa depan Indonesia.

Pendidikan adalah jalan untuk memastikan bahwa kemerdekaan yang diwariskan para pendiri bangsa dapat terus dirawat dan diteruskan kepada generasi berikutnya,” kata Muzani saat membuka Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, belum lama ini.

“Mencerdaskan kehidupan bangsa memiliki makna yang sangat mendalam, yaitu menghadirkan pendidikan holistik. Pendidikan yang tidak hanya mengasah kecerdasan intelektual, tetapi juga mengukuhkan akhlak dan karakter kebangsaan,” tambah dia. 

Baca juga: JK Sebut Pendidikan Islam Harus Adaptif, Jangan Menjadi Museum Masa Lalu

Dalam rilisnya, GIHES 2026 diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor

Muzani menilai forum tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat dan memperkenalkan pendidikan Islam holistik berbasis pesantren kepada masyarakat internasional.

Belajar dari Pendidikan Pesantren

Dalam rilisnya, Muzani menyoroti perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor yang selama satu abad mengembangkan pendidikan dengan memadukan ilmu agama, pengetahuan umum, kemampuan berbahasa asing, dan kemandirian.

Menurut dia, pengalaman pendidikan pesantren di Indonesia dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan model pendidikan yang membentuk manusia secara utuh.

Memasuki abad kedua, Gontor menghadapi tantangan untuk terus mengembangkan sistem pendidikannya agar relevan dengan perubahan masyarakat serta dapat dikenal lebih luas di tingkat global.

“Dari Gontor untuk Indonesia, dari Indonesia untuk dunia, dan dari santri untuk kemanusiaan,” ujar Muzani.

“Mari kita jadikan momentum 100 tahun ini sebagai titik balik kebangkitan peradaban Indonesia melalui pendidikan yang berkarakter dan berakhlak mulia,” sambungnya.

Baca juga: Di Tengah Pesatnya AI, Dunia Diingatkan untuk Tetap Menjaga Nilai Kemanusiaan

Akhlak di Tengah Perkembangan AI

Muzani juga menyinggung perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin cepat.

Kemajuan teknologi, menurut dia, harus diimbangi dengan kedalaman akhlak dan moralitas. Tanpa landasan tersebut, penguasaan teknologi belum tentu membawa manfaat bagi kehidupan manusia.

Karena itu, lembaga pendidikan Islam perlu merespons perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi fondasi pendidikan pesantren.

Konsolidasi antarlembaga pendidikan juga dibutuhkan agar pengembangan kurikulum, metode pembelajaran, karakter, dan pemanfaatan teknologi tidak dilakukan secara terpisah.

Mempertemukan Gagasan Pendidikan Islam

Ketua Panitia GIHES 2026 KH Anang Rikza Masyhadi mengatakan, konferensi tersebut dirancang sebagai ruang untuk mempertemukan gagasan, pengalaman, dan jejaring lembaga pendidikan Islam.

“Hari ini kita tidak sekadar berkumpul untuk menyelenggarakan sebuah konferensi. Kita sedang mempertemukan gagasan, pengalaman, jejaring, dan harapan untuk bersama-sama memikirkan masa depan pendidikan Islam yang lebih holistik, unggul, adaptif, dan berwawasan global,” kata Anang.

Menurut Anang, pendidikan Islam holistik telah menjadi perhatian berbagai unsur dalam ekosistem pendidikan, mulai pesantren, sekolah, perguruan tinggi, hingga organisasi kemasyarakatan Islam.

GIHES 2026 diikuti 283 peserta dari berbagai lembaga di Indonesia. Peserta antara lain berasal dari pesantren, sekolah dan madrasah, perguruan tinggi, serta organisasi Islam.

Delegasi dari Malaysia, Brunei Darussalam, Arab Saudi, Mesir, Amerika Serikat, China, dan Turkiye juga menghadiri forum tersebut.

Para peserta membahas enam isu utama pendidikan holistik serta peluang kolaborasi dalam mengembangkan model pendidikan yang adaptif terhadap perubahan zaman.

Melalui pertemuan tersebut, pengalaman pendidikan Islam berbasis pesantren di Indonesia diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dalam percakapan global mengenai masa depan pendidikan, pembentukan karakter, dan pengembangan kemanusiaan.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Ketua PP Muhammadiyah: Jadi Apa Saja, Kenali Islam Jadi Lebih Baik
Ketua PP Muhammadiyah: Jadi Apa Saja, Kenali Islam Jadi Lebih Baik
Aktual
BPKH Dorong Skema Angsuran Pelunasan Biaya Haji untuk Cegah Calon Jamaah Berhutang
BPKH Dorong Skema Angsuran Pelunasan Biaya Haji untuk Cegah Calon Jamaah Berhutang
Aktual
MTQ Nasional XXXI di Semarang Siap Digelar pada 11 hingga 20 September 2026
MTQ Nasional XXXI di Semarang Siap Digelar pada 11 hingga 20 September 2026
Aktual
Niat Sholat Qobliyah Subuh 2 Rakaat: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya
Niat Sholat Qobliyah Subuh 2 Rakaat: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya
Doa dan Niat
Mendengar Azan, Jangan Sekadar Diam: Ini Amalan yang Dianjurkan
Mendengar Azan, Jangan Sekadar Diam: Ini Amalan yang Dianjurkan
Aktual
Ahmad Muzani: Pendidikan Bukan Hanya Mengasah Kecerdasan, tetapi Juga Akhlak
Ahmad Muzani: Pendidikan Bukan Hanya Mengasah Kecerdasan, tetapi Juga Akhlak
Aktual
Dzikir Pagi Lengkap: Arab, Latin, Arti, Urutan, dan Waktu Membacanya
Dzikir Pagi Lengkap: Arab, Latin, Arti, Urutan, dan Waktu Membacanya
Doa Harian
Doa Selamat Dunia Akhirat Lengkap: Arab, Latin, Arti, dan Waktu Membacanya
Doa Selamat Dunia Akhirat Lengkap: Arab, Latin, Arti, dan Waktu Membacanya
Doa Harian
Niat Sholat Qobliyah Subuh 2 Rakaat Lengkap dengan Tata Cara dan Keutamaannya
Niat Sholat Qobliyah Subuh 2 Rakaat Lengkap dengan Tata Cara dan Keutamaannya
Doa Harian
Masjid di Klaten Jadi Dapur MBG, Bagaimana Hukumnya Menurut Fikih?
Masjid di Klaten Jadi Dapur MBG, Bagaimana Hukumnya Menurut Fikih?
Aktual
Doa Dijauhkan dari Marabahaya, Amalan Memohon Perlindungan kepada Allah
Doa Dijauhkan dari Marabahaya, Amalan Memohon Perlindungan kepada Allah
Doa dan Niat
Doa Mencari Orang Hilang bagi Jurnalis yang Hilang Kontak di Selat Sunda
Doa Mencari Orang Hilang bagi Jurnalis yang Hilang Kontak di Selat Sunda
Doa dan Niat
MUI Ajak Tobat Ekologi untuk Menghentikan Kerusakan Lingkungan
MUI Ajak Tobat Ekologi untuk Menghentikan Kerusakan Lingkungan
Aktual
Gus Kikin: Saya Akan Banyak di Jakarta, tetapi Tidak Melupakan Jawa Timur
Gus Kikin: Saya Akan Banyak di Jakarta, tetapi Tidak Melupakan Jawa Timur
Aktual
JK Sebut Pendidikan Islam Harus Adaptif, Jangan Menjadi Museum Masa Lalu
JK Sebut Pendidikan Islam Harus Adaptif, Jangan Menjadi Museum Masa Lalu
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar