Editor
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Muhammad Ariffudin mengingatkan umat Islam agar tidak menjalankan ibadah tanpa ilmu.
Menurut Ariffudin, ilmu dan amal harus berjalan beriringan agar setiap tindakan memiliki dasar yang benar sekaligus mendatangkan manfaat.
“Orang-orang yang beramal berdasarkan ilmu adalah orang-orang yang beruntung,” kata Ariffudin dikutip dari laman Muhammadiyah, Jumat (11/9/2026).
Baca juga: Khutbah Jumat: 4 Penyebab Kehancuran Negeri Menurut Al-Quran dan Hadis
Mengawali khutbahnya, Ariffudin menjelaskan pelajaran yang dirumuskan para ulama dari Surah Al-Fatihah mengenai tiga kelompok manusia dalam menjalankan agama.
Kelompok pertama ialah orang yang beribadah dan beramal berdasarkan ilmu. Kelompok kedua beramal tanpa ilmu, sedangkan kelompok ketiga memiliki ilmu tetapi tidak mengamalkannya.
Beramal berdasarkan ilmu, lanjut Ariffudin, berarti memastikan setiap ibadah mempunyai landasan yang benar dan sesuai dengan Al-Qur’an serta sunah Nabi Muhammad SAW.
“Kalau suatu amalan dibangun di atas ilmu, maksudnya sesuai dengan Al-Qur’an dan sunah an-nabawiyah,” jelasnya.
Sebaliknya, amal yang dilakukan tanpa pengetahuan dapat membawa seseorang pada kesalahan, meskipun aktivitas tersebut tampak sebagai bentuk ibadah.
Adapun kelompok ketiga ialah orang yang telah memiliki pengetahuan, tetapi tidak menerapkannya dalam kehidupan.
Ariffudin mengaitkan ketiga kelompok tersebut dengan bagian akhir Surah Al-Fatihah. Dalam ayat itu, umat Islam memohon kepada Allah SWT agar diberi jalan yang lurus dan tidak termasuk golongan yang dimurkai ataupun tersesat.
“Yang ingin kita capai adalah model pertama, yaitu orang yang beribadah kepada Allah SWT dan beramal berdasarkan ilmu,” katanya.
Menurut Ariffudin, prinsip beramal berdasarkan ilmu tidak hanya berlaku dalam persoalan ibadah. Prinsip tersebut juga harus diterapkan dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.
Setiap profesi menuntut seseorang mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang benar, sesuai kompetensi, serta dapat dipertanggungjawabkan.
Ia mencontohkan seorang dokter bedah yang harus menentukan tindakan operasi. Keputusan medis harus didasarkan pada ilmu kedokteran yang memadai serta dijalankan secara profesional dan amanah.
“Kalau dia memutuskan suatu operasi ala ilmin, berdasarkan ilmu yang benar dan amanah, insya Allah apa yang dilakukan sesuai dengan yang kita inginkan, yaitu berdasarkan ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Dalam dunia ilmiah, pendekatan itu dikenal sebagai evidence-based, yaitu keputusan yang dilandasi bukti ilmiah.
Sebaliknya, Ariffudin mengingatkan bahaya apabila seorang profesional membuat keputusan bukan berdasarkan ilmu dan kompetensinya, melainkan karena kepentingan tertentu.
“Kalau seorang dokter memberikan keputusan yang bukan didasarkan pada ilmu medis, tetapi kepentingan lain, wallahu a’lam. Kita berlindung kepada Allah dari hal seperti ini,” tuturnya.
Prinsip serupa perlu diterapkan dalam setiap pekerjaan dan karya. Pengetahuan yang benar harus menjadi dasar tindakan, sedangkan amanah menjadi landasan dalam menjalankannya.
Ariffudin kemudian menghubungkan pesan tersebut dengan doa yang dibaca umat Islam setiap hari dalam Surah Al-Fatihah, terutama permohonan untuk ditunjukkan jalan yang lurus.
Menurut dia, sirathal mustaqim merupakan jalan yang telah ditempuh orang-orang yang memperoleh nikmat dari Allah, sebagaimana disebutkan dalam penggalan ayat alladzina an’amta ‘alaihim.
“Jalan yang disebut sirathal mustaqim adalah jalan yang sudah ditempuh. Siapa yang menempuhnya? Alladzina an’amta ‘alaihim, yaitu orang-orang yang telah Allah beri nikmat,” jelasnya.
Karena itu, ia mengajak jamaah menjadikan kelompok tersebut sebagai orientasi kehidupan, yakni menjadi orang yang beribadah kepada Allah dan beramal berdasarkan ilmu.
Pada khutbah kedua, Ariffudin mengingatkan bahwa seluruh aktivitas manusia berada dalam pengetahuan dan pengawasan Allah SWT. Apa yang tersembunyi di dalam hati ataupun terlihat melalui perbuatan tidak lepas dari pertanggungjawaban.
Ia juga mengutip ayat Al-Qur’an yang menerangkan bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati manusia akan dimintai pertanggungjawaban.
“Semua penglihatan, pengetahuan, dan pendengaran kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT,” katanya.
Oleh karena itu, setiap Muslim perlu terus mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memperluas pengetahuan yang menjadi dasar dalam beribadah, bekerja, dan mengambil keputusan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.