Editor
SEMARANG, KOMPAS.com — Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang memberikan beasiswa bebas biaya kuliah hingga lulus kepada para penghafal Al-Quran.
Saat ini, sebanyak 1.300 hafiz dan hafizah dari berbagai daerah di Indonesia tercatat menempuh pendidikan di Unissula melalui program tersebut.
Wakil Rektor I Unissula Mochamad Abdul Basir mengatakan, kehadiran para penghafal Al-Qur’an menjadi nilai lebih bagi kampus, terutama dalam upaya membentuk generasi berkarakter Islami.
“Melalui program beasiswa kuliah gratis kepada para penghafal Al-Qur’an, Unissula memperoleh nilai lebih, terutama dalam upaya mendapatkan dukungan mewujudkan generasi berkarakter Islami,” kata Abdul Basir dikutip dari NU Online, Senin (14/9/2026).
Kegiatan tersebut diselenggarakan Pimpinan Wilayah Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (PW JQHNU) Jawa Tengah.
Menurut Abdul Basir, mahasiswa penghafal Al-Qur’an juga dapat memperkuat ikhtiar Unissula dalam membangun peradaban Islami.
Karena itu, Unissula mendorong penguatan kerja sama dengan JQHNU Jawa Tengah, khususnya untuk menjaring calon mahasiswa dari kalangan penghafal Al-Qur’an.
“Selain itu, hadirnya mahasiswa yang memiliki kemampuan menghafal Al-Qur’an juga akan memperkuat kampus dalam upaya membangun peradaban Islami,” ujarnya.
Abdul Basir juga menyampaikan terima kasih kepada JQHNU yang memilih Unissula sebagai tempat berkumpulnya ribuan ahlul Quran.
Baca juga: Pecahkan Rekor Nasional, Bina Insan Mulia Wisuda 467 Penghafal Al Quran 30 Juz dalam 4 Bulan
Sekitar 5.000 ahlul Qur’an hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka bersama-sama berdoa agar pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI di Semarang berjalan lancar.
Ketua PW JQHNU Jawa Tengah Prof KH Ali Imron Al Hafidz mengapresiasi kebijakan Unissula yang memberikan beasiswa bebas biaya kuliah hingga lulus kepada para penghafal Al-Qur’an.
Menurut dia, program tersebut membuka kesempatan bagi para hafiz dan hafizah untuk mengembangkan kemampuan akademik sekaligus menjaga nilai-nilai Al-Qur’an selama menempuh pendidikan tinggi.
“Kami optimistis para penghafal Al-Qur’an saat menjalani studi di bangku kuliah akan menjadi mahasiswa yang baik. Akhlak dan adab Qur’ani akan terjaga dengan baik, meski kuliahnya tidak di jurusan atau program studi agama Islam,” kata Ali Imron.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.