KOMPAS.com - Hadis menjadi salah satu konten keagamaan yang paling sering dibagikan di media sosial.
Namun, tidak semua hadis yang viral benar-benar sahih, memiliki sumber yang jelas, atau ditampilkan dengan redaksi yang utuh.
Karena itu, seorang Muslim dianjurkan melakukan tabayun sebelum mempercayai maupun menyebarkan hadis yang beredar di ruang digital.
Al-Quran dan sunnah mengajarkan agar setiap informasi diperiksa kebenarannya.
Prinsip tersebut juga berlaku ketika menerima kutipan hadis dalam bentuk gambar, video pendek, maupun unggahan media sosial. Berikut cara mengecek hadis viral sesuai ajaran Islam.
Baca juga: Ulama Pewaris Nabi, Apa Makna Hadis Waratsatul Anbiya?
Langkah pertama adalah tidak langsung membagikan hadis yang diterima. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Yā ayyuhalladzīna āmanū in jā’akum fāsiqun binaba’in fatabayyanū an tuṣībū qauman bijahālatin fatuṣbiḥū ‘alā mā fa‘altum nādimīn.
Artinya:“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu.” (QS Al-Hujurat: 6)
Ayat ini menjadi dasar tabayun, yaitu memverifikasi setiap informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Dalam konteks media sosial, tabayun berarti tidak mudah percaya hanya karena sebuah hadis telah dibagikan ribuan kali.
Baca juga: Hukum Menyebarkan Potongan Ceramah yang Belum Jelas Kebenarannya
Hadis yang valid umumnya mencantumkan nama kitab beserta nomor hadis, misalnya Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Jami’ at-Tirmidzi, atau Sunan Abu Dawud.
Jika sebuah unggahan hanya menulis “HR Muslim” tanpa nomor atau bahkan tanpa menyebut kitab sama sekali, pembaca perlu berhati-hati.
Cara paling sederhana adalah mencari lafaz Arab atau potongan terjemahan melalui basis data hadis seperti Sunnah.com.
Dengan demikian, pembaca dapat memastikan apakah redaksi yang beredar sesuai dengan hadis aslinya atau telah mengalami perubahan.
Kesalahan yang sering terjadi di media sosial ialah terjemahan yang dilebihkan, dipotong, atau diberi makna yang tidak sesuai dengan redaksi asli.
Karena itu, jangan hanya membaca terjemahannya, tetapi cocokkan pula lafaz Arab dan transliterasinya.
Baca juga: Sudah Menikmati Banyak Hal tetapi Belum Bahagia, Mengapa?
Apabila terdapat perbedaan yang mencolok antara unggahan viral dengan teks hadis dalam kitab induk, maka hadis tersebut sebaiknya tidak disebarkan sebelum memperoleh penjelasan dari ulama atau sumber yang kredibel.
Rasulullah SAW memberikan peringatan yang sangat keras terhadap orang yang menyampaikan kebohongan atas nama beliau.
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
Man kadzaba ‘alayya muta‘ammidan falyatabawwa’ maq‘adahu minan nār.
Artinya: “Barang siapa sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.” (Sahih al-Bukhari No. 1291; Sahih Muslim No. 3)
Hadis ini menjadi alasan mengapa para ulama sangat berhati-hati dalam meriwayatkan sabda Nabi. Menyebarkan hadis palsu atau keliru, meskipun tanpa niat buruk, dapat menimbulkan kesalahpahaman terhadap ajaran Islam.
Baca juga: Cara Mengajarkan Anak Shalat Tanpa Membuatnya Tertekan
Selain larangan berdusta atas nama Nabi, Rasulullah SAW juga mengingatkan agar seorang Muslim tidak menjadi penyampai semua informasi yang diterimanya.
كَفَىٰ بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
Kafā bil-mar’i kadhiban an yuḥadditsa bikulli mā sami‘a.
Artinya: “Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap yang didengarnya.” (Sahih Muslim, Muqaddimah No. 5)
Hadis ini sangat relevan dengan budaya forward dan share di media sosial. Tidak semua informasi yang diterima layak diteruskan, termasuk hadis yang belum jelas statusnya.
Banyak hadis viral beredar dalam bentuk satu kalimat pendek tanpa penjelasan mengenai sebab munculnya hadis atau konteks pembahasannya.
Padahal, memahami hadis sering kali memerlukan penjelasan para ulama agar tidak disalahartikan.
Misalnya, hadis tentang kepemimpinan, jihad, atau hukuman tertentu dapat dipahami secara keliru apabila dilepaskan dari konteks aslinya.
Karena itu, membaca hadis secara utuh jauh lebih aman daripada mengandalkan potongan gambar atau video singkat.
Baca juga: Keutamaan Istighfar dan Waktu Terbaik Mengamalkannya
Apabila menemukan hadis viral, biasakan mengecek melalui kitab hadis sahih atau situs yang memuat teks asli hadis.
Setelah itu, barulah membaca penjelasan ulama dari lembaga kredibel seperti Kementerian Agama, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, atau kitab-kitab syarah hadis yang diakui.
Langkah sederhana ini dapat mencegah penyebaran hadis palsu sekaligus menjaga kehormatan sabda Rasulullah SAW.
Sebab, menyampaikan ilmu agama bukan hanya soal niat baik, tetapi juga tentang amanah untuk memastikan bahwa apa yang disampaikan benar-benar bersumber dari Nabi Muhammad SAW.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.