Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Mengecek Hadis Viral di Media Sosial

Kompas.com, 14 September 2026, 14:27 WIB
Puji Sri Rahayu,
Reni Susanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hadis menjadi salah satu konten keagamaan yang paling sering dibagikan di media sosial.

Namun, tidak semua hadis yang viral benar-benar sahih, memiliki sumber yang jelas, atau ditampilkan dengan redaksi yang utuh.

Karena itu, seorang Muslim dianjurkan melakukan tabayun sebelum mempercayai maupun menyebarkan hadis yang beredar di ruang digital.

Al-Quran dan sunnah mengajarkan agar setiap informasi diperiksa kebenarannya.

Prinsip tersebut juga berlaku ketika menerima kutipan hadis dalam bentuk gambar, video pendek, maupun unggahan media sosial. Berikut cara mengecek hadis viral sesuai ajaran Islam.

Baca juga: Ulama Pewaris Nabi, Apa Makna Hadis Waratsatul Anbiya?

Dahulukan Prinsip Tabayun

Langkah pertama adalah tidak langsung membagikan hadis yang diterima. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Yā ayyuhalladzīna āmanū in jā’akum fāsiqun binaba’in fatabayyanū an tuṣībū qauman bijahālatin fatuṣbiḥū ‘alā mā fa‘altum nādimīn.

Artinya:“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu.” (QS Al-Hujurat: 6)

Ayat ini menjadi dasar tabayun, yaitu memverifikasi setiap informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Dalam konteks media sosial, tabayun berarti tidak mudah percaya hanya karena sebuah hadis telah dibagikan ribuan kali.

Baca juga: Hukum Menyebarkan Potongan Ceramah yang Belum Jelas Kebenarannya

Pastikan Ada Sumber Kitab dan Nomor Hadis

Hadis yang valid umumnya mencantumkan nama kitab beserta nomor hadis, misalnya Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Jami’ at-Tirmidzi, atau Sunan Abu Dawud.

Jika sebuah unggahan hanya menulis “HR Muslim” tanpa nomor atau bahkan tanpa menyebut kitab sama sekali, pembaca perlu berhati-hati.

Cara paling sederhana adalah mencari lafaz Arab atau potongan terjemahan melalui basis data hadis seperti Sunnah.com.

Dengan demikian, pembaca dapat memastikan apakah redaksi yang beredar sesuai dengan hadis aslinya atau telah mengalami perubahan.

Cocokkan Redaksi Arab dan Terjemahannya

Kesalahan yang sering terjadi di media sosial ialah terjemahan yang dilebihkan, dipotong, atau diberi makna yang tidak sesuai dengan redaksi asli.

Karena itu, jangan hanya membaca terjemahannya, tetapi cocokkan pula lafaz Arab dan transliterasinya.

Baca juga: Sudah Menikmati Banyak Hal tetapi Belum Bahagia, Mengapa?

Apabila terdapat perbedaan yang mencolok antara unggahan viral dengan teks hadis dalam kitab induk, maka hadis tersebut sebaiknya tidak disebarkan sebelum memperoleh penjelasan dari ulama atau sumber yang kredibel.

Jangan Menyandarkan Kebohongan kepada Nabi

Rasulullah SAW memberikan peringatan yang sangat keras terhadap orang yang menyampaikan kebohongan atas nama beliau.

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Man kadzaba ‘alayya muta‘ammidan falyatabawwa’ maq‘adahu minan nār.

Artinya: “Barang siapa sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.” (Sahih al-Bukhari No. 1291; Sahih Muslim No. 3)

Hadis ini menjadi alasan mengapa para ulama sangat berhati-hati dalam meriwayatkan sabda Nabi. Menyebarkan hadis palsu atau keliru, meskipun tanpa niat buruk, dapat menimbulkan kesalahpahaman terhadap ajaran Islam.

Baca juga: Cara Mengajarkan Anak Shalat Tanpa Membuatnya Tertekan

Hindari Meneruskan Semua yang Didengar

Selain larangan berdusta atas nama Nabi, Rasulullah SAW juga mengingatkan agar seorang Muslim tidak menjadi penyampai semua informasi yang diterimanya.

كَفَىٰ بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Kafā bil-mar’i kadhiban an yuḥadditsa bikulli mā sami‘a.

Artinya: “Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap yang didengarnya.” (Sahih Muslim, Muqaddimah No. 5)

Hadis ini sangat relevan dengan budaya forward dan share di media sosial. Tidak semua informasi yang diterima layak diteruskan, termasuk hadis yang belum jelas statusnya.

Periksa Konteks, Bukan Hanya Potongan Kalimat

Banyak hadis viral beredar dalam bentuk satu kalimat pendek tanpa penjelasan mengenai sebab munculnya hadis atau konteks pembahasannya.

Padahal, memahami hadis sering kali memerlukan penjelasan para ulama agar tidak disalahartikan.

Misalnya, hadis tentang kepemimpinan, jihad, atau hukuman tertentu dapat dipahami secara keliru apabila dilepaskan dari konteks aslinya.

Karena itu, membaca hadis secara utuh jauh lebih aman daripada mengandalkan potongan gambar atau video singkat.

Baca juga: Keutamaan Istighfar dan Waktu Terbaik Mengamalkannya

Utamakan Sumber Primer yang Kredibel

Apabila menemukan hadis viral, biasakan mengecek melalui kitab hadis sahih atau situs yang memuat teks asli hadis.

Setelah itu, barulah membaca penjelasan ulama dari lembaga kredibel seperti Kementerian Agama, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, atau kitab-kitab syarah hadis yang diakui.

Langkah sederhana ini dapat mencegah penyebaran hadis palsu sekaligus menjaga kehormatan sabda Rasulullah SAW.

Sebab, menyampaikan ilmu agama bukan hanya soal niat baik, tetapi juga tentang amanah untuk memastikan bahwa apa yang disampaikan benar-benar bersumber dari Nabi Muhammad SAW.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar