Editor
PONOROGO, KOMPAS.com — Puluhan ribu alumni dari berbagai daerah dan luar negeri bersiap menghadiri peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) di Ponorogo, Jawa Timur.
Sebagian alumni menempuh perjalanan darat dengan cara yang tidak biasa. Ada yang melakukan tur menggunakan motor besar, bahkan mengayuh sepeda untuk kembali ke pesantren tempat mereka pernah menimba ilmu.
“Pondok itu bukan sekadar bangunan fisiknya, melainkan kontribusi, jiwa, dan kiprah para alumninya,” kata Ketua Panitia Reuni Akbar 100 Tahun PMDG Ahmad Suharto dalam rilisnya, Senin (14/9/2026).
Baca juga: Kaligrafer Dunia Berkumpul di Gontor, Menulis Peradaban Lewat Seni Islam
Menurut Ahmad, perjalanan para alumni untuk “pulang ke pangkuan ibu” menunjukkan kuatnya ikatan batin dan persaudaraan yang telah tumbuh sejak mereka menjalani pendidikan di pesantren.
“Gelombang kedatangan alumni yang menempuh jalur darat dengan motor maupun sepeda ini merupakan wujud kecintaan mereka untuk kembali meresapi nilai-nilai pendidikan Islam dan menyatukan langkah menatap abad kedua Gontor,” ujarnya.
Salah satu perjalanan lintas daerah dilakukan rombongan alumni pengguna motor besar yang dipimpin Zakiyanto Arief, alumnus Gontor 1999.
Rombongan tersebut beranggotakan alumni lintas generasi, mulai dari angkatan 1990-an hingga 2000-an.
“Boleh berbeda rem, berbeda motor, tetapi satu tujuan menuju satu pangkuan ibu, yaitu Gontor,” ungkap Zakiyanto.
Perjalanan menuju Gontor juga dilakukan sejumlah alumni yang berangkat dari titik kumpul regional Jawa Barat. Mereka memulai perjalanan dari Cikampek menuju Ponorogo.
“Kami berangkat dari Cikampek menuju Gontor bersama belasan alumni yang berasal dari berbagai daerah. Semua menuju Gontor untuk merekatkan kembali ikatan silaturahmi antaralumni,” tuturnya.
Baca juga: Puncak 100 Tahun Gontor, Prabowo Dijadwalkan Hadir
Ahmad mengatakan, para alumni Gontor kini memiliki beragam latar belakang dan bidang pengabdian.
Mereka terhimpun dalam 136 cabang Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) di dalam dan luar negeri. Alumni Gontor juga disebut mengelola lebih dari 1.500 pesantren.
Menurut Ahmad, jaringan tersebut menjadi aset penting dalam melanjutkan pengabdian Gontor di bidang pendidikan dan pembangunan peradaban.
Peringatan 100 Tahun Gontor mengangkat tema “100 Tahun Merintis Pendidikan Holistik, Menginspirasi Dunia, dan Membangun Peradaban”.
Rangkaian puncak peringatan akan dimulai dengan khataman Al-Qur’an dan sujud syukur pada Jumat (18/9/2026).
Acara dilanjutkan dengan resepsi kesyukuran yang dijadwalkan dihadiri Presiden Republik Indonesia pada Sabtu (19/9/2026).
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan reuni akbar lintas generasi pada Minggu (20/9/2026).
Momentum satu abad ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang nostalgia bagi para alumni, tetapi juga kesempatan untuk menyegarkan kembali nilai-nilai pendidikan Gontor dan menyatukan langkah memasuki abad kedua.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.