KOMPAS.com - Membantu orang lain sering kali dianggap sebagai bentuk kebaikan sosial semata.
Namun dalam Islam, memudahkan urusan sesama memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi karena termasuk amalan yang dapat mengantarkan seorang hamba kepada ridha Allah SWT.
Rasulullah SAW mengajarkan, setiap pertolongan yang diberikan kepada orang lain akan dibalas dengan pertolongan Allah.
Karena itu, seorang Muslim tidak hanya dianjurkan beribadah secara pribadi, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi lingkungan melalui sikap tolong-menolong, empati, dan kepedulian.
Baca juga: 3 Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani, Mengharap Ridha Allah Jadi yang Utama
Prinsip memudahkan urusan orang lain berakar dari perintah Al-Qur'an agar sesama Muslim saling bekerja sama dalam kebajikan dan ketakwaan.
Allah berfirman dalam QS Al-Ma'idah Ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Wa ta‘āwanū ‘alal-birri wat-taqwā wa lā ta‘āwanū ‘alal-iṡmi wal-‘udwān, wattaqullāh, innallāha syadīdul-‘iqāb.
Baca juga: Gontor Sambut Satu Abad dengan Khataman Al-Quran, Ribuan Alumni Hadir
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.”
Ayat ini menegaskan bahwa membantu orang lain bukan sekadar tindakan baik, melainkan bagian dari ketaatan kepada Allah selama dilakukan dalam perkara yang benar dan membawa manfaat.
Salah satu hadis paling masyhur tentang kepedulian sosial diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW menjelaskan hubungan langsung antara pertolongan kepada manusia dan pertolongan Allah.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Wallāhu fī ‘aunil-‘abdi mā kānal-‘abdu fī ‘auni akhīh.
Artinya: “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR Sahih Muslim No. 2699)
Baca juga: Tren Baju Lebaran 2027: Hijau Botol Cocok dengan 13 Warna Hijab Ini
Hadis ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah tidak hanya dicari melalui doa, tetapi juga melalui kepedulian kepada sesama. Semakin besar manfaat yang diberikan kepada orang lain, semakin besar harapan memperoleh pertolongan-Nya.
Dalam hadis yang sama, Rasulullah SAW juga menjelaskan balasan bagi orang yang meringankan beban saudaranya.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Man naffasa ‘an mu’minin kurbatan min kurabid-dunyā naffasallāhu ‘anhu kurbatan min kurabi yaumil-qiyāmah.
Baca juga: Kemenhaj Blokir JGroup dan Annisa Ahmada dari Siskopatuh
Artinya: “Barang siapa menghilangkan satu kesulitan seorang mukmin di dunia, Allah akan menghilangkan satu kesulitannya pada hari kiamat.” (HR Sahih Muslim No. 2699).
Makna memudahkan urusan tidak selalu berupa bantuan materi. Memberikan informasi yang benar, membantu pekerjaan, menemani orang yang sedang berduka, hingga mempermudah urusan administrasi tanpa mempersulit juga termasuk bentuk pertolongan yang bernilai ibadah.
Islam mendorong umatnya menjadi pribadi yang membawa kemudahan, bukan menambah kesulitan. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai hal sederhana.
Seorang guru yang sabar membimbing murid, tetangga yang membantu saat ada musibah, rekan kerja yang mempermudah pekerjaan tim, atau seseorang yang menunda penagihan kepada orang yang benar-benar kesulitan merupakan contoh nyata mengamalkan nilai ini.
Baca juga: Khutbah Jumat: Amalan yang Dapat Dikerjakan pada Bulan Rabiul Akhir
Rasulullah SAW juga mengajarkan agar umatnya tidak mempersulit orang lain dalam berdakwah maupun bermuamalah.
Prinsip kemudahan menjadi salah satu ciri ajaran Islam yang penuh kasih sayang.
Memudahkan urusan orang lain juga berkaitan dengan ketakwaan. Allah menjanjikan bahwa orang yang bertakwa akan diberi jalan keluar dan kemudahan dalam urusannya.
QS At-Talaq Ayat 4, Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
Wa may yattaqillāha yaj‘al lahū min amrihī yusrā.
Artinya: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan dalam urusannya.
”Baca juga: Gaji Suami Bukan Tolok Ukur Ketaatan Istri, Ini Penjelasan Muhammadiyah
Ayat ini menunjukkan bahwa kemudahan bukan hanya sesuatu yang diberikan kepada orang lain, tetapi juga menjadi balasan dari Allah bagi hamba yang hidup dalam ketakwaan dan kebajikan.
Ridha Allah tidak hanya diraih melalui ibadah yang bersifat individual, tetapi juga melalui manfaat yang dirasakan orang lain.
Ketika seorang Muslim memilih membantu daripada mempersulit, memberi solusi daripada menambah beban, ia sedang meneladani akhlak Rasulullah SAW.
Karena itu, memudahkan urusan orang lain bukanlah tindakan yang merugikan diri sendiri.
Justru sebaliknya, Islam mengajarkan bahwa setiap kemudahan yang diberikan kepada sesama akan kembali dalam bentuk pertolongan, keberkahan, dan kemudahan dari Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.